FAKTA MANAJEMEN PENDAPATAN SEBAGAI BONUS YANG DIINGINKAN
Nealy (1985) meneliti bahwa manajer mempunyai informasi sampingan tentang pendapatan bersih perusahaannya sebelum menggunakan manajemen pendapatan. Penelitian Nealy merupakan teori akuntansi positif. Dengan melihat lebih dekat akan struktur perencanaan bonus, Nealy menunjukkan tentang bagaimana memprediksi secara spesifik dan mengatasi masalah akan manajer yang belum mengerti tentang manajemen pendapatan.
Penelitian yang dilakukan melahirkan tentang sebuah konsep perusahaan yang menggunakan perencanaan kompetisasi sebagai dasar dari pendapatan bersih saja. Sehingga dinamakan skema bonus dan beserta bagannya.
Sekarang dengan pertimbangan yang insentif untuk mengatur penerimaan pendapatan oleh manajer sebagai pelaku dalam skema, jika pendapatan rendah maka manajer harusinsentif untuk menindak lanjuti penurunan tersebut, yang disebut ‘taking a bath’. Jika tidak ada bonus yang diterima, maka manajer dapat mengadopsi akuntansi dari asuransi untuk menindaklanjuti pendapatan yang diterima. Jika pendapatan berada diantara bonus dan apadaja dapat memotivasi manajer untuk mengadopsi akuntansi asuransi untuk meningkatkan pendapatan.
Bagaimana manajer mengakui pendapatan bersihnya ?
Menggolongkannya ke dalam 2 bagian:
1. Dengan mengontrol beberapa akrual, dimana akrual didefinisikan luas untuk memasukkan bagian dari penghasilan dan beban persediaan dari pendapatan yang tidak dimasukkan dalam aliran kas.
2. Mengubah menjadi akuntansi asuransi
Terdapat 4 macam asumsi mengenai akrual, diantaranya:
1. Amortisasi beban
2. Peningkatan penerimaan pendapatan bersih (piutang dagang bersih)
3. Peningkatan inventaris (persediaan)
4. Pengurangan pembayaran dan liabilitas akrual
Motivasi lain bagi manajemen pendapatan
Motivasi kontrak yang lain
Terdapat 2 cara berfikir yang komplementer yang termasuk manajemen pendapatan dan perspektif kontrak. Pertama, kita dapat berfikir tentang kepuasan yang dilakukan oleh manajer untuk memaksimalkan utilitas yang ada kompensasi yang diberikan dan kontrak debet , politik biaya. Bagaimanapun ini merupakan tendensi yang ingin dapat diharapkan setelah mereka mengontrol motivasi manajemen pendapatan yang lain.
Motivasi politik
Banyak perusahaan yang memiliki visi untuk berpolitik, ini merupakan strategi industry misalnya pada perusahaan minyak yang mempunyai visi untuk memonopoli atau memperluas kekuasaan monopoli perusahaan seperti pada penerbangan dan perusahaan besar.
Motivasi pajak
Pendapatan dari perpajakan merupakan salah satu motivasi dalam manajemen pendapatan. Namun, pajak juga dapat mengurangi keuangan sebagai perbandingan untuk kalkulasi pendapatan pajak dan merupakan salah satu maneuver yang dilakukan perusahaan, akibatnya pajak tidak merupakan factor utama dalam manajemen pendapatan pada umumnya.
Beberapa teori memastikan dapat diterapkan dan memprediksi asuransi inventaris perusahaan. Ini menunjukkan kalau penghematan pajak merupakan factor yang sangat penting, selanjutnya terdapat beberapa metode lain yang tidak berhubungan langsung dengan arus kas, seperti pada manajemen pendapatan dan laporan keuangan asuransi.
Perubahan CEO
Sebuah varietas pendapatan manajemen untuk meningkatkan pola CEO. Motivasi ini memotivasikannya pada CEO terbaru jika terdapat 3 variabel yang diutarakan mMZ dalam mengperasikan perusahaannya dan piutang yang berperan efektif dalam peningkatan pendapatan. Hal tersebut sangat potensial untuk penentuan harga pada perusahaan sampai terjadi persaingan yang kompetitif di masa yang akan dating
Initial Publik Offerings
Sesuai definisinya, perusahaan menggunakan IPO dengan tidak berpatokan dengan harga pasti. Hal ini memungkinkan manajer untuk mengembangkan pengaturan laporan pendapatan seperti tujuan mereka untuk mendapatkan harga yang tinggi. Sejak perusahaan menggunakan IPO biasanya mengalami peningkatan sehingga sangat sulit untuk menerapkan system akrual, karena perkembangannya sendiri merupakan peningkatan secara akrual seperti inventaris dan sebagainya.
Memberikan informasi kepada investor.
Manajemen pendapatan menggunakan komunikasi informasi dengan para investor yan sangat efisien untuk jaminan teori pasar. Selanjutnya, kita sebagian besar menggunakan efisien pasar untuk public sebagai suatu informasi. Jika manajemen pendapatan dapat menyediakan informasi sampingan merupakan kegiatan actual sebagai informasi laporan keuangan. Sekarang, manajemen ini menggunakan informasi yang bagus sebagai prospek pendapatan di masa yang akan datang. Akibatnya, penggunaan manajemen pendapatan dapat meningkatkan perbandingan yang searah dengan system informasi.
Pola atau susunan dari manajemen pendapatan.
a) Taking a bath.
Tempat ini dapat diperlukan selama periode dari organisasi yang tertekan atau seorganisasi sampai dengan penyewaan dna dari CEO. Jika sebuah perusahaan harus melaporkan kerugian, mungkin manajemen merasa terpaksa untuk melaporkan satu laporan yang besar.
b) Income minimization (pendapatan minimal).
Ini adalah serupa dengan taking a bath, tetapi sedikit ekstrim. Seperti sebuah susunan pola yang dipilih oleh political perusahaan selama periode dari keuntungan yang besar.
c) Income maximization (pendapatan maksimal).
Selama kita jumpai dalam study Healy’s manajer boleh menggunakan di dalam sebuah pola atau susunan dari laporan pendapatan bersih yang maksimal untuk mandapatkan bonus asalkan tidak di gunakan untuk menaruhnya diatas sebuah kesanggupan.
d) Income smooting (pendapatan lancar).
Ini boleh jadi susunan sebagian besar pendapatan bunga manajemen. Manajer juga boleh mengurangkan pendapatan lancer yang kemungkinan membahayakan. Terakhir perusahaan juga dapat melaporkan pendapatan bersih lancer untuk tujuan laporan eksternal.
Mengapa manajemen pendapatan berlangsung?
Sebagian besar yang akan merasa pendapatan manajemen adalah “buruk”. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa itu semua berlangsung, bagaimana hal ini mungkin diupayakan jika ini adalah harga suatu biaya terutama sekali tidak mengantisipasi beberapa pendapatan manajemen ketika seorang manajer mengatur kompensasi kontrak di dalam tempat utama.
Sisi baik manajemen pendapatan.
Alasan lain untuk ketahanan pada pengelolaan penambahan pendapatan adalah terdapat sisi “baik” bagi ini. Seperti disebutkan kita dapat memperhatikan sisi baik pengelolaan tambahan pendapatan dari perjanjian dan rekening keuangan secara perspektif.
Untuk melihat mulai hari ini memperhatikan komunikasi di blok Dansky dan Sappington (1987). Secara terus menerus perantara mendapat informasi khusus yang dapat digambarkan melalui pembiayaanuntuk mengkomunikasikan prinsip ini adalah komunikasi yang di blok.
Dalam sebuah konteks laporan pengelolaan tambahan pendapatan dapat dilengkapi melalui komunikasi yang di blok. Ini adalah komuniksi kompleks kepada manajer. Bila manajer sudah diberitahukan mengenai informasi ini, pemberitahuan tidak kredibel, semenjak dewan pengurus atau pasar akan menggambarkan biaya guna menguji pembiayaan.
Feithham dan Ohlson (1996) menunjukkan kondisi dibawah dimana manajer melalui pilihan kebijakan amortisasi (sebuah kebijakan akumulasi) dapat menambahkan dalam informasi mengenai komponen kehendak baik pada nilai perusahaan bagi investor.
Kerja teoritis hanya dipandang menyarankan dalam peranan ekonomi untuk pengelolaan penambahan pendapatan. Bagaimanapun memberikan berbagai motivasi bagi pengelolaan tambahan pendapatan dan kesulitan pada penemuan serta mengartikan akumulasi cirri tersendiri termasuk item yang luar biasa ini adalah sebuah tugas kompleks untuk menentukan hal empiris apakah stock pasar bereaksi bagi pengelolaan pendapatan.
Sisi buruk manajemen pendapatan
Meskipun teori dan petunjuk dari tanggung jawab yang digunakan untuk pendapatan manajemen dari sana juga ditunjukan juga pendapatan manajemen yang buruk dari suatu perjanjian perspektif dapat memberikan kesempatan manajemen dalam bertindak. Keseha manajemen untuk menggunakan pendapatan manajemen untuk memaksimalkan bonus mereka.
Dyo (1988) model pendapatan manajemen dari pasar modal persepktif. Dia mempertimbangkan dua generasi an cari pemegang saham sekarang di masa depan. Pemegang saham sekarang akan menjual saham mereka kepada generasi berikutnya dalam periode yang akan datang. Dia memperlihatkan bahwa manajemen bertindak atas nama pemegang saham sekarang yan mempunyai kemampuan dan pendorong untuk pendapatan manajemen untuk memaksimalkan penerimaan harga penjualan untuk pemegang saham sekarang.
Hanna (1999) membicarakan anatara lain type dari pendapatan. Ini sering ali merekam kelebihan harga barang untuk tidak berulang lagi seperti tulisan menurun dibawah standart test penjualan dan menyediakan untuk penyusunan kembali.
Implikasi untuk akuntan bagaimana adalah untuk tidak menolak pasar efisien, tetapi memberikan kesempatan untuk menjalankan pasar yang lebih besar. Ini mencegah dari previsius penghapusan dimana memperlihatkan secara lengkap, pasar efisien lebih cepat menemukan pendapatan manajemen yang buruk dan menyetujui memberi reaksi.
IMPLIKASI
Dalam hal ini, akan terjadi perekayasaan informasi. Perekayasaan informasi akuntansi adalah proses pemikiran yang logis dan obyektif untuk membangun struktur dan mekanisme pelaporan keuangan dengan tujuan pengalokasian sumber daya ekonomik secara efektif dan efisien. Pengendalian alokasi sumber daya secara automatis dilakukan menurut prinsip akuntansi berterima umum sebagai pedoman dalam pelaporan keuangan, yang sekaligus akan menentukan bentuk, isi, dan susunan laporan keuangan. Perekayasaan informasi akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika kebutuhan bisnis. Informasi akuntansi adalah hasil dari suatu proses tertentu yang sarat dengan berbagai muatan kepentingan dan kebermanfaatannya, sama seperti dinamika perkembangan bisnisnya.
Perekayasaan informasi akuntansi harus dibedakan menurut niat dan tujuan dari pihak yang melakukannya. Jika perekayasaan informasi dilakukan berdasarkan pemikiran yang logis dan obyektif untuk membangun struktur dan mekanisme pelaporan, maka laporan keuangan harus mencerminkan hasil keputusan bisnis yang rasional, dan alokasi sumber daya yang bebas dari kepentingan pribadi dan niat buruk. Akuntan tidak seharusnya mengikuti niat buruk pihak manajemen dengan melakukan perekayasaan laba semu. Jika perekayasaan informasi bertujuan untuk kepentingan pribadi dengan niat buruk seperti untuk tujuan “mengelabuhi, menyesatkan, atau menipu pemakai laporan,” maka niat buruk seperti inilah yang sesungguhnya hukumnya “haram,” dan harus kita buang jauh-jauh.
Minggu, 10 Januari 2010
TREN AKUNTANSI
Adolf J.H. Enthoven (1995) dalam accounting Research Monograph No. 5 dengan judul Mega Accountancy Trends, berdasarkan Mega Trendnya 2000-nya Naisbitt, ia merefleksikan megatrend akuntansi akan menghadapi persoalan sebagai berikut:
1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.
2. Perlunya keterpadauan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.
3. Perlunya mengedintifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang lebih relevan.
Kemudian untuk mengantisipasi tren diatas maka enthoven menganjurkan penyempurnaan infrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi tuntutan tren tersebut.
a. Penyempurnaan sistem pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi.
b. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya.
c. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya.
d. Praktek profesi dan kelembagaan akuntansi.
Trend itu yang dibuat Enthoven ini beranjak dair megatrendnya Naisbitt yaitu:
a. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
b. Dasar pemikiran orang akan beralih dari dari skup jangka pendek ke skup jangka panjang.
c. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industri ke masyarkat informasi.
d. Struktur organisasi akan berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau net working, kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
e. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan kepilihan banyak.
f. Pertumbuhan ekonomi beralih dari dunia bagian utara ke dunia bagian selatan
g. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipasi.
h. Dari bantuan institusi ke bantuan mandiri.
i. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
j. Kekuasaan akan beralih dari sentralisasi ke desentralisasi.
Dari ke-10 shift inilah yang dijadikan dasar enthoven untuk memprediksi pengaruh tren itu kedalam profesi dan bidang ilmu akuntansi.
Beberapa Topik Baru Dalam Akuntansi
Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan bidang akuntansi yang menjadi tren diantaranya adalah:
1. Akuntansi internasional atau akuntansi global.
2. Akuntansi islam.
3. Akuntansi sumber daya manusia.
4. Triple entry accounting system.
5. Employee reporting.
6. Value added reporting.
7. Akuntansi perilaku.
8. Multi diciplines paradigma.
9. Akuntansi dan pembangunan berkelanjutan.
10. Efficiency market hypothesis.
11. Krisis akuntansi
Triple entry accounting system
Kalau dahulu kita mengenal single entry dan double entry maka sekarang kita mengenal triple entry. Dalam sistem ini, transaksi dicatat tiga dimensi. Model ini merupakan pengembangan dari double entry bookeeping system. Dalam model ini bukan saja transaksi yang mempengaruhi pos-pos pada sisi aktiva dan pasiva yang dilaporkan tapi juga force atau power yang menyebabkannya, sehingga laporan neraca misalnya menyajikan WEALTH = CAPITAL = FORCE. Triple entry memiliki force account yang mencatat beberapa faktpr antara lain perubahan harga, perubahan jumlah, atau perubahan volume terhadap arus hasil dan biaya.
Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi kepada pembaca khususnya pihak manajemen dan para pengambil keputusan yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaaan. Triple entry sistem ini juga menjelaskan margin variance, volume variance, dan efficiency variance. Ketiga model ini akan menghasilkan angka yang sama. Bisa juga mencatat aspek nilai daya beli yang dicatat sehingga pembaca dapat informasi tentang daya beli atau dampak inflasi terhadap perusahaan.
Employee Reporting
Employee reporting merupakan bentuk laporan keuangan yang memuat informasi yang relevan bagi karyawan atau serikat pekerja. Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting ini (Purdy dalam belkaoui,1985), adalah sebagai berikut:
a. Tekanan semakin besar akan perlunya full disclosure.
b. Praktek dan masalah yang berkaitan dengan hubungan perburuhan.
c. Munculnya perdebatan tentag demokratis perusahaan.
d. Perkembangan di negara lain akan perlunya informasi dimaksud.
Value Added Reporting
Value Added Reporting (VAR) atau laporan pertambahan nilai berkaitan juga dengan human resources accounting dan employee reorting terutama dalam informasi yang disajikannya. Value added reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan utama, neraca, laba rugi, dan arus kas. Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:
1. Total produktivitas.
2. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikut dalam proses manajemen yaitu: pemegang saham, kreditur, pegawai dan pemerintah (Belkoui, 1995).
VAR berusaha untuk mengisi kekurangan ini ditambah dengan memberikan informasi tentang kompensasi yang diberikan kepada pegawai yang dapat digunakan baik oleh pegawai maupun mereka yang berkepentingan lainnya terhadap informasi kegiatan SDM dan prestasi perusahaan .
Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan. Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang saham saja bukan seluruh tim yang terlibat dalam kepentingan perusahaan.
Akuntansi Perilaku
Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari informasi akuntasi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyikapinya. Dampak perilaku dari sistem pengawasan, dampak sistem budget terhadap perilaku, dampak sistem desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan, dampak sistem responsibility accounting terhadap perilaku, dan sebagainya. Siegel, ramanauskas, dan markoni (1989) membaginya atas tiga bagian besar:
1. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain, konstruksi, dan penggunaan sistem akuntasi.
2. Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia.
3. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.
Multidicipline Paradigma
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin munculnya paradigma baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Fenomena ini juga melanda akuntansi.
Akuntansi sebagai sutau sistem informasi membuthkan komputer, information science, dan decision sience. Akhirnya, muncullah ilmu baru seperti decision sience yang sumber formula dan elemen-elemennya berasal dari berbagai ilmu tadi. Decision sience ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan sudah menjadi salah satu jurusan terpopuler di College Of Bussiness. Fenomena ini disebut multidicipline paradigma.
Akuntansi Dan Pembangunan Berkelanjtuan
Dilaksanakannya “Earth Summit” mengingatkan kita pada isu yang sama yang diajukan oleh club of rome tahun 1975 yang lalu yaitu konsep Limit To Growth atau sering juga disebut Zero Growth. Club ini menganggap bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai faktor yang harus direm perkembangan penduduk, investasi, konsumsi sumber alam, industri, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian, kehutanan. Perlunya alat ukur untuk memudahkan para pengambil keputusan dalam memanaj masalah pembangunan, lingkungan dan aspek sosial ekonominya.
Efficiency Market Hypothesis
Dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (Efficiency Market Hypotesis) teori EMH ini menyatakan bahwa “pasar akan menyesuaikan diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai saham”. Dalam bahasa penelitian bidang penelitian yang menyangkut soal ini adalah positive accounting theory. Dalam teori ini yang dibahas bukan bagaimana mencatat transaksi, tetapi menyangkut:
a. Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada publik dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indikator harga saham di bursa.
b. Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.
Fama (1969) menyatakan bahwa da beberapa syarat unutk menciptakan pasar yang efisiensi adalah sebagai berikut:
a. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham.
b. Semua informasi tersedia secara cuma-cuma bagi semua peserta pasar.
c. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga sekarang dan distribusi harga masa yang aka datang dari tiap saham.
Menurut fama informasi ada tiga set informasi:
a. Gerakan harga saham masa lalu.
b. Informasi yang tersedia bagi publik.
c. Seluruh informasi baik uang tersedia bagi publik maupun milik perusahaan.
Ketiga set informasi diatas dapat mempengaruhi harga saham sebagai berikut:
a. Bentuk lemah (weak form) dari efisiensi pasar.
b. Bentuk semi kuat (semistrong) dimana harga saham secara penuh merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada publik termasuk harga saham dimasa lalu.
c. Bentuk kuat (strongform) dimana harga saham merupakan gambaran dari seluruh informasi yang ada baik informasi harga saham yang lalu, informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya seperti informasi lainnya seperti informasi dari dalam dan informasipribadi lainnya.
Krisis Akuntansi Masa Depan
Krisis akuntansi menurut Lev
Akuntan bukan a good eyesight. Lensa lama tidak akan bisa melihat situasi ekonomi baru. Apalagi jika ingin melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tiddak berwujud seperti: ide, merk, cara kerja, goodwill, franchises. Pegawai tidak mengetahui secara akurat berapa sebenarnya kontribusi mereka terhadap perusahaan. Saat ini perusahaan banyak melakukan proyek penelitian untuk pengembangan intangible asset dan akuntansi belum memberikan respon yang baik. Karenanya perlu pemikiran kembali terhadap prinsip akuntansi dan keuangan.
Peringatan Belkaoui
Pada tahun 1989 Belkoui menulis buku yang berjudul The Coming Crisis in Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari:
a. Profesi akuntan.
b. Kecurangan dalam lingkungan akuntansi.
c. Menurunnya work loaad dalam profesi akuntansi.
d. Iklim organisasi di kantor akuntansi.
e. Problema produksi ilmu pengetahuan.
1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.
2. Perlunya keterpadauan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.
3. Perlunya mengedintifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang lebih relevan.
Kemudian untuk mengantisipasi tren diatas maka enthoven menganjurkan penyempurnaan infrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi tuntutan tren tersebut.
a. Penyempurnaan sistem pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi.
b. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya.
c. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya.
d. Praktek profesi dan kelembagaan akuntansi.
Trend itu yang dibuat Enthoven ini beranjak dair megatrendnya Naisbitt yaitu:
a. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
b. Dasar pemikiran orang akan beralih dari dari skup jangka pendek ke skup jangka panjang.
c. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industri ke masyarkat informasi.
d. Struktur organisasi akan berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau net working, kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
e. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan kepilihan banyak.
f. Pertumbuhan ekonomi beralih dari dunia bagian utara ke dunia bagian selatan
g. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipasi.
h. Dari bantuan institusi ke bantuan mandiri.
i. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
j. Kekuasaan akan beralih dari sentralisasi ke desentralisasi.
Dari ke-10 shift inilah yang dijadikan dasar enthoven untuk memprediksi pengaruh tren itu kedalam profesi dan bidang ilmu akuntansi.
Beberapa Topik Baru Dalam Akuntansi
Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan bidang akuntansi yang menjadi tren diantaranya adalah:
1. Akuntansi internasional atau akuntansi global.
2. Akuntansi islam.
3. Akuntansi sumber daya manusia.
4. Triple entry accounting system.
5. Employee reporting.
6. Value added reporting.
7. Akuntansi perilaku.
8. Multi diciplines paradigma.
9. Akuntansi dan pembangunan berkelanjutan.
10. Efficiency market hypothesis.
11. Krisis akuntansi
Triple entry accounting system
Kalau dahulu kita mengenal single entry dan double entry maka sekarang kita mengenal triple entry. Dalam sistem ini, transaksi dicatat tiga dimensi. Model ini merupakan pengembangan dari double entry bookeeping system. Dalam model ini bukan saja transaksi yang mempengaruhi pos-pos pada sisi aktiva dan pasiva yang dilaporkan tapi juga force atau power yang menyebabkannya, sehingga laporan neraca misalnya menyajikan WEALTH = CAPITAL = FORCE. Triple entry memiliki force account yang mencatat beberapa faktpr antara lain perubahan harga, perubahan jumlah, atau perubahan volume terhadap arus hasil dan biaya.
Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi kepada pembaca khususnya pihak manajemen dan para pengambil keputusan yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaaan. Triple entry sistem ini juga menjelaskan margin variance, volume variance, dan efficiency variance. Ketiga model ini akan menghasilkan angka yang sama. Bisa juga mencatat aspek nilai daya beli yang dicatat sehingga pembaca dapat informasi tentang daya beli atau dampak inflasi terhadap perusahaan.
Employee Reporting
Employee reporting merupakan bentuk laporan keuangan yang memuat informasi yang relevan bagi karyawan atau serikat pekerja. Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting ini (Purdy dalam belkaoui,1985), adalah sebagai berikut:
a. Tekanan semakin besar akan perlunya full disclosure.
b. Praktek dan masalah yang berkaitan dengan hubungan perburuhan.
c. Munculnya perdebatan tentag demokratis perusahaan.
d. Perkembangan di negara lain akan perlunya informasi dimaksud.
Value Added Reporting
Value Added Reporting (VAR) atau laporan pertambahan nilai berkaitan juga dengan human resources accounting dan employee reorting terutama dalam informasi yang disajikannya. Value added reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan utama, neraca, laba rugi, dan arus kas. Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:
1. Total produktivitas.
2. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikut dalam proses manajemen yaitu: pemegang saham, kreditur, pegawai dan pemerintah (Belkoui, 1995).
VAR berusaha untuk mengisi kekurangan ini ditambah dengan memberikan informasi tentang kompensasi yang diberikan kepada pegawai yang dapat digunakan baik oleh pegawai maupun mereka yang berkepentingan lainnya terhadap informasi kegiatan SDM dan prestasi perusahaan .
Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan. Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang saham saja bukan seluruh tim yang terlibat dalam kepentingan perusahaan.
Akuntansi Perilaku
Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari informasi akuntasi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyikapinya. Dampak perilaku dari sistem pengawasan, dampak sistem budget terhadap perilaku, dampak sistem desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan, dampak sistem responsibility accounting terhadap perilaku, dan sebagainya. Siegel, ramanauskas, dan markoni (1989) membaginya atas tiga bagian besar:
1. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain, konstruksi, dan penggunaan sistem akuntasi.
2. Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia.
3. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.
Multidicipline Paradigma
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin munculnya paradigma baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Fenomena ini juga melanda akuntansi.
Akuntansi sebagai sutau sistem informasi membuthkan komputer, information science, dan decision sience. Akhirnya, muncullah ilmu baru seperti decision sience yang sumber formula dan elemen-elemennya berasal dari berbagai ilmu tadi. Decision sience ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan sudah menjadi salah satu jurusan terpopuler di College Of Bussiness. Fenomena ini disebut multidicipline paradigma.
Akuntansi Dan Pembangunan Berkelanjtuan
Dilaksanakannya “Earth Summit” mengingatkan kita pada isu yang sama yang diajukan oleh club of rome tahun 1975 yang lalu yaitu konsep Limit To Growth atau sering juga disebut Zero Growth. Club ini menganggap bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai faktor yang harus direm perkembangan penduduk, investasi, konsumsi sumber alam, industri, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian, kehutanan. Perlunya alat ukur untuk memudahkan para pengambil keputusan dalam memanaj masalah pembangunan, lingkungan dan aspek sosial ekonominya.
Efficiency Market Hypothesis
Dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (Efficiency Market Hypotesis) teori EMH ini menyatakan bahwa “pasar akan menyesuaikan diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai saham”. Dalam bahasa penelitian bidang penelitian yang menyangkut soal ini adalah positive accounting theory. Dalam teori ini yang dibahas bukan bagaimana mencatat transaksi, tetapi menyangkut:
a. Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada publik dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indikator harga saham di bursa.
b. Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.
Fama (1969) menyatakan bahwa da beberapa syarat unutk menciptakan pasar yang efisiensi adalah sebagai berikut:
a. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham.
b. Semua informasi tersedia secara cuma-cuma bagi semua peserta pasar.
c. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga sekarang dan distribusi harga masa yang aka datang dari tiap saham.
Menurut fama informasi ada tiga set informasi:
a. Gerakan harga saham masa lalu.
b. Informasi yang tersedia bagi publik.
c. Seluruh informasi baik uang tersedia bagi publik maupun milik perusahaan.
Ketiga set informasi diatas dapat mempengaruhi harga saham sebagai berikut:
a. Bentuk lemah (weak form) dari efisiensi pasar.
b. Bentuk semi kuat (semistrong) dimana harga saham secara penuh merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada publik termasuk harga saham dimasa lalu.
c. Bentuk kuat (strongform) dimana harga saham merupakan gambaran dari seluruh informasi yang ada baik informasi harga saham yang lalu, informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya seperti informasi lainnya seperti informasi dari dalam dan informasipribadi lainnya.
Krisis Akuntansi Masa Depan
Krisis akuntansi menurut Lev
Akuntan bukan a good eyesight. Lensa lama tidak akan bisa melihat situasi ekonomi baru. Apalagi jika ingin melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tiddak berwujud seperti: ide, merk, cara kerja, goodwill, franchises. Pegawai tidak mengetahui secara akurat berapa sebenarnya kontribusi mereka terhadap perusahaan. Saat ini perusahaan banyak melakukan proyek penelitian untuk pengembangan intangible asset dan akuntansi belum memberikan respon yang baik. Karenanya perlu pemikiran kembali terhadap prinsip akuntansi dan keuangan.
Peringatan Belkaoui
Pada tahun 1989 Belkoui menulis buku yang berjudul The Coming Crisis in Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari:
a. Profesi akuntan.
b. Kecurangan dalam lingkungan akuntansi.
c. Menurunnya work loaad dalam profesi akuntansi.
d. Iklim organisasi di kantor akuntansi.
e. Problema produksi ilmu pengetahuan.
Kamis, 07 Januari 2010
spm dewi
Philips Lighting Surabaya memiliki misi dan visi yaitu: misinya memuaskan para pelanggan akan kebutuhan dan keinginan mereka dengan memberikan produk perlampuan dan pelayanan terkait yang unggul, berfokus secara khusus pada kualitas, kecepatan dan biaya yang bersaing, di dalam lingkungan yang aman, sehat, mempunyai rasa keterkaitan yang kuat dan langgeng dalam rangka memperbaiki kualitas hidup orang banyak. Sedangkan visinya yaitu untuk menjadi sebuah organisasi industri perlampauan kelas dunia yang diakui oleh pelanggan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, sebagai: mitra kerja terbaik untuk melakukan usaha, perusahaan terbaik untuk bekerja dan berinvestasi, warga negara yang bertanggung jawab akan peran sertanya di dalam kehidupan masyarakat luas yang langgeng, dibawah kerangka kerja DELIGHT dan BEST.
Kebijakan Industri Philips Lighting Surabaya yaitu menjadikan pabrik indusri perlampuan kelas dunia sebagai panutan untuk yang lain,yang ditunjuk dengan: mutu; biaya; pengiriman; keselamatan,kesehatanlingkungan dan langgeng ; moral. Adapun nilai-nilai yang ditanamkan pada Philips Lighting Surabaya yaitu dahulukan kepuasan pelanggan, dapatkan hasil yang hebat, doronglah pengembangan sumber daya manusia, dukunglah satu sama lain.
Kebijakan Industri Philips Lighting Surabaya yaitu menjadikan pabrik indusri perlampuan kelas dunia sebagai panutan untuk yang lain,yang ditunjuk dengan: mutu; biaya; pengiriman; keselamatan,kesehatanlingkungan dan langgeng ; moral. Adapun nilai-nilai yang ditanamkan pada Philips Lighting Surabaya yaitu dahulukan kepuasan pelanggan, dapatkan hasil yang hebat, doronglah pengembangan sumber daya manusia, dukunglah satu sama lain.
spm
Pada era globalisasi ekonomi sekarang ini, perusahaan memasuki lingkungan bisnis yang sangat berbeda dengan lingkungan bisnis sebelumnya. Pasar tidak lagi hanya dimasuki oleh pesaing-pesaing domestik, namun telah didatangi oleh pesaing-pesaing mancanegara yang membawa produk dan jasa yang sarat dengan kandungan persaingan. Selain membawa perubahan yang kita secara nilai secara postif, globalisasi ekonomi ternyata membawa permasalahan yaitu perusahaan-perusahaan yang tidak mempunyai struktur sistem pengendalian manajemen yang baik akan tersisih, banyak sistem manajemen perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan arus perubahan dalam globalisasi ekonomi.
Sistem pengendalian manajemen pada dasarnya suatu sistem yang digunakan oleh manajemen untuk membangun masa depan organisasi. untuk membangun masa depan organisasi, perlu ditentukan lebih dahulu dalam bisnis apa organisasi akan berusaha. Jabawan atas pertanyaan tersebut merupakan misi organisasi dengan demikian misi organisasi merupakan the chosen track untuk membawa organisasi mewujudkan masa depannya. Diharapkan dengan dilaksanakannnya struktur sistem manajemen akan tercipta visi dan misi organisasi perusahaan kemudian mengimplementasikannya.
Permasalahan yang timbul dalam implementasi struktur sistem pengendalian manajemen yang dapat diidentifikasikan sekarang ini adalah terletak pada kelemahan struktur dan kelemahan proses. Sistem pengendalian manajemen tidak dapat mewujudkan tujuan sistem kemungkinan karena strukturnya tidak pas dengan lingkungan yang dihadapi perusahaan, dapat juga terjadi tujuan sistem pengendalian manajemen tidak tercapai karena proses sistem pengendalian manajemennya lemah.
Makalah ini mencoba memberikan paparan deskriptif tentang mata kuliah SPM dengan praktek lapangan di perusahaan PHILIPS Lighting Surabaya. Telah kita ketahui bahwa Philips Lighting Surabaya adalah produsen terbesar di pasar perlampuan Indonesia. Philips mengerti bahwa pencahayaan yang baik menghasilkan kerja yang baik pula. Lingkungan dan suasana yang nyaman untuk bekerja akan meningkatkan cara kerja dalam segi kualitas serta mutunya. Untuk itu peranan pencahayaan sangatlah penting. Dan saya sebagai penulis yakin bahwa dalam perusahaan ini juga tertanam sistem– sistem perencanaan dan pengendalian manajemen yang handal yang mencakup beberapa hal tentang nilai dasar dan keyakinan dasar dan lain sebagainya di dalam lingkungan bisnisnya.
2. PROFIL PERUSAHAAN
PHILIPS LIGHTING SURABAYA
Royal Philips Electronics dari Belanda adalah pemimpin global di bidang kesehatan, lighting, dan gaya hidup konsumen, layanan yang people-centric, produk inovatif, pelayanan dan memberikan melalui brand promise, yaitu “Sense and Simplicity”. Philips berkantor pusat di Belanda dengan jumlah karyawan sebanyak 134,200 orang di lebih dari 60 negara di dunia. Dengan penjualan sebesar EUR 27 miliar di tahun 2007, perusahaan ini merupakan pemimpin di pasar gambar diagnosa medis (medical diagnostic imaging) dan sistem monitoring pasien (patient monitoring system), solusi lampu hemat energi, termasuk juga solusi gaya hidup untuk kesejahteraan personal. Fungsi pencahayaan untuk menerangi fasilitas yang ada serta pada tempat bekerja yang memberikan sudut pandang penglihatan yangbaik dengan arti lainnya pencahayaan memberikan keselamatan dalam bekerja, mengurangi rasa lelah yang bisa mengakibatkan kecelakaan, mengurangi tindakan kesalahan yang mengakibatkan cacat produksi serta meningkatkan produktifitas.Sebagai tambahan pencahayaan memberikan rasa bangga terhadap lingkungan tempat bekerja.
Untuk menghasilkan kualitas yang tinggi, pencahayaan sangatlah penting perananannya dalam membantu meningkatkan produktifitas. Pencahayaan yang baik berarti cukup sinar yang dibutuhkan pada tempat kerja termasuk pada penyebaran cahaya yang merata dan kemanpuan cahaya untuk merenderasi warna disamping itu tidak menimbulkan silau.
Pada tahun 1940, pabrik lampu Philips didirikan di Surabaya. Philips Indonesia hadir untuk melayani pasar lokal, menginformasikan dan mempromosikan produk dan layanan serta menyediakan dukungan logistic bagi para distributor resmi. Philips Lighting merupakan fondasi yang menjadikan salah-satu perusahaan elektronika terbesar dunia diletakkan pada tahun 1891 ketika Gerard Philips mendirikan perusahaan di Eindhoven
Philips merupakan produsen terbesar di pasar perlampuan Indonesia . Hal ini cukup masuk akal mengingat Philips sudah masuk ke dalam pasar perlampuan Indonesia sejak tahun 1920 artinya Philips sudah berbisnis perlampuan untuk hampir 90 tahun di Indonesia dan saat ini sudah menjadi nomor 1 dengan menguasai pangsa pasar Indonesia lebih dari 45 % , selain hal tersebut diatas Philips juga sangat dikenal sebagai Trend setter dan Innovator didalam teknologi perlampuan.
Bisnis perlampuan Philips lighting di Indonesia dimulai di tahun 1941 dengan dibangunnya pabrik lampu pertamanya di Surabaya dengan nama N.V. Philips Fabricage & Handle Maatschappij dan pabrik tersebut saat ini sudah berkembang menjadi salah satu pabrik terbaik didunia yang dimiliki oleh Philips Lighting dengan diperolehnya PBE Gold medal award untuk tahun 2004 & 2005. 80% hasil produk pabrik ini di ekspor ke lebih dari 80 negara di Asia Pacific ,USA , Canada,Eropa dan Amerika Latin.
Sejak pelaku bisnis SPBU ( Pompa Bensin ) asing memasuki pasar Indonesia , Philips Lighting telah ikut berperan dalam pembentukan gaya dan tampilan SPBU yang baru melalui penyediaan rumah lampu berkualitas tinggi untuk sarana SPBU yang disebut Mini 300.
Banyak produk produk inovasi Philips yang telah diperkenalkan ke pasar Indonesia dengan kelebihan kelebihan seperti lebih hemat energi, lebih kompak, berumur lebih panjang dan lebih ramah lingkungan seperti T5, CDM, LED, Electronics Ballast dan masih banyak lagi yang akan ikut mempengaruhi Tren desain perlampuan di Indonesia.
Pabrik Lampu Philips Surabaya Menerima Penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
PT Philips Indonesia dengan bangga mengumumkan bahwa hari ini Pabrik Lampu Philips Surabaya dianugerahi Zero Accident Award untuk pertama kalinya yang oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Pabrik Lampu Philips Surabaya mendapatkan penghargaan tersebut setelah berhasil mencapai lebih dari enam juta jam kerja orang tanpa terjadi kecelakaan. Ini adalah pertama kalinya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Pabrik Lampu Philips Surabaya mendapatkan Zero Accident Award.
Prestasi ini adalah hasil dari kerja keras dan kerjasama antara tim manajemen dan karyawan yang mendukung implementasi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja. Sedangkan khusus untuk audit Zero Accident dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja.
Audit Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dilakukan oleh Sucofindo - sebuah badan audit independen yang ditunjuk oleh Departemen Ketenagakerjaan - untuk mengukur tingkat pencapaian implementasi dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Audit didasarkan pada Peraturan Departemen Ketenagakerjaan nomor Per 05/Men/1996. Sucofindo melakukan audit SMK3 untuk kedua kalinya terhadap Pabrik Lampu Philips Surabaya yang mencapai angka 97 persen dan dianugerahi dengan Sertifikat Bendera Emas. Angka ini berada jauh di atas standar angka sertifikat emas pada umumnya yaitu 85 persen.
Selain keberhasilan ini, Pabrik Lampu Philips Surabaya diakui sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan Sertikat OHSAS 18001 versi 2007 yang secara Internasional mulai diperkenalkan pada bulan Juli 2007.
Komitmen perusahaan tetap tinggi, yakni bagaimana kami bisa berpartisipasi aktif mengurangi pemanasan global. Oleh karena itu, perusahaan ini terus mengembangkan teknologi dan inovasi, agar menghasilkan produk yang bisa didaur ulang. Dengan demikian, saat produk tersebut sudah tidak berfungsi dan dibuang ke lingkungan, tidak berdampak buruk.
BISNIS PHILIPS MENDUNIA KARENA KOMITMEN PADA LINGKUNGAN
Komitmen itu pula yang mengantar bisnis Philips merambah dunia. Acuannya terhadap lingkungan pun jelas. Tahun 1970 Philips berpartisipasi dalam Club of Rome.
"Tahun 1994 kami membuat program The Environmental Opportunity. Tahun 1998, Philips berhasil menyabet International Corporate Environmental Achievement dan memperkenalkan program Ecovision yang pertama di dunia," kata Rob.
Hal yang perlu digarisbawahi, kata dia, adalah Philips mengambil berbagai inisiatif untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi gas buang CO>sub<2>res<>res<. Sejak tahun 1970, Dewan Direksi Philips telah memformulasikan beberapa program yang berkaitan dengan lingkungan.
Melalui target yang jelas terhadap produk dan proses, program ini telah membantu Philips untuk melakukan perbaikan yang terus-menerus. Pada tahun 2006 kapasitas produksi gelas Philips naik 27 persen dibandingkan dengan total produksi tahun 2005. Hal itu yang membuat semua pekerja Philips, yang dikenal pekerja keras, disiplin, dan berdedikasi tinggi, bangga. Dalam arti, kendati ada kenaikan pasar, penggunaan energi secara spesifik (giga joule/1.000 output) mengalami penurunan sebesar 16 persen. Demikian juga dalam hal menekan emisi CO>sub<2>res<>res<. Pada tahun itu emisi CO>sub<2>res<>res< per kilogram mengalami penurunan sebesar 14 persen. Semua ini hasil positif dari program Ecovision.
Wajar apabila Philips pun berbangga. Namun, yang lebih bangga adalah para green belt ataupun semut pekerja PT Philips Lighting Surabaya. Mereka tak hanya membuat industri lampu Philips di Surabaya masuk tataran world class company, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi dan perbaikan lingkungan bagi dunia.
Saat ini Royal Philips Electronic Belanda adalah pemimpin global di bidang produk elektronik kesehatan, gaya hidup, dan teknologi. Philips bermarkas di Belanda dengan total 124.300 pekerja di lebih dari 60 negara di dunia. Tahun 2006 total penjualannya 27 miliar euro.
Saat ini Philips memiliki beberapa sektor bisnis sebagai berikut:
Healthcare, termasuk di dalamnya sistem medis yang professional dan perlengkapan kesehatan personal.
Lighting, termasuk di dalamnya pabrik lampu, komponen dan sistem pencahayaan profesional, serta Solusi Pencahayaan personal.
Consumer Lifestyle, termasuk di dalamnya Consumer electronics, domestic appliances, dan personal care.
Philips menduduki posisi No. 1 untuk pasar lighting di dunia, kemapanan ini didukung oleh kombinasi kepemimpinan dalam berinovasi dan pendekatan sistematis untuk menemukan peluang pasar baru.
Ambisi kami adalah meletakan fondasi dalam industri lighting sebagai pilihan utama mitra inovatif dalam menyediakan solusi pencahayaan yang kreatif dan terjangkau.Produk Kami dapat ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya hampir diseluruh sudut rumah, tetapi juga dalam hampir seluruh aplikasi professional, misalnya: 30 persen dari bagunan-bangunan komersial seperti gedung perkantoran , Rumah sakit dan bangunan-bangunan yang telah menjadi identitas dari suatu kota / negara , 65 persen pada bandara-bandara top dunia , 35 persen mobil, dan 55 persen stadion sepakbola utama dunia seperti 7 dari 10 stadion yang digunakan pada piala dunia sepakbola 2002 di Jepang/Korea dan 8 dari 12 stadion yang digunakan pada piala dunia sepak bola 2006 di Jerman dan pada even even dunia lainnya . Produk-produk ini meliputi jenis lampu pijar maupun halogen, neon kompak, lampu gas discharge intensitas tinggi maupun lampu khusus, luminaires (rumah lampu), ballast, komponen elektronik, dan lampu mobil.
Philips Lighting mempekerjakan sekitar 44.000 orang di berbagai lokasi manufaktur di seluruh dunia.Di Asia Pasifik, kami hadir di hampir semua negara dengan organisasi penjualan dan/atau pabrik, yakni Australia, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Taiwan, Thailand, Singapura, Korea Selatan dan Vietnam.
Beberapa pesta olah raga yang dimeriahkan oleh Philips Lighting ;
Piala Dunia 2006 - Jerman
Olimpiade 2004 - Athena
PON XVI 2004 Palembang - Indonesia
Piala Dunia 2002 - Korea/Jepang
Olimpiade 2000 Sydney Australia - Opera House, International Athletic Centre, International Aquatic Center,State Hockey Centre, Superdome.
Berbagai tempat terkenal yang diterangi oleh Philips Lighting di Asia Pasifik:
Jembatan ANZAC di Australia
Jembatan Nanpu di Cina
Medan Times Shanghai di Cina
Jalan Raya Yan'an Shanghai di Cina
Menara Pengawas Bandara Chek Lap Kok di Hong Kong
Jembatan Tsing Ma di Hong Kong
Kereta Api Transit Massa (MTR) di Hong Kong
Jembatan Sungai Dinding di Malaysia
Istana Maharaja di Coach Behar di India
Studio Film di India
Arena Balap Kranji di Singapura
Revenue House (Wisma Pendapatan) di Singapura
Patung Raja Rama V dan Istana Dusit di Thailand
Istana Kerajaan di Thailand
3. PEMBAHASAN DENGAN SISTEM PENGENDALIAN DAN PERENCANAAN MANAJEMEN
Dari hasil pengamatan dengan diadakannya company visit ke Philips Lighting Surabaya, dapat dilihat bahwa perusahaan ini telah mengaplikasikan ilmu Sistem Pengendalian Manajemen ke dalam system kinerja perusahaan. Philips Lighting Surabaya juga memiliki Human Resourve Leverage, yaitu adalah dengan melepaskan seluruh potensi sumber daya manusia organisasi dan untuk mengerahkan dan memfokuskan potensi tersebut kepencapaian visi organisasi.
Pendesainan struktur sistem pengendalian manajemen merupakan cara pengkomunikasian melalui operational behavior yaitu suatu cara pengkomunikasian paradigma keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi melalui peraturan, sistem dan prosedur serta keputusan resmi yang dibuat. Struktur sistem pengendalian manajemen didesain untuk mengkomunikasikan costumer, value, mindset, continuous improvement mindset, opportunity mindset, cross – functional mindset dan employee empowerment minset melalui struktur organisasi, jejaring informasi dan sistem penghargaan.
Continuous Improvement Mindset
Improvement berkelanjutan adalah usaha peningkatan di segala bidang dalam jangka panjang. Usaha tersebut perlu dilandasi oleh mindset yang semestinya, sehingga unsure berkelanjutannya dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Dalam Continuius improvement mindset terdapat keyakinan dasar dan nilai dasar. Keyakinan dasar itu sendiri meliputi :
1. kita harus mengetahui fakta
2. alasan dan belajar
3. selalu ada cara yang lebih baik
4. kita harus selalu berusaha untuk sempurna
Sedangkan pada nilai dasar meliputi :
1. kejujuran
2. kerendahan hati
3. kerja keras
4. kesabaran
5. keterbukaan
6. keberanian.
Dalam Philips Lighting Surabaya, Sumber Daya Manusia sebagai salah satu unsur dalam proses produksi, disamping dituntut untuk senantiasa meningkatkan kemampuan diri juga diharapkan mewaspadai pemanfaatan unsur lainnya berupa peralatan kerja yang dianggap canggih dan modern. Oleh karena itu, penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan industri sangat diperlukan. Jika karyawan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan pekerjaannya, maka dapat meningkatkan semangat kerja karyawan serta dapat mencapai produktivitas yang tinggi. Dan yang terpenting :
1.Perumusan Misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi secara jelas.
2.Pengkomunikasian misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi kepada personel perusahaan melalui personal behaviors para leaders organisasi dan operational behavior.
Melalui proses internalisasi, misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi dapat tertanam di dalam diri seluruh personel menjadi shared mission, shared vision, shared beliefs dan shared values.Shared mission, shared vision, shared belief dan shared values menjadikan karyawan berdaya untuk mengendalikan perilakunya sesuai dengan yang diharapkan di dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Opportunity mindset
Yakni kondisi yang terbuka di masa depan yang belum pernah dialami seseorang atau organisasi yang berbeda dengan yang pernah dialami sebelumnya dan yang mengandug ketidakpastian.
Sistem pengendalian manajemen juga menyediakan berbagai sistem untuk melaksanakan proses perencanaan dan implementasi rencana. Melalaui sistem pengendalian manajemen, keseluruhan kegiatan utama untuk menjadikan perusahaan sebagai institusi pencipta kekayaan dapat dilaksanakan secara terstruktur, terkoordinasi, terjadwal dan terpadu sehingga menjanjikan tercapainya tujuan perusahaan-perusahaan bertambahnya kekayaan dalam jumlah yang memadai.
Sistem pengendalian manajemen pada dasarnya suatu sistem yang digunakan oleh manajemen untuk membangun masa depan organisasi. untuk membangun masa depan organisasi, perlu ditentukan lebih dahulu dalam bisnis apa organisasi akan berusaha.
Employee Empowerment
Pemberdayaan karyawan berarti memampukan dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk merencanakan, mengimplementasikan rencana pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kelompoknya. Pemberdayaan karyawan (employee empowerment) merupakan trend pengelolaan sumber daya manusia di dalam organisasi masa depan. Pemberdayaan karyawan dilakukan di dalam orgainsasi perusahaan dengan fokus ke penyediaan produk dan jasa bagi customers. Untuk kepuasan customer-lah pada dasarnya pemberdayaaan karyawan ini ditujukan.
Suatu sistem yang digunakan untuk mendistribusikan penghargaan kepada personel organisasi. pada wakru organisasi hirarkis fungsional digunakan oleh perusahaan untuk menghadapi lingkungan bisnis yang stabil, penghargaan, didistribusikan, ke manajemen puncak, karena merekalah yang menjalankan bisnis perusahaan. Pada waktu lingkungan bisnis berubah menjadi turbulen, manajemen puncak tidak lagi mampu menjalankan sendiri seluruh bisnis perusahaan.
Beban tanggung jawab untuk menjalankan bisnis perusahaan perlu didistribusikan kepada manajemen bawah dan karyawan. Timbullah kebutuhan perlu mendistribusikan kepada manajemen bawah dan karyawan. Timbullah kebutuhan untuk memberdayakna karyawan guna membangun responsibility – based organizarion, suatu organisasi yang seluruh personelnya (manajemen dan karyawan) bertanggung jawab atas bisnis perusahaan.
Cross Functional Mindset
Cross-functional mindset merupakan mindset yang cocok dalam mewujudkan sistem pengendalian manajemen untuk menghadapi lingkungan bisnis global. Tim lintas fungsional hanya akan efektif di dalam menjalankan organisasi lintas fungsional jika mereka memiliki mindset yang cocok dengan organissai tersebut. Proses untuk menghasilkan produk dan jasa menembus batas-batas antar fungsi. Dengan demikian manajemen atas aktivitas pembuatan produk dan jasa penyediaan jasa hanya akan berhasil jika batas-batas antarfungsi ditiadakan, baik secra fisik maupun secara mental.
Paradigma Lintas Fungsional
Paradigma lintas fungsional memandang organisasi sebagai:
1. Suatu rangkaian system yang digunkan untuk melayani kebutuhan customer
2. Suatu kumpulan shared competencies and resources yang disediakan untuk dimobilisasi guna memenuhi kebutuhan customer.
Sistem Penghargaan Berbasis Kinerja
Setelah kinerja dan peran untuk mewujudkan kinerja ditetapkan, serta kompetensi inti untuk mewujudkan peran ditentukan, langkah selanjutnya dalam pengelolaan kinerja
terpadu adalah mendesain sistem penghargaan berbasis kinerja dengan dua tujuan:
(1) untuk meningkatkan kepastian bagi personel bahwa kinerja mereka akan diberi
penghargaan,
(2) untuk meningkatkan kepuasan personel terhadap penghargaan sehingga meningkatkan nilai penghargaan bagi personel.
Kepastian suatu kinerja diberi penghargaan dan tingginya nilai penghargaan bagi personel inilah yang menjadi pemacu usaha personel dalam menggunakan kompetensi inti melalui peran mereka untuk menghasilkan kinerja. Sistem penghargaan didesain melalui empat langkah berikut ini:
1. Menetapkan bobot (weight) untuk setiap perspektif yang dicakup sasaran strategik.
2. Menetapkan bobot untuk setiap sasaran strategik dalam setiap perspektif.
3. Menetapkan tipe target yang akan dipakai sebagai basis pendistribusian penghargaan
(threshold, midpoint, dan stretch)
4. Menetapkan penghargaan untuk setiap pencapaian target (threshold, midpoint, dan
stretch) oleh manajer pusat pertanggungjawaban, tim, dan karyawan
Pengukuran dan Penilaian Kinerja
Pengukuran kinerja dilaksanakan dengan mengukur keberhasilan setiap mission center dan service center dalam mencapai sasaran strategik yang tercantum dalam mission center scorecard dan service center scorecard yang bersangkutan. Hasil pengukuran kinerja mission center dan service center kemudian dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam scorecard-nya masing-masing. Hasil pembandingan ini dinilai untuk menetapkan penghargaan yang akan diberikan kepada manajer mission center dan manajer service center berdasarkan sistem penghargaan yang telah ditetapkan
Pendistribusian Sistem Penghargaan Berbasis Kinerja
Penghargaan didistribusikan kepada personel dengan basis kinerja yang telah diukur dan dikumpulkan informasinya melalui sistem informasi akuntansi. Distribusi penghargaan kepada personel dimaksudkan untuk menegaskan bahwa kinerja personel dipastikan memperoleh penghargaan. Jenis dan nilai penghargaan direncanakan untuk menghasilkan kepuasan bagi personel, agar meningkatkan nilai penghargaan bagi personel, sehingga meningkatnya nilai penghargaan ini berdampak pada peningkatan usaha personel dalam menghasilkan kinerja.
4. KESIMPULAN
Pada tahun 1940, pabrik lampu Philips didirikan di Surabaya. Philips Indonesia hadir untuk melayani pasar lokal, menginformasikan dan mempromosikan produk dan layanan serta menyediakan dukungan logistic bagi para distributor resmi. Philips Lighting merupakan fondasi yang menjadikan salah-satu perusahaan elektronika terbesar dunia diletakkan pada tahun 1891 ketika Gerard Philips mendirikan perusahaan di Eindhoven
Aplikasi Balance Scorecard dimulai dari akarnya yaitu pembelajaran dan pertumbuhan, yang memberikan kontribusi pada proses internal bisnis, sehingga pelanggan menjadi puas dan pada akhirnya perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang tercermin dalam performasi keuangan.
Akhirnya, kemampuan untuk memenuhi target untuk tujuan keuangan, pelanggan dan proses bisnis intern tergantung kepada kemampuan organisasi untuk belajar pertumbuhan. Mereka yang memungkinkan belajar dan pertumbuhan khususnya berasal dari 3 sumber, yaitu pegawai, sistem dan Penyetaraan organisasi. Strategi untuk kinerja yang unggul umumnya menuntut investasi yang signifikan pada orang, sistem dan proses yang membangun kemampuan organisasi.Akibatnya, tujuan dan ukuran untuk fihak yang memungkinkan kinerja yang handal ini dikemudian hari harus merupakan bagian yang integral dari suatu Balance Scorecard organisasi.
Suatu kelompok inti dari 3 ukuran yang terdiri dari kepuasan pegawai, kesetiaan pegawai dan produktifitas pegawai memberikan ukuran hasil kedalam pegawai, sistem dan Penyetaraan/keselarasan organisasi. Para pendorong hasil ini sekarang agak generik dan kurang berkembang daripada ketiga perspektif Balance Scorecard lainnya.
5. SARAN
Philips Lighting Surabaya adalah produsen terbesar di pasar perlampuan Indonesia. Philips mengerti bahwa pencahayaan yang baik menghasilkan kerja yang baik pula. Lingkungan dan suasana yang nyaman untuk bekerja akan meningkatkan cara kerja dalam segi kualitas serta mutunya. Saran saya pada Philips Lighting Surabaya tetap mempertahankan dan menjaga mutu pelayanannya bagi para pelanggan. Prestasi yang baik ini harus tetap ditingkatkan dan dijaga. Saran ini saya sampaikan demi kemajuan kita bersama. Agar Philips Lighting Surabaya juga bisa meningkatkan pelayanan pada pelanggannya. Selama ini saya pun tidak pernah komplain apabila lampunya tidak berfungsi dengan baik maupun daya tahan yang turun. Demikianlah saran ini saya sampaikan semoga ada manfaatnya. Terima kasih.
Sistem pengendalian manajemen pada dasarnya suatu sistem yang digunakan oleh manajemen untuk membangun masa depan organisasi. untuk membangun masa depan organisasi, perlu ditentukan lebih dahulu dalam bisnis apa organisasi akan berusaha. Jabawan atas pertanyaan tersebut merupakan misi organisasi dengan demikian misi organisasi merupakan the chosen track untuk membawa organisasi mewujudkan masa depannya. Diharapkan dengan dilaksanakannnya struktur sistem manajemen akan tercipta visi dan misi organisasi perusahaan kemudian mengimplementasikannya.
Permasalahan yang timbul dalam implementasi struktur sistem pengendalian manajemen yang dapat diidentifikasikan sekarang ini adalah terletak pada kelemahan struktur dan kelemahan proses. Sistem pengendalian manajemen tidak dapat mewujudkan tujuan sistem kemungkinan karena strukturnya tidak pas dengan lingkungan yang dihadapi perusahaan, dapat juga terjadi tujuan sistem pengendalian manajemen tidak tercapai karena proses sistem pengendalian manajemennya lemah.
Makalah ini mencoba memberikan paparan deskriptif tentang mata kuliah SPM dengan praktek lapangan di perusahaan PHILIPS Lighting Surabaya. Telah kita ketahui bahwa Philips Lighting Surabaya adalah produsen terbesar di pasar perlampuan Indonesia. Philips mengerti bahwa pencahayaan yang baik menghasilkan kerja yang baik pula. Lingkungan dan suasana yang nyaman untuk bekerja akan meningkatkan cara kerja dalam segi kualitas serta mutunya. Untuk itu peranan pencahayaan sangatlah penting. Dan saya sebagai penulis yakin bahwa dalam perusahaan ini juga tertanam sistem– sistem perencanaan dan pengendalian manajemen yang handal yang mencakup beberapa hal tentang nilai dasar dan keyakinan dasar dan lain sebagainya di dalam lingkungan bisnisnya.
2. PROFIL PERUSAHAAN
PHILIPS LIGHTING SURABAYA
Royal Philips Electronics dari Belanda adalah pemimpin global di bidang kesehatan, lighting, dan gaya hidup konsumen, layanan yang people-centric, produk inovatif, pelayanan dan memberikan melalui brand promise, yaitu “Sense and Simplicity”. Philips berkantor pusat di Belanda dengan jumlah karyawan sebanyak 134,200 orang di lebih dari 60 negara di dunia. Dengan penjualan sebesar EUR 27 miliar di tahun 2007, perusahaan ini merupakan pemimpin di pasar gambar diagnosa medis (medical diagnostic imaging) dan sistem monitoring pasien (patient monitoring system), solusi lampu hemat energi, termasuk juga solusi gaya hidup untuk kesejahteraan personal. Fungsi pencahayaan untuk menerangi fasilitas yang ada serta pada tempat bekerja yang memberikan sudut pandang penglihatan yangbaik dengan arti lainnya pencahayaan memberikan keselamatan dalam bekerja, mengurangi rasa lelah yang bisa mengakibatkan kecelakaan, mengurangi tindakan kesalahan yang mengakibatkan cacat produksi serta meningkatkan produktifitas.Sebagai tambahan pencahayaan memberikan rasa bangga terhadap lingkungan tempat bekerja.
Untuk menghasilkan kualitas yang tinggi, pencahayaan sangatlah penting perananannya dalam membantu meningkatkan produktifitas. Pencahayaan yang baik berarti cukup sinar yang dibutuhkan pada tempat kerja termasuk pada penyebaran cahaya yang merata dan kemanpuan cahaya untuk merenderasi warna disamping itu tidak menimbulkan silau.
Pada tahun 1940, pabrik lampu Philips didirikan di Surabaya. Philips Indonesia hadir untuk melayani pasar lokal, menginformasikan dan mempromosikan produk dan layanan serta menyediakan dukungan logistic bagi para distributor resmi. Philips Lighting merupakan fondasi yang menjadikan salah-satu perusahaan elektronika terbesar dunia diletakkan pada tahun 1891 ketika Gerard Philips mendirikan perusahaan di Eindhoven
Philips merupakan produsen terbesar di pasar perlampuan Indonesia . Hal ini cukup masuk akal mengingat Philips sudah masuk ke dalam pasar perlampuan Indonesia sejak tahun 1920 artinya Philips sudah berbisnis perlampuan untuk hampir 90 tahun di Indonesia dan saat ini sudah menjadi nomor 1 dengan menguasai pangsa pasar Indonesia lebih dari 45 % , selain hal tersebut diatas Philips juga sangat dikenal sebagai Trend setter dan Innovator didalam teknologi perlampuan.
Bisnis perlampuan Philips lighting di Indonesia dimulai di tahun 1941 dengan dibangunnya pabrik lampu pertamanya di Surabaya dengan nama N.V. Philips Fabricage & Handle Maatschappij dan pabrik tersebut saat ini sudah berkembang menjadi salah satu pabrik terbaik didunia yang dimiliki oleh Philips Lighting dengan diperolehnya PBE Gold medal award untuk tahun 2004 & 2005. 80% hasil produk pabrik ini di ekspor ke lebih dari 80 negara di Asia Pacific ,USA , Canada,Eropa dan Amerika Latin.
Sejak pelaku bisnis SPBU ( Pompa Bensin ) asing memasuki pasar Indonesia , Philips Lighting telah ikut berperan dalam pembentukan gaya dan tampilan SPBU yang baru melalui penyediaan rumah lampu berkualitas tinggi untuk sarana SPBU yang disebut Mini 300.
Banyak produk produk inovasi Philips yang telah diperkenalkan ke pasar Indonesia dengan kelebihan kelebihan seperti lebih hemat energi, lebih kompak, berumur lebih panjang dan lebih ramah lingkungan seperti T5, CDM, LED, Electronics Ballast dan masih banyak lagi yang akan ikut mempengaruhi Tren desain perlampuan di Indonesia.
Pabrik Lampu Philips Surabaya Menerima Penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
PT Philips Indonesia dengan bangga mengumumkan bahwa hari ini Pabrik Lampu Philips Surabaya dianugerahi Zero Accident Award untuk pertama kalinya yang oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Pabrik Lampu Philips Surabaya mendapatkan penghargaan tersebut setelah berhasil mencapai lebih dari enam juta jam kerja orang tanpa terjadi kecelakaan. Ini adalah pertama kalinya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Pabrik Lampu Philips Surabaya mendapatkan Zero Accident Award.
Prestasi ini adalah hasil dari kerja keras dan kerjasama antara tim manajemen dan karyawan yang mendukung implementasi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja. Sedangkan khusus untuk audit Zero Accident dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja.
Audit Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dilakukan oleh Sucofindo - sebuah badan audit independen yang ditunjuk oleh Departemen Ketenagakerjaan - untuk mengukur tingkat pencapaian implementasi dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Audit didasarkan pada Peraturan Departemen Ketenagakerjaan nomor Per 05/Men/1996. Sucofindo melakukan audit SMK3 untuk kedua kalinya terhadap Pabrik Lampu Philips Surabaya yang mencapai angka 97 persen dan dianugerahi dengan Sertifikat Bendera Emas. Angka ini berada jauh di atas standar angka sertifikat emas pada umumnya yaitu 85 persen.
Selain keberhasilan ini, Pabrik Lampu Philips Surabaya diakui sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan Sertikat OHSAS 18001 versi 2007 yang secara Internasional mulai diperkenalkan pada bulan Juli 2007.
Komitmen perusahaan tetap tinggi, yakni bagaimana kami bisa berpartisipasi aktif mengurangi pemanasan global. Oleh karena itu, perusahaan ini terus mengembangkan teknologi dan inovasi, agar menghasilkan produk yang bisa didaur ulang. Dengan demikian, saat produk tersebut sudah tidak berfungsi dan dibuang ke lingkungan, tidak berdampak buruk.
BISNIS PHILIPS MENDUNIA KARENA KOMITMEN PADA LINGKUNGAN
Komitmen itu pula yang mengantar bisnis Philips merambah dunia. Acuannya terhadap lingkungan pun jelas. Tahun 1970 Philips berpartisipasi dalam Club of Rome.
"Tahun 1994 kami membuat program The Environmental Opportunity. Tahun 1998, Philips berhasil menyabet International Corporate Environmental Achievement dan memperkenalkan program Ecovision yang pertama di dunia," kata Rob.
Hal yang perlu digarisbawahi, kata dia, adalah Philips mengambil berbagai inisiatif untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi gas buang CO>sub<2>res<>res<. Sejak tahun 1970, Dewan Direksi Philips telah memformulasikan beberapa program yang berkaitan dengan lingkungan.
Melalui target yang jelas terhadap produk dan proses, program ini telah membantu Philips untuk melakukan perbaikan yang terus-menerus. Pada tahun 2006 kapasitas produksi gelas Philips naik 27 persen dibandingkan dengan total produksi tahun 2005. Hal itu yang membuat semua pekerja Philips, yang dikenal pekerja keras, disiplin, dan berdedikasi tinggi, bangga. Dalam arti, kendati ada kenaikan pasar, penggunaan energi secara spesifik (giga joule/1.000 output) mengalami penurunan sebesar 16 persen. Demikian juga dalam hal menekan emisi CO>sub<2>res<>res<. Pada tahun itu emisi CO>sub<2>res<>res< per kilogram mengalami penurunan sebesar 14 persen. Semua ini hasil positif dari program Ecovision.
Wajar apabila Philips pun berbangga. Namun, yang lebih bangga adalah para green belt ataupun semut pekerja PT Philips Lighting Surabaya. Mereka tak hanya membuat industri lampu Philips di Surabaya masuk tataran world class company, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi dan perbaikan lingkungan bagi dunia.
Saat ini Royal Philips Electronic Belanda adalah pemimpin global di bidang produk elektronik kesehatan, gaya hidup, dan teknologi. Philips bermarkas di Belanda dengan total 124.300 pekerja di lebih dari 60 negara di dunia. Tahun 2006 total penjualannya 27 miliar euro.
Saat ini Philips memiliki beberapa sektor bisnis sebagai berikut:
Healthcare, termasuk di dalamnya sistem medis yang professional dan perlengkapan kesehatan personal.
Lighting, termasuk di dalamnya pabrik lampu, komponen dan sistem pencahayaan profesional, serta Solusi Pencahayaan personal.
Consumer Lifestyle, termasuk di dalamnya Consumer electronics, domestic appliances, dan personal care.
Philips menduduki posisi No. 1 untuk pasar lighting di dunia, kemapanan ini didukung oleh kombinasi kepemimpinan dalam berinovasi dan pendekatan sistematis untuk menemukan peluang pasar baru.
Ambisi kami adalah meletakan fondasi dalam industri lighting sebagai pilihan utama mitra inovatif dalam menyediakan solusi pencahayaan yang kreatif dan terjangkau.Produk Kami dapat ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya hampir diseluruh sudut rumah, tetapi juga dalam hampir seluruh aplikasi professional, misalnya: 30 persen dari bagunan-bangunan komersial seperti gedung perkantoran , Rumah sakit dan bangunan-bangunan yang telah menjadi identitas dari suatu kota / negara , 65 persen pada bandara-bandara top dunia , 35 persen mobil, dan 55 persen stadion sepakbola utama dunia seperti 7 dari 10 stadion yang digunakan pada piala dunia sepakbola 2002 di Jepang/Korea dan 8 dari 12 stadion yang digunakan pada piala dunia sepak bola 2006 di Jerman dan pada even even dunia lainnya . Produk-produk ini meliputi jenis lampu pijar maupun halogen, neon kompak, lampu gas discharge intensitas tinggi maupun lampu khusus, luminaires (rumah lampu), ballast, komponen elektronik, dan lampu mobil.
Philips Lighting mempekerjakan sekitar 44.000 orang di berbagai lokasi manufaktur di seluruh dunia.Di Asia Pasifik, kami hadir di hampir semua negara dengan organisasi penjualan dan/atau pabrik, yakni Australia, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Taiwan, Thailand, Singapura, Korea Selatan dan Vietnam.
Beberapa pesta olah raga yang dimeriahkan oleh Philips Lighting ;
Piala Dunia 2006 - Jerman
Olimpiade 2004 - Athena
PON XVI 2004 Palembang - Indonesia
Piala Dunia 2002 - Korea/Jepang
Olimpiade 2000 Sydney Australia - Opera House, International Athletic Centre, International Aquatic Center,State Hockey Centre, Superdome.
Berbagai tempat terkenal yang diterangi oleh Philips Lighting di Asia Pasifik:
Jembatan ANZAC di Australia
Jembatan Nanpu di Cina
Medan Times Shanghai di Cina
Jalan Raya Yan'an Shanghai di Cina
Menara Pengawas Bandara Chek Lap Kok di Hong Kong
Jembatan Tsing Ma di Hong Kong
Kereta Api Transit Massa (MTR) di Hong Kong
Jembatan Sungai Dinding di Malaysia
Istana Maharaja di Coach Behar di India
Studio Film di India
Arena Balap Kranji di Singapura
Revenue House (Wisma Pendapatan) di Singapura
Patung Raja Rama V dan Istana Dusit di Thailand
Istana Kerajaan di Thailand
3. PEMBAHASAN DENGAN SISTEM PENGENDALIAN DAN PERENCANAAN MANAJEMEN
Dari hasil pengamatan dengan diadakannya company visit ke Philips Lighting Surabaya, dapat dilihat bahwa perusahaan ini telah mengaplikasikan ilmu Sistem Pengendalian Manajemen ke dalam system kinerja perusahaan. Philips Lighting Surabaya juga memiliki Human Resourve Leverage, yaitu adalah dengan melepaskan seluruh potensi sumber daya manusia organisasi dan untuk mengerahkan dan memfokuskan potensi tersebut kepencapaian visi organisasi.
Pendesainan struktur sistem pengendalian manajemen merupakan cara pengkomunikasian melalui operational behavior yaitu suatu cara pengkomunikasian paradigma keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi melalui peraturan, sistem dan prosedur serta keputusan resmi yang dibuat. Struktur sistem pengendalian manajemen didesain untuk mengkomunikasikan costumer, value, mindset, continuous improvement mindset, opportunity mindset, cross – functional mindset dan employee empowerment minset melalui struktur organisasi, jejaring informasi dan sistem penghargaan.
Continuous Improvement Mindset
Improvement berkelanjutan adalah usaha peningkatan di segala bidang dalam jangka panjang. Usaha tersebut perlu dilandasi oleh mindset yang semestinya, sehingga unsure berkelanjutannya dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Dalam Continuius improvement mindset terdapat keyakinan dasar dan nilai dasar. Keyakinan dasar itu sendiri meliputi :
1. kita harus mengetahui fakta
2. alasan dan belajar
3. selalu ada cara yang lebih baik
4. kita harus selalu berusaha untuk sempurna
Sedangkan pada nilai dasar meliputi :
1. kejujuran
2. kerendahan hati
3. kerja keras
4. kesabaran
5. keterbukaan
6. keberanian.
Dalam Philips Lighting Surabaya, Sumber Daya Manusia sebagai salah satu unsur dalam proses produksi, disamping dituntut untuk senantiasa meningkatkan kemampuan diri juga diharapkan mewaspadai pemanfaatan unsur lainnya berupa peralatan kerja yang dianggap canggih dan modern. Oleh karena itu, penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan industri sangat diperlukan. Jika karyawan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan pekerjaannya, maka dapat meningkatkan semangat kerja karyawan serta dapat mencapai produktivitas yang tinggi. Dan yang terpenting :
1.Perumusan Misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi secara jelas.
2.Pengkomunikasian misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi kepada personel perusahaan melalui personal behaviors para leaders organisasi dan operational behavior.
Melalui proses internalisasi, misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi dapat tertanam di dalam diri seluruh personel menjadi shared mission, shared vision, shared beliefs dan shared values.Shared mission, shared vision, shared belief dan shared values menjadikan karyawan berdaya untuk mengendalikan perilakunya sesuai dengan yang diharapkan di dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Opportunity mindset
Yakni kondisi yang terbuka di masa depan yang belum pernah dialami seseorang atau organisasi yang berbeda dengan yang pernah dialami sebelumnya dan yang mengandug ketidakpastian.
Sistem pengendalian manajemen juga menyediakan berbagai sistem untuk melaksanakan proses perencanaan dan implementasi rencana. Melalaui sistem pengendalian manajemen, keseluruhan kegiatan utama untuk menjadikan perusahaan sebagai institusi pencipta kekayaan dapat dilaksanakan secara terstruktur, terkoordinasi, terjadwal dan terpadu sehingga menjanjikan tercapainya tujuan perusahaan-perusahaan bertambahnya kekayaan dalam jumlah yang memadai.
Sistem pengendalian manajemen pada dasarnya suatu sistem yang digunakan oleh manajemen untuk membangun masa depan organisasi. untuk membangun masa depan organisasi, perlu ditentukan lebih dahulu dalam bisnis apa organisasi akan berusaha.
Employee Empowerment
Pemberdayaan karyawan berarti memampukan dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk merencanakan, mengimplementasikan rencana pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kelompoknya. Pemberdayaan karyawan (employee empowerment) merupakan trend pengelolaan sumber daya manusia di dalam organisasi masa depan. Pemberdayaan karyawan dilakukan di dalam orgainsasi perusahaan dengan fokus ke penyediaan produk dan jasa bagi customers. Untuk kepuasan customer-lah pada dasarnya pemberdayaaan karyawan ini ditujukan.
Suatu sistem yang digunakan untuk mendistribusikan penghargaan kepada personel organisasi. pada wakru organisasi hirarkis fungsional digunakan oleh perusahaan untuk menghadapi lingkungan bisnis yang stabil, penghargaan, didistribusikan, ke manajemen puncak, karena merekalah yang menjalankan bisnis perusahaan. Pada waktu lingkungan bisnis berubah menjadi turbulen, manajemen puncak tidak lagi mampu menjalankan sendiri seluruh bisnis perusahaan.
Beban tanggung jawab untuk menjalankan bisnis perusahaan perlu didistribusikan kepada manajemen bawah dan karyawan. Timbullah kebutuhan perlu mendistribusikan kepada manajemen bawah dan karyawan. Timbullah kebutuhan untuk memberdayakna karyawan guna membangun responsibility – based organizarion, suatu organisasi yang seluruh personelnya (manajemen dan karyawan) bertanggung jawab atas bisnis perusahaan.
Cross Functional Mindset
Cross-functional mindset merupakan mindset yang cocok dalam mewujudkan sistem pengendalian manajemen untuk menghadapi lingkungan bisnis global. Tim lintas fungsional hanya akan efektif di dalam menjalankan organisasi lintas fungsional jika mereka memiliki mindset yang cocok dengan organissai tersebut. Proses untuk menghasilkan produk dan jasa menembus batas-batas antar fungsi. Dengan demikian manajemen atas aktivitas pembuatan produk dan jasa penyediaan jasa hanya akan berhasil jika batas-batas antarfungsi ditiadakan, baik secra fisik maupun secara mental.
Paradigma Lintas Fungsional
Paradigma lintas fungsional memandang organisasi sebagai:
1. Suatu rangkaian system yang digunkan untuk melayani kebutuhan customer
2. Suatu kumpulan shared competencies and resources yang disediakan untuk dimobilisasi guna memenuhi kebutuhan customer.
Sistem Penghargaan Berbasis Kinerja
Setelah kinerja dan peran untuk mewujudkan kinerja ditetapkan, serta kompetensi inti untuk mewujudkan peran ditentukan, langkah selanjutnya dalam pengelolaan kinerja
terpadu adalah mendesain sistem penghargaan berbasis kinerja dengan dua tujuan:
(1) untuk meningkatkan kepastian bagi personel bahwa kinerja mereka akan diberi
penghargaan,
(2) untuk meningkatkan kepuasan personel terhadap penghargaan sehingga meningkatkan nilai penghargaan bagi personel.
Kepastian suatu kinerja diberi penghargaan dan tingginya nilai penghargaan bagi personel inilah yang menjadi pemacu usaha personel dalam menggunakan kompetensi inti melalui peran mereka untuk menghasilkan kinerja. Sistem penghargaan didesain melalui empat langkah berikut ini:
1. Menetapkan bobot (weight) untuk setiap perspektif yang dicakup sasaran strategik.
2. Menetapkan bobot untuk setiap sasaran strategik dalam setiap perspektif.
3. Menetapkan tipe target yang akan dipakai sebagai basis pendistribusian penghargaan
(threshold, midpoint, dan stretch)
4. Menetapkan penghargaan untuk setiap pencapaian target (threshold, midpoint, dan
stretch) oleh manajer pusat pertanggungjawaban, tim, dan karyawan
Pengukuran dan Penilaian Kinerja
Pengukuran kinerja dilaksanakan dengan mengukur keberhasilan setiap mission center dan service center dalam mencapai sasaran strategik yang tercantum dalam mission center scorecard dan service center scorecard yang bersangkutan. Hasil pengukuran kinerja mission center dan service center kemudian dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam scorecard-nya masing-masing. Hasil pembandingan ini dinilai untuk menetapkan penghargaan yang akan diberikan kepada manajer mission center dan manajer service center berdasarkan sistem penghargaan yang telah ditetapkan
Pendistribusian Sistem Penghargaan Berbasis Kinerja
Penghargaan didistribusikan kepada personel dengan basis kinerja yang telah diukur dan dikumpulkan informasinya melalui sistem informasi akuntansi. Distribusi penghargaan kepada personel dimaksudkan untuk menegaskan bahwa kinerja personel dipastikan memperoleh penghargaan. Jenis dan nilai penghargaan direncanakan untuk menghasilkan kepuasan bagi personel, agar meningkatkan nilai penghargaan bagi personel, sehingga meningkatnya nilai penghargaan ini berdampak pada peningkatan usaha personel dalam menghasilkan kinerja.
4. KESIMPULAN
Pada tahun 1940, pabrik lampu Philips didirikan di Surabaya. Philips Indonesia hadir untuk melayani pasar lokal, menginformasikan dan mempromosikan produk dan layanan serta menyediakan dukungan logistic bagi para distributor resmi. Philips Lighting merupakan fondasi yang menjadikan salah-satu perusahaan elektronika terbesar dunia diletakkan pada tahun 1891 ketika Gerard Philips mendirikan perusahaan di Eindhoven
Aplikasi Balance Scorecard dimulai dari akarnya yaitu pembelajaran dan pertumbuhan, yang memberikan kontribusi pada proses internal bisnis, sehingga pelanggan menjadi puas dan pada akhirnya perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang tercermin dalam performasi keuangan.
Akhirnya, kemampuan untuk memenuhi target untuk tujuan keuangan, pelanggan dan proses bisnis intern tergantung kepada kemampuan organisasi untuk belajar pertumbuhan. Mereka yang memungkinkan belajar dan pertumbuhan khususnya berasal dari 3 sumber, yaitu pegawai, sistem dan Penyetaraan organisasi. Strategi untuk kinerja yang unggul umumnya menuntut investasi yang signifikan pada orang, sistem dan proses yang membangun kemampuan organisasi.Akibatnya, tujuan dan ukuran untuk fihak yang memungkinkan kinerja yang handal ini dikemudian hari harus merupakan bagian yang integral dari suatu Balance Scorecard organisasi.
Suatu kelompok inti dari 3 ukuran yang terdiri dari kepuasan pegawai, kesetiaan pegawai dan produktifitas pegawai memberikan ukuran hasil kedalam pegawai, sistem dan Penyetaraan/keselarasan organisasi. Para pendorong hasil ini sekarang agak generik dan kurang berkembang daripada ketiga perspektif Balance Scorecard lainnya.
5. SARAN
Philips Lighting Surabaya adalah produsen terbesar di pasar perlampuan Indonesia. Philips mengerti bahwa pencahayaan yang baik menghasilkan kerja yang baik pula. Lingkungan dan suasana yang nyaman untuk bekerja akan meningkatkan cara kerja dalam segi kualitas serta mutunya. Saran saya pada Philips Lighting Surabaya tetap mempertahankan dan menjaga mutu pelayanannya bagi para pelanggan. Prestasi yang baik ini harus tetap ditingkatkan dan dijaga. Saran ini saya sampaikan demi kemajuan kita bersama. Agar Philips Lighting Surabaya juga bisa meningkatkan pelayanan pada pelanggannya. Selama ini saya pun tidak pernah komplain apabila lampunya tidak berfungsi dengan baik maupun daya tahan yang turun. Demikianlah saran ini saya sampaikan semoga ada manfaatnya. Terima kasih.
Sabtu, 02 Januari 2010
BAB 13 ALK
BAB 13
PREDIKSI KEBANGKRUTAN
Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak seperti berikut ini :
1) Pemberi Pinjaman ( seperti pihak Bank). Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan monitor pinjaman yang ada.
2) Investor. Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut.
3) Pihak Pemerintah. Pada beberapa sector usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut(misal sector perbankan).
4) Akuntan. Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena akuntan akan menilai kemapuan going concern suatu perusahaan
5) Manajemen. Kebangkrutan berarti munculnya biaya – biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai 11-17% dari nilai perusahaan.
MASALAH DALAM KEBANGKRUTAN
Kesulitan keuangan jangka pendek bersifat sementara dan belum begitu parah, tetapi kesulitan semacam ini apabila tidak ditangani bisa berkembang menjadi kesulitan tidak solvable. Kalau tidak solvable, perusahaan bisa dilikuidasi atau direorganisasi. Likuidasi dipilih apabila nilai likuidasi lebih besar dibandingkan dengan nilai perusahaan kalu diteruskan. Reorganisasi dipilih kalau perusahaan masih menunjukkan prospek dan dengan demikian nilai perusahaan kalau diteruskan lebih besar dibandingkan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.
Beberpa alternative perbaikan berdasarkan besar kecilnya permasalahan keuangan yang dihadapi perusahaan :
Pemecahan secara informasi
1) dilakukan apabila masalah belum begitu parah
2) masalah perusahaan hanya bersifat sementara, prospek masa depan masih begitu bagus cara :
a. perpanjangan ( extention) : dilakukan dengan memperpanjang jatuh tempo hutang – hutang
b. komposisi ( Composition) : dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan
Pemecahan secara formal
Dilakukan apabila masalah sudah parah, kreditur ingin mempunyai jaminan keamanan cara :
a. apabila nilai perusahaan diterskan > nilai perusahaan dilikuidasi
Reorganisasi : dengan mengubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak
b. apabila nilai perusahaan diterskan < nilai perusahaan dilikuidasi
Likuidasi : dengan menjual asset – asset perusahaan
Analisis kebangkrutan dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan . semakin awal tanda – tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan – perbaikan. Tanda – tanda kebangkrutan tersebut dalam hal ini dilihat denagn menggunakan data – data akuntansi.
Dalam praktik dan juga dalam penelitian empiris, kesulitan keuangan sulit untuk diidentifikasikan . kesulitan semacam ini bisa berarti mulai dari kesulitan likuditas, yang merupakan kesulitan keuangan yang paling ringan, sampai kepernyataan kebangkrutan yang merupakan kesulitan yang paling berat. Dengan demikian kesulitan keuangan bisa dilihat sebagai kontinum yang panjang, mulai dari yang ringan sampai yang paling berat.
Perhatikan empat kategori semacam ini :
Tidak dalam kesulitan
Keuangan Dalam kesulitan
keuangan
Tidak Bangkrut I II
Bangkrut III IV
Perusahaan yang berada dalam kategori II barangkali mengalami kesulitan, tetapi berhasil mengatasi masalah tersebut dan karena itu tidak bangkrut. Perusahaan pada kategori III sebenarnya tidak mengalami kesulitan keuangan, tetapi karena suatu hal, maka perusahaan tersebut memutuskan untuk bangkrut. Pada situasi IV pengertian kebangkrutan begitu jelas, perusahaan mengalami kesulitan keuangan dank arena itu akan bangkrut. Demikian juga pada situasi I, situasi keuangan cukup jelas, dalam hal ini perusahaan tidak mempunyai kesulitan keuangan dan tidak mengalami kebangkrutan.
Ada beberapa indicator yang bisa memprediksi kebangkrutan. Salah satu
Sumbernya adalah analisis aliran kas untuk masa mendatang, sedangkan sumber lainnya adalah analisi strategi perusahaan. Sumber lain adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini dipakai untuk memprediksi kesulitan keuangan . sumber lainnya adalah informasi eksternal. Pada pasar keuangan yang sudah maju, lembaga penilai sudah berkembang dan informasi mereka bisa dipaki untuk memprediksi kemugkinan adanya kesulitan keuangan.
PREDIKSI KEBANGKRUTAN : ANALISIS UNIVARIATE
Pendekatan tunggal (univariate ) bisa dipakia untuk memprediksi kesulitan keuangan dengan asumsi bahwa distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang menglami kesulitan keuangan berbeda dengan distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang tidak mengalami kebangkrutan.
Penggunaan metode tersebut akan dijelaskan dengan menggunakan contoh berikut pada tahun 1970, beberapa perusahaan kereta api AS yang cukup besar mengalami kebangkrutan. Apakah rasio – rasio keuangan pada tahun – tahun sebelumnya bisa memperkirakan kebangkrutan tersebut? Berikut ini dua rasio keuangan yang dipilih untuk melihat apakah kebangkrutan perusahaan kereta api tersebut bisa dilihat melalui rasio – rasio keuangan pada tahun – tahun sebelumnya.
(1) Rasio biaya transportasi terhadap pendapatan operasional (BT/ PO). Biaya transportasi merupakan komponen biaya yang terbesar yang terjadi pada perusahaan kereta api , yang meliputi biaya operasional angkutan kerta, biaya gaji pegawai kereta dan biaya bahan baker. Pendapatan operasional terutama berasal dari karcis kereta yang terjual dan juga pendapatan dari beberapa sumber yang lain seperti pendapatan angkutan barang dan surat pos
(2) Rasio timed interst earned (TIE) yang merupakan rasio EBIT ( Earning Before Taxes)/Interst. Bunga atau interest disini adalah bunga dari kewajiban obligasi. Apabila diperoleh angka negatif, berarti perusahaan mempunyai earning( atau pendapatan) yang negative
Teknik penelitian titik cut off mengandung bahaya bahwa karakteristik spesifik perusahaan – perusahaan dalam sample akan sanagat mempengaruhi nilai cut off, dan dengan demikian titik cut off tersebut tidak representaif untuk perusahaan – perusaan lainnya. Untuk menghindari kemungkinan semacam tersebut, akuirisititik cut off bisa menggunakan perusahaan – perusahaan diluar sampel .
Empat variable yang menunjukkan perbedaaan antara perusahaan yang bangkrut dengan yang tidak bangkrut secara konsisten adalah
1. tingkat retun ( rate of return ). Perusahaan yang bangkrut mempunyai tingkat return yang lebih rendah.
2. penggunaan hutang. Perusahaan yang bangkrut menggunakan hutang yang lebih tinggi
3. perkindungan terhadap biaya tetap ( fixed payment coverage) . perusahaan yang bangkrut mempunyai perlindungan terhadap biaya tetap yang lebih kecil
4. fluktuasi retun saham. Perusahaan yang bangkrut mempunyai rata – rata return yang lebih rendah dan mempinayi fluktuasi return saham yang lebih tinggi.
PREDIKSI KEBANGKRUTAN : ANALISIS MULTIVARIATE
Salah satu kelemahan model univariate adalah kemungkinan terjadinya konflik antara variable – variable yang dijadikan prediksi. Untuk mengatasi masalah tersebut model multivariate dikembangkan. Variable bebas dalam model ini adalah rasio – rasio keuangan yang diperkirakan memprediksi kebangkrutan, sedangkan variable tidak bebas adalah prediksi kebangkrutan ( bangkrut dengan nilai 0 dan tidak bangkrut dengan nilai 1 ) atau profitabilitas kebangktutan ( 0 sampai 1, inklusif)
Teknik statisistik yang sering digunakan adalah analisis diskriminan untuk mengklasifikasikan observasi ke dalam dua kelompok : bangkrut dan tidak bangkrut. Teknis analisi logis atau probit juga sering digunakan untuk melihat profitabilitas suatu kejadian berdasrkan variabel – variabel tertentu. Analisis non parametik juga bisa digunakan.
Dengan menggunakan kasus kebangkrutan perusahaan kereta api, kita akan menggunakan dua variable untuk persamaan deskriminasi, yaitu variable rasio BT/PO(variable bebas X1) dan variable TIE(sebagai variable X2) . diasumsikan bahwa rasio – rasio yang dipakai berasal dari populasi denagn distribusi normal dan matriks varians kovarians kedua kelompok tersebut sama.
Persamaan diskriminan linear bisa ditulis sebagai berikut ini :
Zi = a X1 + B X2
Skor Z yang rendah berarti semakin besar kemungkiana untuk bangkrut. Koefisien negative variable X1 menandakan hubungan negative antara variable tersebut dengan skor Zi. Semakin tinggi nilai X1, semakin rendah nilai Zi dan semakin tinnggi kemungkina kebangkrutan. Nilai koefisien yang positif pada variable X2 menandakan bahwa semakin tinngi rasio TIE, semakin tinggi nilai skor Zi dan semakin kecil kemubgkinan bangkrut.
Banyak bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa kebangkrutan tidak hanya dipengaryhi oleh variable – variable intern saja ( dari perusahaan ), tetapi juga oleh variable – variable eksternal seperti perubahan tingkat bunga, turunnya kondisi perekonomian, atau perubahan tingkat pengganguran. Dengan bukti semacam ini multivariate bisa memasukkan variable – variable ekonomi makro untuk memprediksi kemubkinan kebangkrutan.
BUKTI – BUKTI INTERNAL
Salah satu masalah yang bisa dibahas adalah apakah ada kesamaan rasio keuangan yang bisa dipaki untuk memprediksi kebangkrutan untuk semua Negara, ataukah mempunyai kekhususan. Nilai Zi dicari dengan persamaaan diskriminan sebagai berikut ini :
Zi = 1,2 X1 +1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
Dimana ,
X1 = (Aktiva lancar – hutang lancar)/total aktiva
X2 = laba yang ditahan / total asset
X3 = laba sebelum bungan dan pajak / total asset
X4 = nilai pasar saham biasa dan prefern / nilai buku total hutang
X5 = penjualan / total asset
Masalah lain yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah banyak perusahaan yang tidak go public, dan dengan demikian tidak mempunayi nilai pasar. Untuk beberapa Negara seperti Indonesia, perusahaan semacam ini merupakan bagian terbesar yang ada. Altman kemudian mengembangkan model alternative dengan mengganti variable X4 ( nilai pasar saham prefern dan biasa/ nilai buku total hutang). Dengan cara demikian model tersebut bisa dipakai bisa untuk perusahaan yang go public maupun perusahaan yang tidak go public.
Berdasarkan komentar bisa diajukan dalam kiatannya dengan model kebangkrutan semacam ini. Pertama, sampai sejauh ini sangat sedikit pembicaraan teori yang bisa mengarah penelitian kebangkrutan. Dengan semakin sedikitnya teori tersebut, prediksi kebangkrutan lebih diarhkan ke pencarain – pencarian variabel - variabel relevan dengan coba – coba.
Dengan metode pencarian semacam ini, peneliti perlu memperhatiakn kemungkinan adanya bias, yaitu model tersebut hanya mempunyai karakteristik yang mempunyai sample tersebut. Untuk menghindari kemungkinan semacam ini, sample bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Dengan kelompok pertama, analis mencari model prediksi kebangkrutan, kemudian model tersebut diuji validitasnya dengan menggunakan kelompok kedua. Varians yang lain adalah dengan menggunakan beberapa metode.
Penelitian menunjukan bahwa interpretasi prediksi tidak begitu sensitive terhadap perbedaan model – model statistic yang dipilih. Sebagai contoh suatu penelitian berkesimpulan bahwa untuk suatu set variable tertentu, penggunaan model diskriminasi linear, model diskrimasi kuadrat dan model logit, menghasilkan tingkat akurasi yang hampir sama.
Sedangkan peneliti masalah prediksi menggunakan data beberapa periode sebelum kebangkrutan, misal satu, dua, tiga, empat tahun sebelum kebangkrutan.
Tetapi dalam kenyataannya analisis tidak pernah tau kapan bangkrut. Pilihan waktu untuk menyatakan bangkrut sangat tergantung dari beberapa factor seperti kemapuan bank untuk membantu restrukturisasi keuangan, kebangkrutan perusahaan lain, dan negosiasi dan pekerja.
Sampel yang dipilih semacam ini juga membuat sulit untuk menarik kesimpulan terhadap populasi secara keseluruan. Sampel yang baik tentunaya sampel yang mewakili populasi secara keseluruan.
Kalau penelitian kebangkrutan dinilai dari sumbanganya terhadap pengambilan keputusan akan terasa bahwa penelitian kebangkrutan memberi sumbangan yang cukup substansial. Karena keputusan akan lebih baik dengan adanya informasi kebangkrutan ini.
PREDIKSI KEBANGKRUTAN
Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak seperti berikut ini :
1) Pemberi Pinjaman ( seperti pihak Bank). Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan monitor pinjaman yang ada.
2) Investor. Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut.
3) Pihak Pemerintah. Pada beberapa sector usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut(misal sector perbankan).
4) Akuntan. Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena akuntan akan menilai kemapuan going concern suatu perusahaan
5) Manajemen. Kebangkrutan berarti munculnya biaya – biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai 11-17% dari nilai perusahaan.
MASALAH DALAM KEBANGKRUTAN
Kesulitan keuangan jangka pendek bersifat sementara dan belum begitu parah, tetapi kesulitan semacam ini apabila tidak ditangani bisa berkembang menjadi kesulitan tidak solvable. Kalau tidak solvable, perusahaan bisa dilikuidasi atau direorganisasi. Likuidasi dipilih apabila nilai likuidasi lebih besar dibandingkan dengan nilai perusahaan kalu diteruskan. Reorganisasi dipilih kalau perusahaan masih menunjukkan prospek dan dengan demikian nilai perusahaan kalau diteruskan lebih besar dibandingkan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.
Beberpa alternative perbaikan berdasarkan besar kecilnya permasalahan keuangan yang dihadapi perusahaan :
Pemecahan secara informasi
1) dilakukan apabila masalah belum begitu parah
2) masalah perusahaan hanya bersifat sementara, prospek masa depan masih begitu bagus cara :
a. perpanjangan ( extention) : dilakukan dengan memperpanjang jatuh tempo hutang – hutang
b. komposisi ( Composition) : dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan
Pemecahan secara formal
Dilakukan apabila masalah sudah parah, kreditur ingin mempunyai jaminan keamanan cara :
a. apabila nilai perusahaan diterskan > nilai perusahaan dilikuidasi
Reorganisasi : dengan mengubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak
b. apabila nilai perusahaan diterskan < nilai perusahaan dilikuidasi
Likuidasi : dengan menjual asset – asset perusahaan
Analisis kebangkrutan dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan . semakin awal tanda – tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan – perbaikan. Tanda – tanda kebangkrutan tersebut dalam hal ini dilihat denagn menggunakan data – data akuntansi.
Dalam praktik dan juga dalam penelitian empiris, kesulitan keuangan sulit untuk diidentifikasikan . kesulitan semacam ini bisa berarti mulai dari kesulitan likuditas, yang merupakan kesulitan keuangan yang paling ringan, sampai kepernyataan kebangkrutan yang merupakan kesulitan yang paling berat. Dengan demikian kesulitan keuangan bisa dilihat sebagai kontinum yang panjang, mulai dari yang ringan sampai yang paling berat.
Perhatikan empat kategori semacam ini :
Tidak dalam kesulitan
Keuangan Dalam kesulitan
keuangan
Tidak Bangkrut I II
Bangkrut III IV
Perusahaan yang berada dalam kategori II barangkali mengalami kesulitan, tetapi berhasil mengatasi masalah tersebut dan karena itu tidak bangkrut. Perusahaan pada kategori III sebenarnya tidak mengalami kesulitan keuangan, tetapi karena suatu hal, maka perusahaan tersebut memutuskan untuk bangkrut. Pada situasi IV pengertian kebangkrutan begitu jelas, perusahaan mengalami kesulitan keuangan dank arena itu akan bangkrut. Demikian juga pada situasi I, situasi keuangan cukup jelas, dalam hal ini perusahaan tidak mempunyai kesulitan keuangan dan tidak mengalami kebangkrutan.
Ada beberapa indicator yang bisa memprediksi kebangkrutan. Salah satu
Sumbernya adalah analisis aliran kas untuk masa mendatang, sedangkan sumber lainnya adalah analisi strategi perusahaan. Sumber lain adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini dipakai untuk memprediksi kesulitan keuangan . sumber lainnya adalah informasi eksternal. Pada pasar keuangan yang sudah maju, lembaga penilai sudah berkembang dan informasi mereka bisa dipaki untuk memprediksi kemugkinan adanya kesulitan keuangan.
PREDIKSI KEBANGKRUTAN : ANALISIS UNIVARIATE
Pendekatan tunggal (univariate ) bisa dipakia untuk memprediksi kesulitan keuangan dengan asumsi bahwa distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang menglami kesulitan keuangan berbeda dengan distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang tidak mengalami kebangkrutan.
Penggunaan metode tersebut akan dijelaskan dengan menggunakan contoh berikut pada tahun 1970, beberapa perusahaan kereta api AS yang cukup besar mengalami kebangkrutan. Apakah rasio – rasio keuangan pada tahun – tahun sebelumnya bisa memperkirakan kebangkrutan tersebut? Berikut ini dua rasio keuangan yang dipilih untuk melihat apakah kebangkrutan perusahaan kereta api tersebut bisa dilihat melalui rasio – rasio keuangan pada tahun – tahun sebelumnya.
(1) Rasio biaya transportasi terhadap pendapatan operasional (BT/ PO). Biaya transportasi merupakan komponen biaya yang terbesar yang terjadi pada perusahaan kereta api , yang meliputi biaya operasional angkutan kerta, biaya gaji pegawai kereta dan biaya bahan baker. Pendapatan operasional terutama berasal dari karcis kereta yang terjual dan juga pendapatan dari beberapa sumber yang lain seperti pendapatan angkutan barang dan surat pos
(2) Rasio timed interst earned (TIE) yang merupakan rasio EBIT ( Earning Before Taxes)/Interst. Bunga atau interest disini adalah bunga dari kewajiban obligasi. Apabila diperoleh angka negatif, berarti perusahaan mempunyai earning( atau pendapatan) yang negative
Teknik penelitian titik cut off mengandung bahaya bahwa karakteristik spesifik perusahaan – perusahaan dalam sample akan sanagat mempengaruhi nilai cut off, dan dengan demikian titik cut off tersebut tidak representaif untuk perusahaan – perusaan lainnya. Untuk menghindari kemungkinan semacam tersebut, akuirisititik cut off bisa menggunakan perusahaan – perusahaan diluar sampel .
Empat variable yang menunjukkan perbedaaan antara perusahaan yang bangkrut dengan yang tidak bangkrut secara konsisten adalah
1. tingkat retun ( rate of return ). Perusahaan yang bangkrut mempunyai tingkat return yang lebih rendah.
2. penggunaan hutang. Perusahaan yang bangkrut menggunakan hutang yang lebih tinggi
3. perkindungan terhadap biaya tetap ( fixed payment coverage) . perusahaan yang bangkrut mempunyai perlindungan terhadap biaya tetap yang lebih kecil
4. fluktuasi retun saham. Perusahaan yang bangkrut mempunyai rata – rata return yang lebih rendah dan mempinayi fluktuasi return saham yang lebih tinggi.
PREDIKSI KEBANGKRUTAN : ANALISIS MULTIVARIATE
Salah satu kelemahan model univariate adalah kemungkinan terjadinya konflik antara variable – variable yang dijadikan prediksi. Untuk mengatasi masalah tersebut model multivariate dikembangkan. Variable bebas dalam model ini adalah rasio – rasio keuangan yang diperkirakan memprediksi kebangkrutan, sedangkan variable tidak bebas adalah prediksi kebangkrutan ( bangkrut dengan nilai 0 dan tidak bangkrut dengan nilai 1 ) atau profitabilitas kebangktutan ( 0 sampai 1, inklusif)
Teknik statisistik yang sering digunakan adalah analisis diskriminan untuk mengklasifikasikan observasi ke dalam dua kelompok : bangkrut dan tidak bangkrut. Teknis analisi logis atau probit juga sering digunakan untuk melihat profitabilitas suatu kejadian berdasrkan variabel – variabel tertentu. Analisis non parametik juga bisa digunakan.
Dengan menggunakan kasus kebangkrutan perusahaan kereta api, kita akan menggunakan dua variable untuk persamaan deskriminasi, yaitu variable rasio BT/PO(variable bebas X1) dan variable TIE(sebagai variable X2) . diasumsikan bahwa rasio – rasio yang dipakai berasal dari populasi denagn distribusi normal dan matriks varians kovarians kedua kelompok tersebut sama.
Persamaan diskriminan linear bisa ditulis sebagai berikut ini :
Zi = a X1 + B X2
Skor Z yang rendah berarti semakin besar kemungkiana untuk bangkrut. Koefisien negative variable X1 menandakan hubungan negative antara variable tersebut dengan skor Zi. Semakin tinggi nilai X1, semakin rendah nilai Zi dan semakin tinnggi kemungkina kebangkrutan. Nilai koefisien yang positif pada variable X2 menandakan bahwa semakin tinngi rasio TIE, semakin tinggi nilai skor Zi dan semakin kecil kemubgkinan bangkrut.
Banyak bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa kebangkrutan tidak hanya dipengaryhi oleh variable – variable intern saja ( dari perusahaan ), tetapi juga oleh variable – variable eksternal seperti perubahan tingkat bunga, turunnya kondisi perekonomian, atau perubahan tingkat pengganguran. Dengan bukti semacam ini multivariate bisa memasukkan variable – variable ekonomi makro untuk memprediksi kemubkinan kebangkrutan.
BUKTI – BUKTI INTERNAL
Salah satu masalah yang bisa dibahas adalah apakah ada kesamaan rasio keuangan yang bisa dipaki untuk memprediksi kebangkrutan untuk semua Negara, ataukah mempunyai kekhususan. Nilai Zi dicari dengan persamaaan diskriminan sebagai berikut ini :
Zi = 1,2 X1 +1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
Dimana ,
X1 = (Aktiva lancar – hutang lancar)/total aktiva
X2 = laba yang ditahan / total asset
X3 = laba sebelum bungan dan pajak / total asset
X4 = nilai pasar saham biasa dan prefern / nilai buku total hutang
X5 = penjualan / total asset
Masalah lain yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah banyak perusahaan yang tidak go public, dan dengan demikian tidak mempunayi nilai pasar. Untuk beberapa Negara seperti Indonesia, perusahaan semacam ini merupakan bagian terbesar yang ada. Altman kemudian mengembangkan model alternative dengan mengganti variable X4 ( nilai pasar saham prefern dan biasa/ nilai buku total hutang). Dengan cara demikian model tersebut bisa dipakai bisa untuk perusahaan yang go public maupun perusahaan yang tidak go public.
Berdasarkan komentar bisa diajukan dalam kiatannya dengan model kebangkrutan semacam ini. Pertama, sampai sejauh ini sangat sedikit pembicaraan teori yang bisa mengarah penelitian kebangkrutan. Dengan semakin sedikitnya teori tersebut, prediksi kebangkrutan lebih diarhkan ke pencarain – pencarian variabel - variabel relevan dengan coba – coba.
Dengan metode pencarian semacam ini, peneliti perlu memperhatiakn kemungkinan adanya bias, yaitu model tersebut hanya mempunyai karakteristik yang mempunyai sample tersebut. Untuk menghindari kemungkinan semacam ini, sample bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Dengan kelompok pertama, analis mencari model prediksi kebangkrutan, kemudian model tersebut diuji validitasnya dengan menggunakan kelompok kedua. Varians yang lain adalah dengan menggunakan beberapa metode.
Penelitian menunjukan bahwa interpretasi prediksi tidak begitu sensitive terhadap perbedaan model – model statistic yang dipilih. Sebagai contoh suatu penelitian berkesimpulan bahwa untuk suatu set variable tertentu, penggunaan model diskriminasi linear, model diskrimasi kuadrat dan model logit, menghasilkan tingkat akurasi yang hampir sama.
Sedangkan peneliti masalah prediksi menggunakan data beberapa periode sebelum kebangkrutan, misal satu, dua, tiga, empat tahun sebelum kebangkrutan.
Tetapi dalam kenyataannya analisis tidak pernah tau kapan bangkrut. Pilihan waktu untuk menyatakan bangkrut sangat tergantung dari beberapa factor seperti kemapuan bank untuk membantu restrukturisasi keuangan, kebangkrutan perusahaan lain, dan negosiasi dan pekerja.
Sampel yang dipilih semacam ini juga membuat sulit untuk menarik kesimpulan terhadap populasi secara keseluruan. Sampel yang baik tentunaya sampel yang mewakili populasi secara keseluruan.
Kalau penelitian kebangkrutan dinilai dari sumbanganya terhadap pengambilan keputusan akan terasa bahwa penelitian kebangkrutan memberi sumbangan yang cukup substansial. Karena keputusan akan lebih baik dengan adanya informasi kebangkrutan ini.
ALK BAB 14
BAB 14
ANALISIS PEMBERIAN PINJAMAN
KETENTUAN DAN RISIKO KEUANGAN
PEMBERIAN pinjaman meliputi beberapa aspek. Pada waktu nasabah mendekati bank, ada beberapa tahap yang akan dilalui oleh nasabah tersebut meliputi evaluasi oleh bank; penyusunan perjanjian simpan pinjam seperti penentuan tingkat bunga, penentuan beberapa batasan yang bertujuan melindungi kepentingan pemberi pinjaman (bank); dan monitoring oleh pihak bank.
Sumber informasi yang bisa diperoleh untuk membantu pengambilan keputusan pinjaman ini antara lain :
1. Nasabah yang akan menginginkan pinjaman. Informasi ini meliputi informasi laporan keuangan masa lalu, informasi proyeksi keuangan, deskripsi aset yang dijadikan jaminan, dan detail perencanaan bisnis dan pengalaman manajemen.
2. File pihak pemberi dana. Jika perusahaan sudah menjadi nasabah bank, bank mempunyai file nasabah dan informasi masa lalu nasabah dalam kaitannya dengan bank bisa dianalisis. Bahkan jika perusahaan masih baru (calon nasabah), informasi mengenai perusahaan –perusahaan lain yang serupa (satu industri) bisa digunakan sebagai perbandingan.
3. Asosiasi bisnis. Asosiasi bisnis bisa memberikan informasi mengenai perilaku dan kondisi anggota-anggotanya. Informasi tersebut bisa digunakan untuk mengevaluasi suatu perusahaan.
4. Informasi pihak eksternal. Pada beberapa negara maju informasi eksternal tersedia dan bisa diperoleh relatif mudah. Sebagai contoh Dun & Bradstreet (perusahaan pe-rating Amerika Serikat) menyediakan informasi mengenai perusahaan kecil. Perusahaan pe-rating lain seperti Standard & Poors memberi rangking surat-surat berharga dengan nilai-nilai seperti AAA (untuk yang paling rendah risikonya). Informasi semacam ini bisa dipakai dalam analisis pinjaman.
5. Informasi Pasar Modal. Beberapa informasi dari pasar modal seperti harga saham, volume penjualan bisa dipakai sebagai informasi tambahan dalam analisis pinjaman. Laporan dari perusahaan broker bisa memberi informasi mengenai kualitas manajemen dan perkembangan-perkembangan masa mendatang.
6. Laporan Industri dan Ekonomi secara Umum. Laporan asosiasi perdagangan, peramalan ekonomi yang dibuat oleh ekonom, laporan dari lembaga-lembaga pemerintah, laporan dari Biro Pusat Statistik mengenai uang beredar, pendapatan nasional, dan inflasi bisa dipakai untuk menganalisis pinjaman.
Tahapan dalam proses pinjaman mencakup tiga hal :
1. Persetujuan Pinjaman.
2. Monitor Pinjaman.
3. Pelunasan Pinjaman.
Tabel 14.2 Rasio Keuangan yang Dianggap Penting dalam Pengambilan Keputusan Pinjaman
Rasio Keuangan Rata-rata rating
1. Hutang/Modal Saham
2. Rasio Lancar
3. Aliran Kas/Proporsi Hutang Jangka Panjang yang jatuh tempo tahun ini
4. Fixed charged Coverage
5. Profit margin bersih sesudah pajak
6. Bunga bersih yang diperoleh
7. Profit Margin bersih sebelum pajak
8. Degree of Financial Leverage
9. Perputaran Persediaan dalam hari
10. Perputaran Piutang Dagang (hari)
Catatan : 1,2,3 - Kurang penting
4,5,6,7 - Penting secara umum (Rata-rata) 8,9,10 - Sangat penting
Pertimbangan yang biasa dihasilkan oleh analis kredit adalah sebagai berikut :
1. Lancar. Risiko yang normal
2. Diperhatikan secara khusus. Ada bukti-bukti kelemahan pada kondisi keuangan nasabah atau skedul pembayaran yang tidak realistis.
3. Di bawah Standar. Tren keuangan yang semakin jelek, atau perkembangan manajerial, ekonomi, dan politik yang membutuhkan penanganan yang cepat.
4. Meragukan. Pembayaran penuh hutang dipertanyakan. Beberapa kerugian sangat mungkin terjadi. Bunga pinjaman tidak diperoleh.
5. Kerugian. Kredit dipertimbangkan tidak kembali.
Studi untuk memprediksi kelima pertimbangan di atas menghasilkan persamaan sebagai berikut :
Yi = -3,90 + 6,41 x Dei – 1,12 x FCCi + 0,664 x SDi
Dimana
DEi = (Hutang jangka panjang + hutang lancar)/Total Aset
FCCi = Dana dari operasi/ (Biaya bunga + komitmen biaya sewa + rata -rata hutang yang akan lunas dalam jangka waktu tiga tahun)
SDi = Jumlah tahun yang berurutan perusahaan mengalami penurunan penjualan
Begitu juga akurasi model tersebut dengan menggunakan kredit di luar sampel (uji validasi).
Klasifikasi Kredit Sampel Estimasi Sampel Validasi
Lancar
Diperhatikan Khusus
Substandar
Meragukan 93%
44%
80%
60% 94%
29%
30%
50%
Model tersebut memprediksi kredit lancar dengan cukup baik pada dua kategori sampel, tetapi tidak begitu baik untuk tiga kategori kredit yang lainnya. Model yang tidak begitu baik hasilnya tersebut disebabkan beberapa kemungkinan: (1) Staf kredit menggunakan lebih dari tiga variabel yang dibicarakan di atas (2) Data-data dalam model di atas tidak menunjukkan hubungan yang sifatnya linear (3) Hanya sedikit terjadi keseragaman pendapat antara para staf kredit mengenai variabel yang bisa masuk dalam model tersebut.
Tabel 14.3. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan rating kredit oleh Dun & Bradstreet
Rating Tinggi Baik Fair Terbatas
Deskripsi Jika semua kondisi di bawah ini memuaskan Jika sebagian besar kondisi ini memuaskan Dipandang baik, tetapi beberapa variabel tidak bagus Risiko kredit semakin besar, Reputasi terbatas
Pembayaran Memuaskan. Ada penjelasan memadai terhadap kelambatan yang mungkin terjadi Secara umum memuaskan. Penjelasan memadai terhadap kelemahan Kelemahan yang cukup signifikan Signifikan bahkan kelambatan yang kronis
Keuangan Laporan keuangan secara teratur diperoleh. Ada angka-angka perbandingan. Kondisi bagus. Tren yang menaik Laporan diperoleh kondisi lumayan. Tren biasanya cukup Laporan diperoleh. Kondisi tidak seimbang. Kerugian operasional dan aliran kas tidak bagus. Hutang cukup besar Laporan diperoleh. Kondisi tidak seimbang Kerugian dan hutang semakin besar.
Sejarah Satu tahun setidak-tidaknya 3 tahun lebih disukai. Jumlah yang cukup terhadap kepemilikan Tidak ada minimum tahun jika faktor lain memuaskan. Jaminan yang memadai terhadap kepemilikan Jaminan yang memadai terhadap kepemilikan Jaminan yang memadai terhadap kepemilikan
Yang lainnya Pengalaman dalam semua aspek manajemen bisnis. Tidak ada kegagalan bisnis akhir-akhir ini yang akan berakibat buruk terhadap bisnis Jika baru, pengalaman pada pengelolaan bisnis yang sukses dimasa lalu. Tidak ada kegagalan bisnis akhir-akhir ini. Mungkin kekurangan pengalaman. Mempertimbangkan pengaruh kegagalan terhadap bisnis saat ini Mungkin kurang pengalaman. Mempertimbangkan pengaruh kegagalan terhadap bisnis saat ini.
Catatan : Faktor lain yang dipertimbangkan untuk penilaian ini termasuk : operasi atau lokasi, catatan bank, informasi publik, faktor-faktor ekonomi secara umum, kondisi industri atau lokal.
BEBERAPA MASALAH DALAM PENGGUNAAN MODEL KUANTITATIF
Masalah mungkin timbul dalam pemilihan sampel untuk pembuatan model. Jika pembuatan model menggunakan catatan-catatan yang ada saat ini dalam perusahaan, maka model tersebut barang kali tidak bisa dipakai untuk calon nasabah (yang baru), karena sampel yang digunakan tersebut telah diseleksi oleh sistem seleksi yang ada saat ini. Sampel tersebut tidak mewakili nasabah yang baru (calon). Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menerima semua permintaan kredit, tanpa melakukan seleksi dengan menggunakan sistem seleksi yang ada untuk periode waktu tertentu. Setelah itu analis menggunakan data tersebut (yang terdiri dari kredit macet dan lancar) untuk membuat model.
Pemilihan variabel bebas biasanya pada beberapa hal :
1. Pengalaman perusahaan pada masa lalu
2. Penelitian-penelitian terdahulu
3. Metode pencarian model terbaik dengan menggunakan teknik statistik, misal regresi atau diskriminan stepwise.
Sebuah penelitian mengenai kredit konsumen menemukan variabel-variabel berikut yang signifikan untuk prediksi risiko kredit, dengan menggunakan analisis univariate :
1. Status rumah
2. Tabungan di Bank
3. Tujuan kredit
4. Persyaratan kredit (jumlah pembayaran bulanan)
Kemudian analisis stepwise dilakukan dan hasil yang diperoleh adalah persamaan terbaik dengan delapan variabel yaitu :
1. Status rumah (sewa, beli)
2. Tabungan
3. Tujuan kredit
4. Jumlah keluarga yang ditanggung
5. Jumlah pembayaran bulanan
6. Umur peminjam
7. Besarnya kredit
8. Status perkawinan.
ANALISIS PEMBERIAN PINJAMAN
KETENTUAN DAN RISIKO KEUANGAN
PEMBERIAN pinjaman meliputi beberapa aspek. Pada waktu nasabah mendekati bank, ada beberapa tahap yang akan dilalui oleh nasabah tersebut meliputi evaluasi oleh bank; penyusunan perjanjian simpan pinjam seperti penentuan tingkat bunga, penentuan beberapa batasan yang bertujuan melindungi kepentingan pemberi pinjaman (bank); dan monitoring oleh pihak bank.
Sumber informasi yang bisa diperoleh untuk membantu pengambilan keputusan pinjaman ini antara lain :
1. Nasabah yang akan menginginkan pinjaman. Informasi ini meliputi informasi laporan keuangan masa lalu, informasi proyeksi keuangan, deskripsi aset yang dijadikan jaminan, dan detail perencanaan bisnis dan pengalaman manajemen.
2. File pihak pemberi dana. Jika perusahaan sudah menjadi nasabah bank, bank mempunyai file nasabah dan informasi masa lalu nasabah dalam kaitannya dengan bank bisa dianalisis. Bahkan jika perusahaan masih baru (calon nasabah), informasi mengenai perusahaan –perusahaan lain yang serupa (satu industri) bisa digunakan sebagai perbandingan.
3. Asosiasi bisnis. Asosiasi bisnis bisa memberikan informasi mengenai perilaku dan kondisi anggota-anggotanya. Informasi tersebut bisa digunakan untuk mengevaluasi suatu perusahaan.
4. Informasi pihak eksternal. Pada beberapa negara maju informasi eksternal tersedia dan bisa diperoleh relatif mudah. Sebagai contoh Dun & Bradstreet (perusahaan pe-rating Amerika Serikat) menyediakan informasi mengenai perusahaan kecil. Perusahaan pe-rating lain seperti Standard & Poors memberi rangking surat-surat berharga dengan nilai-nilai seperti AAA (untuk yang paling rendah risikonya). Informasi semacam ini bisa dipakai dalam analisis pinjaman.
5. Informasi Pasar Modal. Beberapa informasi dari pasar modal seperti harga saham, volume penjualan bisa dipakai sebagai informasi tambahan dalam analisis pinjaman. Laporan dari perusahaan broker bisa memberi informasi mengenai kualitas manajemen dan perkembangan-perkembangan masa mendatang.
6. Laporan Industri dan Ekonomi secara Umum. Laporan asosiasi perdagangan, peramalan ekonomi yang dibuat oleh ekonom, laporan dari lembaga-lembaga pemerintah, laporan dari Biro Pusat Statistik mengenai uang beredar, pendapatan nasional, dan inflasi bisa dipakai untuk menganalisis pinjaman.
Tahapan dalam proses pinjaman mencakup tiga hal :
1. Persetujuan Pinjaman.
2. Monitor Pinjaman.
3. Pelunasan Pinjaman.
Tabel 14.2 Rasio Keuangan yang Dianggap Penting dalam Pengambilan Keputusan Pinjaman
Rasio Keuangan Rata-rata rating
1. Hutang/Modal Saham
2. Rasio Lancar
3. Aliran Kas/Proporsi Hutang Jangka Panjang yang jatuh tempo tahun ini
4. Fixed charged Coverage
5. Profit margin bersih sesudah pajak
6. Bunga bersih yang diperoleh
7. Profit Margin bersih sebelum pajak
8. Degree of Financial Leverage
9. Perputaran Persediaan dalam hari
10. Perputaran Piutang Dagang (hari)
Catatan : 1,2,3 - Kurang penting
4,5,6,7 - Penting secara umum (Rata-rata) 8,9,10 - Sangat penting
Pertimbangan yang biasa dihasilkan oleh analis kredit adalah sebagai berikut :
1. Lancar. Risiko yang normal
2. Diperhatikan secara khusus. Ada bukti-bukti kelemahan pada kondisi keuangan nasabah atau skedul pembayaran yang tidak realistis.
3. Di bawah Standar. Tren keuangan yang semakin jelek, atau perkembangan manajerial, ekonomi, dan politik yang membutuhkan penanganan yang cepat.
4. Meragukan. Pembayaran penuh hutang dipertanyakan. Beberapa kerugian sangat mungkin terjadi. Bunga pinjaman tidak diperoleh.
5. Kerugian. Kredit dipertimbangkan tidak kembali.
Studi untuk memprediksi kelima pertimbangan di atas menghasilkan persamaan sebagai berikut :
Yi = -3,90 + 6,41 x Dei – 1,12 x FCCi + 0,664 x SDi
Dimana
DEi = (Hutang jangka panjang + hutang lancar)/Total Aset
FCCi = Dana dari operasi/ (Biaya bunga + komitmen biaya sewa + rata -rata hutang yang akan lunas dalam jangka waktu tiga tahun)
SDi = Jumlah tahun yang berurutan perusahaan mengalami penurunan penjualan
Begitu juga akurasi model tersebut dengan menggunakan kredit di luar sampel (uji validasi).
Klasifikasi Kredit Sampel Estimasi Sampel Validasi
Lancar
Diperhatikan Khusus
Substandar
Meragukan 93%
44%
80%
60% 94%
29%
30%
50%
Model tersebut memprediksi kredit lancar dengan cukup baik pada dua kategori sampel, tetapi tidak begitu baik untuk tiga kategori kredit yang lainnya. Model yang tidak begitu baik hasilnya tersebut disebabkan beberapa kemungkinan: (1) Staf kredit menggunakan lebih dari tiga variabel yang dibicarakan di atas (2) Data-data dalam model di atas tidak menunjukkan hubungan yang sifatnya linear (3) Hanya sedikit terjadi keseragaman pendapat antara para staf kredit mengenai variabel yang bisa masuk dalam model tersebut.
Tabel 14.3. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan rating kredit oleh Dun & Bradstreet
Rating Tinggi Baik Fair Terbatas
Deskripsi Jika semua kondisi di bawah ini memuaskan Jika sebagian besar kondisi ini memuaskan Dipandang baik, tetapi beberapa variabel tidak bagus Risiko kredit semakin besar, Reputasi terbatas
Pembayaran Memuaskan. Ada penjelasan memadai terhadap kelambatan yang mungkin terjadi Secara umum memuaskan. Penjelasan memadai terhadap kelemahan Kelemahan yang cukup signifikan Signifikan bahkan kelambatan yang kronis
Keuangan Laporan keuangan secara teratur diperoleh. Ada angka-angka perbandingan. Kondisi bagus. Tren yang menaik Laporan diperoleh kondisi lumayan. Tren biasanya cukup Laporan diperoleh. Kondisi tidak seimbang. Kerugian operasional dan aliran kas tidak bagus. Hutang cukup besar Laporan diperoleh. Kondisi tidak seimbang Kerugian dan hutang semakin besar.
Sejarah Satu tahun setidak-tidaknya 3 tahun lebih disukai. Jumlah yang cukup terhadap kepemilikan Tidak ada minimum tahun jika faktor lain memuaskan. Jaminan yang memadai terhadap kepemilikan Jaminan yang memadai terhadap kepemilikan Jaminan yang memadai terhadap kepemilikan
Yang lainnya Pengalaman dalam semua aspek manajemen bisnis. Tidak ada kegagalan bisnis akhir-akhir ini yang akan berakibat buruk terhadap bisnis Jika baru, pengalaman pada pengelolaan bisnis yang sukses dimasa lalu. Tidak ada kegagalan bisnis akhir-akhir ini. Mungkin kekurangan pengalaman. Mempertimbangkan pengaruh kegagalan terhadap bisnis saat ini Mungkin kurang pengalaman. Mempertimbangkan pengaruh kegagalan terhadap bisnis saat ini.
Catatan : Faktor lain yang dipertimbangkan untuk penilaian ini termasuk : operasi atau lokasi, catatan bank, informasi publik, faktor-faktor ekonomi secara umum, kondisi industri atau lokal.
BEBERAPA MASALAH DALAM PENGGUNAAN MODEL KUANTITATIF
Masalah mungkin timbul dalam pemilihan sampel untuk pembuatan model. Jika pembuatan model menggunakan catatan-catatan yang ada saat ini dalam perusahaan, maka model tersebut barang kali tidak bisa dipakai untuk calon nasabah (yang baru), karena sampel yang digunakan tersebut telah diseleksi oleh sistem seleksi yang ada saat ini. Sampel tersebut tidak mewakili nasabah yang baru (calon). Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menerima semua permintaan kredit, tanpa melakukan seleksi dengan menggunakan sistem seleksi yang ada untuk periode waktu tertentu. Setelah itu analis menggunakan data tersebut (yang terdiri dari kredit macet dan lancar) untuk membuat model.
Pemilihan variabel bebas biasanya pada beberapa hal :
1. Pengalaman perusahaan pada masa lalu
2. Penelitian-penelitian terdahulu
3. Metode pencarian model terbaik dengan menggunakan teknik statistik, misal regresi atau diskriminan stepwise.
Sebuah penelitian mengenai kredit konsumen menemukan variabel-variabel berikut yang signifikan untuk prediksi risiko kredit, dengan menggunakan analisis univariate :
1. Status rumah
2. Tabungan di Bank
3. Tujuan kredit
4. Persyaratan kredit (jumlah pembayaran bulanan)
Kemudian analisis stepwise dilakukan dan hasil yang diperoleh adalah persamaan terbaik dengan delapan variabel yaitu :
1. Status rumah (sewa, beli)
2. Tabungan
3. Tujuan kredit
4. Jumlah keluarga yang ditanggung
5. Jumlah pembayaran bulanan
6. Umur peminjam
7. Besarnya kredit
8. Status perkawinan.
BAB 15 ALK
BAB 15
INFORMASI PASAR DALAM ANALISIS KEUANGAN
INFORMASI pasar (dalam hal ini pasar keuangan) adalah informasi yang berasal dari pasar yang bisa digunakan untuk analisis keuangan. Dalam pasar keuangan yang efisien (informasi tersebar cepat), pasar mencerminkan informasi yang relevan. Dengan demikian informasi dari pasar bisa dimanfaatkan oleh seorang analis keuangan. Sebagai contoh apabila prospek ekonomi membaik, harga-harga saham mempunyai kecenderungan untuk naik. Dengan demikian tanpa melakukan analisis prospek ekonomi secara langsung, seorang analis keuangan bisa memperkirakan prospek ekonomi hanya dengan menganalisis harga-harga saham.
Demikian juga dalam analisis risiko. Analisis bisa langsung menganalisis risiko perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan atau analisis aliran kas seperti yang dibicarakan pada bab-bab sebelumnya. Alternatif lain adalah dengan menggunakan informasi dari pasar. Berikut ini ringkasan simbol dan arti rating yang dikeluarkan oleh lembaga rating Moody’s dan Standard & Poor’s.
Moody’s Investors Service, Inc
Aaa Kualitas paling tinggi. Pokok pinjaman terjamin dan pembayaran bunga sangat terjamin kelancarannya.
Aa Kualitas tinggi. Mempunyai risiko jangka panjang yang relatif lebih tinggi dibandingkan Aaa.
A Kualitas baik. Banyak investasi yang baik, tetapi ada indikasi bahwa risiko akan naik dalam jangka panjang.
Baa Kualitas menengah. Jaminan tidak terlalu baik, tetapi juga tidak terlalu jelek. Kurang investasi yang sangat baguis, dan bisa dikatakan agak berbau spekulatif.
Ba Spekulatif. Perlindungan terhadap hutang pokok dan pembayaran bunganya reelatif tidak bagus.
B Karakteristik investasi yang bagus relatif kurang. Perlindungan terhadap pinjaman dan pembayaran bunga dalam jangka panjang relatif kecil.
Caa Kualitas jelek. Barangkali bisa bangkrut. Perlindungan terhadap pinjaman dan pembayaran bunga bisa dipertanyakan.
Ca Sangat spakulatif. Emisi obligasi bisa default (tidak terbayar) dan mempunyai banyak kelemahan atau kekurangan.
C Rating paling rendah. Sangat kecil memperoleh investasi yang baik.
Standard & Poors’s Corp
AAA Kualitas paling tinggi. Pinjaman obligasi dan bunganya terjamin baik.
AA Kualitas tinggi. Mempunyai risiko yang lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan AAA
A Kualitas baik. Masih dipertanyakan apabila terjadi kondisi buruk dalam jangka panjang.
BBB Cukup. Kondisi yang jelek bisa mengancam pokok pinjaman atau bunganya.
BB Dipertanyakan. Menghadapi ketidakpastian yang tinggi atau kondisi yang tidak bagus yang bisa mengancam pokok pinjaman atau pembayaran bunganya.
B Spekulatif. Kondisi buruk memungkinkan akan merusak kemampuan membayar pokok pinjaman atau bunganya.
CCC Risiko tinggi. Telah diidentifikasi sebagai rentan terhadap kebangkrutan (tidak mampu membayar pinjaman atau bunganya).
D Dalam proses kebangkrutan.
Misalkan suatu perusahaan sudah di-rating-kan ke dalam salah satu kategori di atas, seorang analis bisa membuat kesimpulan mengenai tingkat risiko perusahaan tersebut.
RISIKO DAN RETURN
Risiko sering diartikan sebagai suatu kejadian buruk yang menimpa kita. Risiko dari konteks di atas adalah penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Semakin tinggi risiko akan semakin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan.
PENGUKURAN RETURN (TINGKAT KEUNTUNGAN)
Return biasanya didefinisikan sebagai perubahan nilai antara periode t+1 dengan periode t ditambah pendapatan-pendapatan lain yang terjadi selama periode t tersebut. Periode yang digunakan tergantung pertimbangan kita. Kadang-kadang kita menggunakan periode bulanan (satu bulan) atau satu minggu. Dalam hal ini return yang terjadi berarti return bulanan atau return mingguan.
PENGUKURAN RISIKO
Konsep penyimpangan dari hasil yang diharapkan menjadi dasar pengukuran risiko. Teknik statistik standar deviasi bisa digunakan untuk melihat sejauh mana penyimpangan dari suatu hasil yang diharapkan. Dengan demikian teknik standar deviasi bisa dipakai untuk melihat risiko suatu investasi.
Teknik statistik yang lain adalah menghitung koefisien variasi (coefficient of variation) yang merupakan hasil permbagian standar deviasi dengan return yang diharapkan. Variabel varians, standar deviasi dan koefisien variasi merupakan indikator resiko investasi. Risiko mempunyai korelasi positif dengan return yang terjadi. Saham mempunyai return yang paling tinggi dengan risiko yang tinggi pula, sedangkan treasury bills mempunyai risiko dan return yang paling rendah.
Seringkali analis mengalami kesulitan untuk menaksir probabilitas suatu kejadian. Untuk mengatasi kesulitan tersebut kita biasanya menggunakan data historis untuk menghitung return yang diharapkan dan standar deviasi return saham-saham tersebut. Penggunaan semacam itu mengasumsikan bahwa kondisi masa mendatang sama dengan kondisi masa lalu, dengan demikian return dan standar deviasi masa lalu bisa dipakai untuk menaksir return dan risiko masa mendatang.
RISIKO DAN RETURN DALAM KONTEKS PORTOFOLIO
Portofolio bisa diartikan sebagai sekumpulan lebih dari satu aset. Misalkan kita mempunyai empat saham, kita bisa mengatakan bahwa kita mempunyai portofolio saham yang terdiri dari empat saham. Perhitungan return untuk portofolio relatif mudah, tetapi tidak demikian halnya dengan perhitungan risiko portofoliao.
Return portofolio merupkan rata-rata tertimbang dari return individual seperti berikut ini:
Rp = w1 R1 + w2 R2 + ... ... + wN RN
di mana :
Rp = Return portofolio
w1, w2, .. wN = bobot untuk masing-masing investasi
R1, R2, .. RN = Return untuk tiap-tiap alternatif investasi
MODEL INDEKS TUNGGAL DAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL
Model indeks tunggal didasarkan pada pemikiran sebagai berikut ini: pada waktu kondisi perekonomian baik, ada kecenderungan harga-harga saham individual akan membaik pula, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian daripada mengukur return antarsham, kita bisa mengukur korelasi antarsaham dengan cara tidak langsung, yaitu dengan melihat korelasi antara return saham dengan faktor tertentu yang mempengaruhi semua saham (misal kondisi perekonomian). Model semacam itu bisa ditulis sebagai berikut:
Ri = a + βi CF
di mana :
Ri = Return suatu saham
Βi = kepekaan return saham i terhadap faktor bersama (Common Factor)
CF = Common Factor (Faktor Bersama)
Faktor bersama yang sering digunakan adalah return pasar (Market Return, Rm) sehingga model di atas sering dinamakan sebagai market model, dan ditulis sebagai berikut:
Ri = α + βi Rm + ei
Karena menggunakan variabel tunggal, yaitu Rm, sebagai contoh common factor, model tersebut sering juga disebut sebagai model indeks tunggal.
Pengukuran risiko dalam model indeks tunggal dirumuskan sebagai berikut:
ói2 = βi2 óm2 +óerror2
Dengan model indeks tunggal semacam itu, apabila ingin menghitung varians portofoliao, maka tinggal menghitung (2N + 1) parameter (βi dan ói error untuk saham dan varians pasar).
Pada waktu kita membicarakan diversifikasi, kita melihat bahwa diversifikasi sempurna tidak bisa menghilangkan risiko. Risiko yang bisa dihilangkan tersebut disebut sebagai risiko sistematis. Contoh risiko sistematis itu adalah inflasi yang mempunyai efek pada semua saham, bukan hanya pada satu atau dua saham. Perhatikan juga bahwa diversifikasi bisa menghilangkan sebagian besar risiko (varians), dan diversifikasi saham sangat mudah dilakukan. Karena itu risiko yang relevan adalah risiko sistematis, risiko yang bisa didiversifikasikan tidak pantas dihargai. Dengan dasar pemikiran semacam itu, model CAPM diformulasikan sebagai berikut:
Ri = Rf + βi (Rm – Rf)
di mana :
Rf = Return investari bebas risiko
βi = Beta saham i (indikator risiko sistematis)
Rm = Return pasar
Return pasar bisa dihitung melalui return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Return investasi bebas risiko bisa dilihat dari tingkat bunga deposito bank pemerintah, karena diasumsikan bank pemerintah mempunyai perlindungan implisit, sehingga bank pemerintah tidak mungkin bangkrut.
Persamaan diatas juga bisa dibaca sebagai berikut. Return dari suatu saham terdiri dari return bebas risiko ditambah premium risiko, yaitu βi (Rm–Rf). Kalau kita ingin melakukan investasi pada investasi berisiko, maka tingkat keuntungan yang diisyaratkan harus lebih besar dibandingkan tingkat keuntungan deposito. Premium risiko tergantung dari besar/kecilnya risiko sistematis. Semakin besar risiko sistematis, akan semakin besar tingkat keuntungan yang diisyaratkan.
Beta bisa dihitung dengan formula sebagai berikut:
Βi = Kovarians Ri, Rm / Varians Rm
Kalau kita mempunyai data historis, kita bisa meregres return pasar terhadap return saham seperti dalam model indeks tunggal di muka. Koefisien regresi yang diperoleh merupakan beta saham tersebut.
Beta saham tersebut bisa diinterpretasikan sebagai ukuran kepekaan return saham terhadap return pasar. Apabila beta saham >1, perubahan return pasar sebesar 10% akan mengakibatkan return saham berubah dari 10%. Saham semacam itu disebut sebagai saham agresif, fluktuasi return saham tersebut lebih besar dibandingkan dengan fluktuasi return pasar. Sebaliknya, kalau beta saham <1, perubahan return pasar sebesar 10% akan menyebabkan return saham berubah kurang dari 10%. Saham semacam ini disebut sebagai saham defensif, fluktuasi saham tersebut lebih kecil dibandingkan dengan fluktuasi return pasar.
EFISIENSI PASAR
Apabila kita membicarakan efisiensi pasar, istilah efisiensi di sini mempunyai arti yang sangat spesifik. Biasanya efisiensi sering dikaitkan dengan perbandingan output input, di mana semakin besar perbandingan O/I akan semakin efisien suatu usaha. Efisiensi pasar bermula dari usaha seorang ahli statistik Mauruce Kendall yang berusaha melihat pola pergerakan harga saham dan komoditas.
Informasi baru selalu mengalir ke pasar modal karena ada dua hal:
(1) Analis keuangan yang banyak (dan pintar)
(2) Kompetisi antar para analis
Analis yang banyak dan pintar selalu berusaha mencari informasi yang relevan di pasar modal, yang pada dasarnya selalu berusaha mencari jalan untuk memperoleh keuntungan di pasar modal. Kompetisi antar para analis menjamin kualitas analisis keuangan. Kedua hal tersebut membuat informasi selalu mengalir ke pasar modal.
Ada dua tipe analis yaitu:
1) Analis teknikan (chartist).
Analis teknikal berusaha mencari pola pergerakan harga saham masa lalu. Analis semacam ini sering juga disebut sebagai chartist karena mereka berusaha membuat plot (chart) pergerakan harga saham.
2) Analis fundamental.
Analis fundamental berusaha mencari informasi yang relevan untuk menentukan saham mana yang undervalued (untuk dibeli) serta saham mana yang overvalued (untuk dijual).
Untuk memudahkan analisis, efisiensi pasar modal dibagi menjadi tiga bagian:
(1) Efisiensi bentuk lemah: harga saham mencerminkan informasi masa lampau.
(2) Efisiensi bentuk setengah kuat: harga saham mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan.
(3) Efisiensi bentuk kuat: harga saham mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan dan informasi yang private (tidak dipublikasikan).
Implikasi yang bisa ditarik dari efisiensi pasar modal adalah pelaku pasar tidak mungkin memperoleh return abnormal (excess return) secara konsisten. Pengujian empiris terhadap validitas efisiensi pasar modal dilakukan untuk menguji implikasi efisiensi pasar tersebut. Dengan kata lain pasar dikatakan efisien dalam:
(1) Bentuk lemah apabila strategi investasi dengan menggunakan informasi harga masa lalu seperti analisis teknikal tidak akan menghasilkan keuntungan abnormal secara konsisten,
(2) Bentuk setengah kuat apabila strategi investasi dengan menggunakan informasi yang dipublikasikan seperti analisis fundamental tidak akan menghasilkan keuntungan abnormal secara konsisten,
(3) Bentuk kuat apabila strategi investasi dengan menggunakan informasi yang sifatnya publik dan private tidak akan menghasilkan keuntungan abnormal secara konsisten.
INFORMASI PASAR DALAM ANALISIS KEUANGAN
INFORMASI pasar (dalam hal ini pasar keuangan) adalah informasi yang berasal dari pasar yang bisa digunakan untuk analisis keuangan. Dalam pasar keuangan yang efisien (informasi tersebar cepat), pasar mencerminkan informasi yang relevan. Dengan demikian informasi dari pasar bisa dimanfaatkan oleh seorang analis keuangan. Sebagai contoh apabila prospek ekonomi membaik, harga-harga saham mempunyai kecenderungan untuk naik. Dengan demikian tanpa melakukan analisis prospek ekonomi secara langsung, seorang analis keuangan bisa memperkirakan prospek ekonomi hanya dengan menganalisis harga-harga saham.
Demikian juga dalam analisis risiko. Analisis bisa langsung menganalisis risiko perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan atau analisis aliran kas seperti yang dibicarakan pada bab-bab sebelumnya. Alternatif lain adalah dengan menggunakan informasi dari pasar. Berikut ini ringkasan simbol dan arti rating yang dikeluarkan oleh lembaga rating Moody’s dan Standard & Poor’s.
Moody’s Investors Service, Inc
Aaa Kualitas paling tinggi. Pokok pinjaman terjamin dan pembayaran bunga sangat terjamin kelancarannya.
Aa Kualitas tinggi. Mempunyai risiko jangka panjang yang relatif lebih tinggi dibandingkan Aaa.
A Kualitas baik. Banyak investasi yang baik, tetapi ada indikasi bahwa risiko akan naik dalam jangka panjang.
Baa Kualitas menengah. Jaminan tidak terlalu baik, tetapi juga tidak terlalu jelek. Kurang investasi yang sangat baguis, dan bisa dikatakan agak berbau spekulatif.
Ba Spekulatif. Perlindungan terhadap hutang pokok dan pembayaran bunganya reelatif tidak bagus.
B Karakteristik investasi yang bagus relatif kurang. Perlindungan terhadap pinjaman dan pembayaran bunga dalam jangka panjang relatif kecil.
Caa Kualitas jelek. Barangkali bisa bangkrut. Perlindungan terhadap pinjaman dan pembayaran bunga bisa dipertanyakan.
Ca Sangat spakulatif. Emisi obligasi bisa default (tidak terbayar) dan mempunyai banyak kelemahan atau kekurangan.
C Rating paling rendah. Sangat kecil memperoleh investasi yang baik.
Standard & Poors’s Corp
AAA Kualitas paling tinggi. Pinjaman obligasi dan bunganya terjamin baik.
AA Kualitas tinggi. Mempunyai risiko yang lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan AAA
A Kualitas baik. Masih dipertanyakan apabila terjadi kondisi buruk dalam jangka panjang.
BBB Cukup. Kondisi yang jelek bisa mengancam pokok pinjaman atau bunganya.
BB Dipertanyakan. Menghadapi ketidakpastian yang tinggi atau kondisi yang tidak bagus yang bisa mengancam pokok pinjaman atau pembayaran bunganya.
B Spekulatif. Kondisi buruk memungkinkan akan merusak kemampuan membayar pokok pinjaman atau bunganya.
CCC Risiko tinggi. Telah diidentifikasi sebagai rentan terhadap kebangkrutan (tidak mampu membayar pinjaman atau bunganya).
D Dalam proses kebangkrutan.
Misalkan suatu perusahaan sudah di-rating-kan ke dalam salah satu kategori di atas, seorang analis bisa membuat kesimpulan mengenai tingkat risiko perusahaan tersebut.
RISIKO DAN RETURN
Risiko sering diartikan sebagai suatu kejadian buruk yang menimpa kita. Risiko dari konteks di atas adalah penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Semakin tinggi risiko akan semakin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan.
PENGUKURAN RETURN (TINGKAT KEUNTUNGAN)
Return biasanya didefinisikan sebagai perubahan nilai antara periode t+1 dengan periode t ditambah pendapatan-pendapatan lain yang terjadi selama periode t tersebut. Periode yang digunakan tergantung pertimbangan kita. Kadang-kadang kita menggunakan periode bulanan (satu bulan) atau satu minggu. Dalam hal ini return yang terjadi berarti return bulanan atau return mingguan.
PENGUKURAN RISIKO
Konsep penyimpangan dari hasil yang diharapkan menjadi dasar pengukuran risiko. Teknik statistik standar deviasi bisa digunakan untuk melihat sejauh mana penyimpangan dari suatu hasil yang diharapkan. Dengan demikian teknik standar deviasi bisa dipakai untuk melihat risiko suatu investasi.
Teknik statistik yang lain adalah menghitung koefisien variasi (coefficient of variation) yang merupakan hasil permbagian standar deviasi dengan return yang diharapkan. Variabel varians, standar deviasi dan koefisien variasi merupakan indikator resiko investasi. Risiko mempunyai korelasi positif dengan return yang terjadi. Saham mempunyai return yang paling tinggi dengan risiko yang tinggi pula, sedangkan treasury bills mempunyai risiko dan return yang paling rendah.
Seringkali analis mengalami kesulitan untuk menaksir probabilitas suatu kejadian. Untuk mengatasi kesulitan tersebut kita biasanya menggunakan data historis untuk menghitung return yang diharapkan dan standar deviasi return saham-saham tersebut. Penggunaan semacam itu mengasumsikan bahwa kondisi masa mendatang sama dengan kondisi masa lalu, dengan demikian return dan standar deviasi masa lalu bisa dipakai untuk menaksir return dan risiko masa mendatang.
RISIKO DAN RETURN DALAM KONTEKS PORTOFOLIO
Portofolio bisa diartikan sebagai sekumpulan lebih dari satu aset. Misalkan kita mempunyai empat saham, kita bisa mengatakan bahwa kita mempunyai portofolio saham yang terdiri dari empat saham. Perhitungan return untuk portofolio relatif mudah, tetapi tidak demikian halnya dengan perhitungan risiko portofoliao.
Return portofolio merupkan rata-rata tertimbang dari return individual seperti berikut ini:
Rp = w1 R1 + w2 R2 + ... ... + wN RN
di mana :
Rp = Return portofolio
w1, w2, .. wN = bobot untuk masing-masing investasi
R1, R2, .. RN = Return untuk tiap-tiap alternatif investasi
MODEL INDEKS TUNGGAL DAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL
Model indeks tunggal didasarkan pada pemikiran sebagai berikut ini: pada waktu kondisi perekonomian baik, ada kecenderungan harga-harga saham individual akan membaik pula, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian daripada mengukur return antarsham, kita bisa mengukur korelasi antarsaham dengan cara tidak langsung, yaitu dengan melihat korelasi antara return saham dengan faktor tertentu yang mempengaruhi semua saham (misal kondisi perekonomian). Model semacam itu bisa ditulis sebagai berikut:
Ri = a + βi CF
di mana :
Ri = Return suatu saham
Βi = kepekaan return saham i terhadap faktor bersama (Common Factor)
CF = Common Factor (Faktor Bersama)
Faktor bersama yang sering digunakan adalah return pasar (Market Return, Rm) sehingga model di atas sering dinamakan sebagai market model, dan ditulis sebagai berikut:
Ri = α + βi Rm + ei
Karena menggunakan variabel tunggal, yaitu Rm, sebagai contoh common factor, model tersebut sering juga disebut sebagai model indeks tunggal.
Pengukuran risiko dalam model indeks tunggal dirumuskan sebagai berikut:
ói2 = βi2 óm2 +óerror2
Dengan model indeks tunggal semacam itu, apabila ingin menghitung varians portofoliao, maka tinggal menghitung (2N + 1) parameter (βi dan ói error untuk saham dan varians pasar).
Pada waktu kita membicarakan diversifikasi, kita melihat bahwa diversifikasi sempurna tidak bisa menghilangkan risiko. Risiko yang bisa dihilangkan tersebut disebut sebagai risiko sistematis. Contoh risiko sistematis itu adalah inflasi yang mempunyai efek pada semua saham, bukan hanya pada satu atau dua saham. Perhatikan juga bahwa diversifikasi bisa menghilangkan sebagian besar risiko (varians), dan diversifikasi saham sangat mudah dilakukan. Karena itu risiko yang relevan adalah risiko sistematis, risiko yang bisa didiversifikasikan tidak pantas dihargai. Dengan dasar pemikiran semacam itu, model CAPM diformulasikan sebagai berikut:
Ri = Rf + βi (Rm – Rf)
di mana :
Rf = Return investari bebas risiko
βi = Beta saham i (indikator risiko sistematis)
Rm = Return pasar
Return pasar bisa dihitung melalui return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Return investasi bebas risiko bisa dilihat dari tingkat bunga deposito bank pemerintah, karena diasumsikan bank pemerintah mempunyai perlindungan implisit, sehingga bank pemerintah tidak mungkin bangkrut.
Persamaan diatas juga bisa dibaca sebagai berikut. Return dari suatu saham terdiri dari return bebas risiko ditambah premium risiko, yaitu βi (Rm–Rf). Kalau kita ingin melakukan investasi pada investasi berisiko, maka tingkat keuntungan yang diisyaratkan harus lebih besar dibandingkan tingkat keuntungan deposito. Premium risiko tergantung dari besar/kecilnya risiko sistematis. Semakin besar risiko sistematis, akan semakin besar tingkat keuntungan yang diisyaratkan.
Beta bisa dihitung dengan formula sebagai berikut:
Βi = Kovarians Ri, Rm / Varians Rm
Kalau kita mempunyai data historis, kita bisa meregres return pasar terhadap return saham seperti dalam model indeks tunggal di muka. Koefisien regresi yang diperoleh merupakan beta saham tersebut.
Beta saham tersebut bisa diinterpretasikan sebagai ukuran kepekaan return saham terhadap return pasar. Apabila beta saham >1, perubahan return pasar sebesar 10% akan mengakibatkan return saham berubah dari 10%. Saham semacam itu disebut sebagai saham agresif, fluktuasi return saham tersebut lebih besar dibandingkan dengan fluktuasi return pasar. Sebaliknya, kalau beta saham <1, perubahan return pasar sebesar 10% akan menyebabkan return saham berubah kurang dari 10%. Saham semacam ini disebut sebagai saham defensif, fluktuasi saham tersebut lebih kecil dibandingkan dengan fluktuasi return pasar.
EFISIENSI PASAR
Apabila kita membicarakan efisiensi pasar, istilah efisiensi di sini mempunyai arti yang sangat spesifik. Biasanya efisiensi sering dikaitkan dengan perbandingan output input, di mana semakin besar perbandingan O/I akan semakin efisien suatu usaha. Efisiensi pasar bermula dari usaha seorang ahli statistik Mauruce Kendall yang berusaha melihat pola pergerakan harga saham dan komoditas.
Informasi baru selalu mengalir ke pasar modal karena ada dua hal:
(1) Analis keuangan yang banyak (dan pintar)
(2) Kompetisi antar para analis
Analis yang banyak dan pintar selalu berusaha mencari informasi yang relevan di pasar modal, yang pada dasarnya selalu berusaha mencari jalan untuk memperoleh keuntungan di pasar modal. Kompetisi antar para analis menjamin kualitas analisis keuangan. Kedua hal tersebut membuat informasi selalu mengalir ke pasar modal.
Ada dua tipe analis yaitu:
1) Analis teknikan (chartist).
Analis teknikal berusaha mencari pola pergerakan harga saham masa lalu. Analis semacam ini sering juga disebut sebagai chartist karena mereka berusaha membuat plot (chart) pergerakan harga saham.
2) Analis fundamental.
Analis fundamental berusaha mencari informasi yang relevan untuk menentukan saham mana yang undervalued (untuk dibeli) serta saham mana yang overvalued (untuk dijual).
Untuk memudahkan analisis, efisiensi pasar modal dibagi menjadi tiga bagian:
(1) Efisiensi bentuk lemah: harga saham mencerminkan informasi masa lampau.
(2) Efisiensi bentuk setengah kuat: harga saham mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan.
(3) Efisiensi bentuk kuat: harga saham mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan dan informasi yang private (tidak dipublikasikan).
Implikasi yang bisa ditarik dari efisiensi pasar modal adalah pelaku pasar tidak mungkin memperoleh return abnormal (excess return) secara konsisten. Pengujian empiris terhadap validitas efisiensi pasar modal dilakukan untuk menguji implikasi efisiensi pasar tersebut. Dengan kata lain pasar dikatakan efisien dalam:
(1) Bentuk lemah apabila strategi investasi dengan menggunakan informasi harga masa lalu seperti analisis teknikal tidak akan menghasilkan keuntungan abnormal secara konsisten,
(2) Bentuk setengah kuat apabila strategi investasi dengan menggunakan informasi yang dipublikasikan seperti analisis fundamental tidak akan menghasilkan keuntungan abnormal secara konsisten,
(3) Bentuk kuat apabila strategi investasi dengan menggunakan informasi yang sifatnya publik dan private tidak akan menghasilkan keuntungan abnormal secara konsisten.
Langganan:
Postingan (Atom)
