Selasa, 27 April 2010

AKUNTANSI KEPRILAKUAN

Aspek Keperilakuan Pada Perencanaan Laba dan Penganggaran
Penyusunan anggaran adalah suatu tugas yang berifat teknis. Aspek keperilakauan dan pengaggaran mengacu pada perilaku manusia yang muncul dalam proses penyususna anggaran dan perilaku manusia yang didorong ketika manuasi mencoba untuk hidup dengan anggaran. Anggaran menetapkan batasan terhadap apa yang dibeli dan berapa banyak yang dapat dibelanjakan. Anggaran membatasi tindakan manager, dan merupakan alasan mengapa kinerja manager dipantau secara kontinu dan standar terhadap mana hasil kinerja yang dibandingkan.
Beberapa fungsi dari anggaran yaitu:
1. Merupakan hasil akhir dari suatu proses perencanaan perusahaan.
2. Anggaran merupakan cetak biru perusahaan untuk bertindak, yang mencerminkan prioritas manajemen dalam alokasi sumber daya organisasi.
3. Berindak sebagai suatu alat komunikasi internal yang menghubungkan beragam depertemen atau devisi rganisasi antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam menyusun suatu anggaran atau rencana laba, ada beberapa langkah yaitu:
1. Menajeman puncak harus memutuskan apa yang menjadi tujuan jangka pendek perusahaan da strategi apa yang akan digunakan untuk mencapainnya.
2. Tujuan harus diterapkan dan sumber daya dialokasikan.
3. Harus menyusun suatu anggaran atau rencana laba yang komprehensif, dan disetujui oleh menajemen puncak. Kemudian anggaran di komunikasikan kepada karyawan yang kinerjanya dkendalikan.
4. Anggaran digunakan untuk mengendalikan biaya dan menentukan bidang-bidang masalah dalam organisasi dengan membandingkan hasil kinerja actual dengan tujua yang telah danggarkan secara periodic.

Konsekuensi Perilaku Disfungsional dalam Pembuatan Anggaran
Rasa Tidak Percaya
Alasan dari adanya rasa tidak percaya diri didasarkan pada keyakinan penyedia bahwa; anggaran cenderung untuk menyederhanakan situasi “rill” dan gagal untuk memungkinkan dimasukannya variasi dalam factor – factor eksternal, anggaran mencerinkan variable-variabel kuantitatif, anggaran hanya mengkonfirmasikan apa yang telah diketahui oleh penyelia, anggaran sering kali digunakan utuk memanipulasi penyedia sehingga ukuran kinerja yang diindikasikan dicurigai, laporan anggran menekankan pada hasil dan bukan pada alasan, anggaran mengganggu gaya kepemimpinan penyelia, dan anggran cenderung untuk menekan pada kegagalan.
Resistensi
Salah satu alasan utama dari resisensi anggaran adalah bahwa anggaran memadai dan membawa perubahan, sehingga merupakan suatu ancaman terhadap status quo. Selain itu juga, anggaran memerlukan waktu dan perhatian yang besar. Alasan tersebut dapat diatasi dengan mendidik manajer dan penyelia mengenai manfaat yang dapat dipeoleh dari penyusunan anggaran.
Konflik Internal
Konflik internal dapat menciptakan suatu lingkungan kerja yang kompetitif dan bermusuhan. Konflik dapat menyebabkan orang berfokus pada kebutuhan depertemenya sendiri secara eksklusif daripada kebutuhan dari organisasi secara total. Gejala umum dari konflik ini adalah ketidakmampuan untuk mencapai kerjasama antarpribadi dan antarkelompok selama proses penyusunan anggaran. Untuk mengakhiri situasi seperti ini, manajemen harus mengidentifikasikan dan mendiagnosis penyebabnya. Kemudian menghilangkan konflik internal dan mengembalikan hubungan kerja yang harmonis dan produktif dapat dimulai.
Efek Samping Lain yang Tidak Diinginkan
Salah satu dari hal ini adalah terbentuknya kelompok-kelompok informal yang kecil, yang bekerja menentang tujuan dari anggaran. Kelompok ini biasanya dibentuk untuk melawan konflik internal dan tekanan yang diciptaan oleh anggaran tersebut. Tujuan dari mereka adalah untuk mengurangi ketegangan. Tetapi, tujuannya dapat berlawanan dengan tujuan organisasi, dan dampak yang tidak diinginkan dari aktivitas mereka juga berlawanan dengan tujuan mereka yang dimaksudkan sebelumnya yaitu untuk mengurangi ketegangan.
Tekanan anggaran adalah bahaya bagi penyelia yang bertanggung jawab untuk memenuhi target tertentu. Karena penyedia seringkali tidak mampu melimpahkan tanggung jawab kepada bawahan, dan akhirnya melakukan berbagai tindakan yang disfungsional, yang salah satunya adalah mendistorsi proses pengukuran. Efek samping lainnya yang dapat berkembanga adalah penekanan yang berlebihan pada kinerja departemental dan kurang menekanankan pada inerja organisasi secara keseluruhan.
Untuk membuat anggaran berhasil, karyawan harus dibuat untuk menyadari bahwa fungsi anggaran sebagai wahana yang positif untuk opersai organisasi yang mulus.
Aspek keperilakuan pada evaluasi kerja
Sistem evaluasi kerja didisain dalam ukuran tiga unsur dasar: penampilan pribadi, pencapaian tujuan organisasi, dan rasio modal laba. Bawahan dinilai dari penampilan dasar pribadi mereka Faktor penampilan pribdai sangat subyektif karena menuntun oleh hasil managemen sistem. System individu angka di mereka accountabilitie dan penyesuaian dengan menulis sasaran hasil dan aturan penampilan.

Penentuan Sasaran
Penentuan sasaran yang sama untuk semua satuan. Berikut adalah catatan-catatan yang menjelaskan secara lebih detil unsur macam struktur gol dan evaluasi penampilan:
• Penjual seperangkat dan controled dengan pusat laba.
• Pendapatan lainnya mewakili jala memperkirakan bersama-sama berkedudukan pencarian dari penjual aktiva, pendapatan bunga, dan suka, dan bertekad dengan bersama-sama berkedudukan.
• Manufaktur berharga seperangkat dan dikendalikan oleh sistem biaya standar.
• menjual dan penghasilan administratif bertekad oleh ditepatkan rumus kaku dan mengatur, dengan setengah unsur zero-base menganggarkan.
• Menytibution pusat keuntungan salinan kredit untuk manfaat pusat distribusi memberi kepada divisi manufaktur.
• langsung overhead-actual termasuk demikian otem sebagai hutang yang tak terbayar dan sangu perangsang pimpinan, yang determinad dengan pusat laba.
• Bersama-sama berkedudukan merec overhead-allocated termasuk item seperti riset dan pengembangan, iklan, dan langsung bersama-sama berkedudukan pelayanan menuntut
• Operting manfaat mewakili jala item 1 throuht 7 dan digunakan sebagai suatu poin ukuran perangsang untuk pusat manfaat.
• Bersama-sama berkedudukan tidak langsung overhead-allocated terdiri pada dasarnya arus berharga siapa punya keuntungan jangka panjang secara alami
• Pajak bertekad atas dasar memperbaiki rumus, yang menggunakan tarif pajak efektif untuk pusat laba setelah mempertimbangkan semua tetap keuntungan pajak.
• Jala earing represesnt dasar untuk grup dan bersama-sama berkedudukan ukuran perangsang.
• Modal usaha disusun dari aktiva arus sebenarnya dan memperbaiki aktiva pusat laba, kurang alocated arus dan deferend pajak-pajak.
• Laba modal mempekerjakan menghitung oleh membagi modal usaha ke jala earing
• Receivabel hari mudah terlihat maksud ke monitor arus kas dapat diterima dan membujuk meminimalkan modal usaha.
• Pergantian inventaris digunakan sebagai suatu ukuran pengendalian persediaan mencegah inventaris kelebihan build- atas.

Bonus Computations
Bonus manajer bagian determinad di dasarkan pada basis kinerja untuk mencapai dari setiap tiga kunci wilayah hasil pokok. Bawahan tidak berhak atas bonus , pribadi mereka akan tetapi hasil penampilan digunakan oleh mereka apabila memutuskan dan memperbaiki penampilan .
Pelporan Kinerja
Kinerja sebenarnya merupakan pusat manfaat dan berkedudukan sama satuan yang dilaporkan dalam bentuk bulanan pernyataan terdiri dari beberapa bagian dan dari beberapa macam tingkatan:
1. Pernyataan peringatan awal. Pernyataan seperti itu dipersiapkan setiap bulan di dasar kumulatif dengan perbedaan dari tujuan berkibar. Modal laba ditunjukkan sebagai catatan kaki ke dalam earing.
2. Hari dapat diterima mudah terlihat. ransum ini presentd di berdasarkan perbandingan dua tahun dasar cenderung bulanan dengan tahunan yang menunjukan objective.
3. Pergantian inventaris. rasio ini bertekad menggunakan sama mengatur kalau dapat diterima
Definisi dan Tujuan Evaluasi Kerja
Penilaian evaluasi kerja adalah suatu tingkat efektivitas periodik organisasi dalam beroperasi, dan para keryawan dalam mencapai tujuan, standard, dan kriteria. Tujuan utama dari evaluasi kinerja adalah menggerakkan karyawan untuk mencapai tujuan organisasi dan mematuhi peraturan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan, mampu memproduksi dan memperoleh hasil. Standard kelakuan dapat menentukan kebijakan manajer atau rencana resmi untuk menginginkan menggabungkan aksi-aksi atau ide-ide.
Penggunaan Evaluasi Kinerja
Manajer menggunakan evaluasi kinerja dengan beberapa cara. Keuntungan terbesar yang didapat dari penggunaan evaluasi kinerja adalah:
1. Mengatur kegiatan operasi organisasi secara efektif dan secara efisien dengan memaksimalkan pekerja motivasi
2. Membantu dalam mengambil keputusan seperti promosi, pindahkan, dan pembatasan
3. Mengenali khusus latihan dan pengembangan memerlukan dan menyediakan kriteria untuk pilihan dan evaluasi latihan program
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan danl melihat kinerja mereka , dan
5. Menyediakan dasar untuk pemberian hadiah.

Motivasi sebagai alat untuk mempromosikan efisiensi beropersai
Motivasi concerend dengan membujuk orang untuk bertindak khususnya menjalani. teori harapan salah satu motivasi dan penampilan. menurut teori ini adalah, kelakuan dipengaruhi oleh probabilititas, yang mempunyai hubungan sebagai berikut :
1. Usaha perlu mencapai gol. motivasi intrinsik, atau menggabungkan dengan isi dari pekerjaan atau resiko, yang dirangsang ketika tugas dirasai menantang tetapi tidak overwelming.
2. Penampilan dan hadiah. dapat dalam bentuk menaikkan, bonus, pembagian keuntungan, persediaan pilihan, membuka dengan paksa, atau hanya di mengalami kesenangan prestasi.
3. Hadiah sastifying tujuan pribadi. sejak berbeda karyawan punya berbeda gol prioritie, hadiah seragam tidak selalu menggerakkan aqually baik.

Pengaruh Reward Terhadapa Perilaku
Ada tiga bentuk perilaku orang yang bekerja dalam organisasi:
1. Menjawab kelakuan diinginkan dapat membuat sesuatu nyaman ( memuji atau hadiah)
2. Desirabel kelakuan dapat membujuk oleh eliminasi sesuatu tak enak.
3. Hukuman adalah obat untuk memperbaiki kelakuan seseorang. sebagai contoh dari menemukan karena pelanggaran kasar aturan permainan.
Dalam perturan organisasi, cenderung alat untuk membentuk kelakuan diinginkan pengikut diberikan motivasi positif atau hadiah. Hadiah biasanya dapat meningkat kemungkinan untuk tidak mengulangi lagi kelakuan yang tidak diinginkan.
Tipe hadiah dan pertolongan mereka di funcional bujukan kelakuan
Hadiah dapat berupa bentuk intrinsik dan extrinsik . Hadiah intrinsik secara pribadi memuaskan orang itu perasaan axperience untuk pekerjaan welldone dan untuk tujuan mencapai. hadiah intrinsik dapat meningkatan dengan techique seperti peningkatan pekerjaan.
Hadiah tidak penting termasuk langsung, tidak langsung, dan nonfinancial tebusan memberi ke karyawan. langsung tebusan pembayaran untuk upah dasar atau gaji, lembur dan hari libur membayar, pembagian keuntungan, persediaan pilihan, dan tipe lain performance-based bunuse. tidak langsung tebusan menyediakan karyawan dengan jaminan sosial seperti asuransi, liburan membayar, cuti sakit, tanaman pensiun, dan keuntungan lain. nonfinacial reard inclued diinginkan" figuran" seperti lebih suka affoce lokasi, tekuni kantor furnitur, menugaskan angkasa parkir, mengesankan judul, dan pribadi secretatie. jika nonfinancial hadiah memuaskan pribadi memerlukan, kemudian mereka akan [merasa hadiah pemberitahuan dan sediakan penggerak untuk menginginkan kelakuan.

Segi Tingkah Laku dengan Langkah Evaluasi Kinerja
Berikut langkah digunakan dalam mengukur dan mengevaluasi kinerja.
• Definisikan bagian dan aktifitas untuk; dikendalikan dan individu berasosiasi dengan mereka
• Seperangkat kriteria penampilan untuk setiap organisai bagian dan kegiatan.
• Ukuran kinerja yang sebenarnya
• Langkah evaluasi kinerja
• Perbandingan kinerja yang sebenarnya dengan mengantisipasi tujuan.
• Bertekad dalam beroperasi dan tingkah laku menyebabkan dari perbedaan kurang baik.
• Memperkuat keinginan dan bertindaklah untuk mencegah teulangnya kejadian yang tidak diinginkan dari perilaku karyawan yang kurang baik.

BAB 13
Aspek Keperilakuan Pada Audit Internal
Terdapat banyak hal yang dapat dipertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan yang mengarah pada aspek keperilakuan auditor. Salah satu karakteristik yang membedakan akuntan publik dengan auditor internal berkaitan dengan keterikatan secara pribadi. Selain itu auditor internal juga berkaitan dengan standar-standar yang biasanya dikembangkan oleh bagian lain dengan memastikan kepatuhan terhadap prosedur, undang-undang serta praktik-praktik yang ekonomis dan operasi yang efisien serta penetapan standar-standar operasional untuk pencapaian efektifitas.
Dapat disimpulkan bahwa Audit Internal mengefaluasi aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang dan dengan demikian, terdapat hubungan pribadi antara orang yang melakukan evaluasi dengan orang yang dievaluasi dan dengan para auditor. Oleh karena itu dalam bab ini telah ditelaah sejumlah aktivitas interpersonal yang dapat menilai hubungan positif dan dapat diharapkan untuk berhasil dalam praktek audit internal.
Motivasi Pihak yang Diaudit
Dalam teori motivasi, dikenali dengan apa yang disebut dengan 5 kebutuhan pokok maslow, dua dari kebutuhan pokok tersebut adalah keinginan untuk menjadi bagian dari organisasi dan kebutuhan untuk diterima dan dikenal sehingga dapat melayani auditor internal secara baik.
Kebutuhan menjadi bagian dari organisasi
Para auditor diminta untuk mendekati pihak pihak yang diaudit dengan bhasa yang memperkuat kebutuhan ini engan potensi penyelesaian serta dengan memercayai phak yang diaudit untuk membantu atau mengambil bagian atas pencapaian tujuan dari pekerjaan audit sekarang. Hal ini harus dicapai melalui jaminan dari pihak yang diaudit bahwa sikap positif mereka akan dicerminkan secara langsung ataupun tidak langsung dalam laporan audit.
Menghormati diri sendiri dan orang lain
Kebutuhan akan rasa hormat ini dapat dikaitkan dengan keyakinan pihak yang diaudit untuk bertindak langsung dalam kerjasama dengan staf audit imtuk mengidentifikasikan bidang-bidang yang bermasalah, membantu dalam investigasi terhadap kinerja serta mengembangkan tindakan-tindakan korektif. Aspek terpenting disini adalah bahwa auditor mengidentifikasikan tindakan-tindakan pihak yang diaudit secara langsung sebagai bgian dari usaha audit.

Hubungan dengan Gaya Manajemen
Terdapat 4 gaya manajemen (kepemimpinan) secara umum, yaitu :
1. Gaya mengarahkan
2. Gaya melatih
3. Gaya mendukung
4. Gaya mendelegasikan
Masing-masing gaya manajemen tersebut mempunyai perbedaan yang luas dan semuanya mencerminkan filosofi serta pendekatan manajemen terhadap para manajer. Menggunakan suatu pendekatan audit yang konflik dengan filosofi manajemen dari pihak yang diaudit akan menyebabkan audit menjadi tidak populer dan menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam perolehan bantuan serta kerjasama secara sukarela.
Auditor seharusnya mencoba untuk bekerjasama dengan seluruh manajemen dalam proses audit. Hubungan yang akrab dan berulang dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa auditor berada di pihak mereka. Oleh karena itu kejujuran dalam berdiskusi dapat meyakinkan manajemen bahwa tujuan audit adalah untuk mengembnagkan desain guna membnatu memperbaiki operasi, selain itu dibutuhkan suatu pola perilaku audit yang dapat mewujudkan hubungan dengan manajemen karyawan yang bergaya pelatih.
Perubahan manajemen
Ilmu sosial mengidentifikasikan sejumlah alasan mengapa orang tidak menginginkan perubahan metode operasi mereka namun terdapat 3 hal yang mungkin merupakan faktor terpenting yang menimbulkan keengganan untuk melakukan perubahan :
1. Ketakutan terhadap apa yang tidak diketahui, yaitu apa yang akan dibawa oleh perubahan tersebut
2. Aspek birokrasi dari kenyataan perubahan, baik secara horizontal maupun vertikal
3. Aspek ego, bahwa dengan adanya perubahan maka metode sekarang dianggap tidak efisien atau tidak layak.
Saran berikutnya yang juga akan membantu menyelesaikan masalah penting kedua adalah aktivitas birokrasi yang penting untuk mengakomodasi perubahan. Beberapa pendekatan yang dapat diambil antara lain :
1. Auditor internal seharusnya melihat perubahan audit dengan cara pandang manajer
2. Konsep auditor terhadap pengendalian seharusnya sejauh mungkin menyerupai konsep-konsep manajamen
3. Auditor harusnya mengutamakan suatu pendekatan artisipatif
4. Audit seharusnya menjdi suatu audit yang seimbang tidak sebagai suatu yang menghakimi
5. Auditor seharusnya melengkapi kegagalan dari suatu pendekatan manajemen
6. Auditor
Pengelolaan Konflik
Dalam hal perubahan, konflik merupakan suatu karakteristik yang kerap kali terjadi pada proses audit (chambers et al.,1987). Konflik sering kali membantu pencapaian tujuan audit, tetapi jika tidak ditangani lebih awal, maka konflik akan menjadi lebih tajam dan luas. Konflik dapat kita lihat dalam hal :
• Lingkup
• Tujuan
• Tanggung jawab
• Nilai
Dapat disimpulkan bahwa ketika seorang auditor bekerja pada suatu lembaga bisnis profesional yang dikelilingi oleh suatu birokrasi, konflik, dan hilangnya nilai-nilai profesionalisme akan muncul. Oleh karena itu sikap yang dimunculkan oleh satu atau beberapa orang profesional yang mempertahankan nilai-nilai profesionalismenya akan cenderung menjadi pemicu konflik.
Konflik akan munculketika di dalam organisasi bisnis profesional terdapat sebagian orang yang memegang teguh nilai-nilai profesionalismenya sementara sebagian lainnya tidak dan bahkan cenderung untuk menghilangkan nilai-nilai tersebut. Berikut terdapat 4 metode khusus yang secara umum digunakan untuk menyelesaikan konflik :
1. Arbitrasi
2. Mediasi
3. Kompromi
4. Langsung
Masalah-masalah Hubungan
Brink dan Witt (1982) mempunyai aftar konsep yang akan membantu untuk memperlakukan orang dengan lebih baik. Konsep-konsep tersebut merupakan perilaku langsung dan kemungkinan dapat dimanafaatkan untuk semua hubungan singkat perusahaan, yaitu meliputi :
1. Ingat bahwa terdapat variasi umum dalam kemampuan dan sifat-sifat dasar individu.
2. Pengaruh terbesar terhadap perasaan-perasaan dan emosi seharusnya juga dipertimbangkan
3. Keragaman persepsi seharusnya juga dipertimbangkan
4. Ukuran kelompok pihak yang diaudit dapat berpengaruh pada hubungan
5. Pengaruh ari berbagai situasi operasional sebagai suatu variasi akhir

Karakteristik Umum Individu
Pada umumnya, sifat yang muncul pada berbagai tingkatan dalam setiap individu dari pihak yang diaudit meliputi :
1. Menjadi produktif, sibuk pada pekerjaan-pekerjaan yang bermakna
2. Mempunyai dorongan ke arah dedikasi terhadap suatu usaha yang dianggap penting
3. Mempunyai keinginan untuk melayani dan memberikan bantuan kepada individu lain
4. Bebas untuk memilih guna mendapatkan independensi dan kebebasan pilihan
5. Memiliki sifat yang adil dan jujur
6. Memiliki bias pada diri sendiri, tercermin pada sikap yang lebih suka dipuji dibandingkan dengan dikritik
7. Mencari kepusan diri sendiri
8. Memiliki nilai untuk mendapatkan imbalan atas usaha-usahanya
9. Bersikap seperti orang-orang yang patuh dan dapat beradaptasi secara baik
10. Menjadi bagian dari tim yang sukses
11. Memiliki rasa haru atas bencana yang menimpa orang lain
12. Memiliki keterkaitan pada pemaksimalan kepuasan diri sendiri
13. Lebih cenderung untuk sensitif dibandingkan dengan membantu orang


Kesadaran pada Diri Sendiri
Dalam suatu situasi di mana terdapat banyak hubungan interpersonal sebagaimana yang terdapat di dalam audit internal, adalah hal penting untuk menyadari dan memegang teguh keseimbangan serta untuk memandang diri sendiri sebagaimana orang lain memandangnya (Ratcliff et al,1998). Elemen-elemen utama dari aspek terpenting kondisi ini adalah :
1. Adanya pengetahuan terhadap kekuatan dan kelemahan orang lain dalam berhubungan secara mental, fisik, emosional, dan karakteristik pribadi
2. Rasa memiliki terhadap produktivitas dan kepuasan kelompok kerja
3. Kesadaran terhadap perintah dasar dalam lingkungan relatif yang dimiliki seseorang, di mana orang tersebut harus menyesuaikan diri dengan kelompok organisasi yang luas
4. Suatu keinginan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan orang lain
5. Suatu perasaan memiliki atas produktivitas yang didasarkan pada ego seseorang
6. Suatu perasaan keterpaduan yang berasal dari kepercayaan bahwa seseorang berpartisipasi dalam suatu lingkungan secara etis

Komunikasi Secara Efektif
Komunikasi terdiri atas wawancara, musyawarah, laporan lisan, dan laporan tertulis. Bahasa yang menggunakan aksioma seharusnya jelas, ringkas, bebas
Akronim, dalam struktur gramatikal yang baik, dan mengungkapakan isi dalam aturan sederhana yang logis. Hal-hal ini merupakan aspek pokok mekanis komunikasi. Tetapi, terdapat unsur-unsur yang dipersentasikan, baik secara lisan maupun tulisan, yang dipertimbangkan untuk memiliki hubungan perilaku yang baik. Beberapa dari hal ini adalah :
• Jangan bicara atau menulis dalam bentuk langsung sebab auditor bukanlah bagian dari manajemen
• Jangan menggunakan istilah-istilah yang berimplikasi pada kesalahan-kesalahan kerja dari pihak yang diaudit
• Jangan menjadikan pihak yang diaudit sebagai pokok bahasan, baik secara verbal atau tertulis
• Ketika memberikan saran, pertimbangan sifat ego pihak yang diaudit, sebab hal ini berimplikasi pada anggapan mereka
• Mengizinkan pihak yang diaudit untuk melakukan perubahan-perubahan dalam bahasa laporan sepanjang tidak mengubah substansinya
• Jangan beragumen atau berkomentar mengenai moralitas, karena auditor mencari fakta dan tidak bertindak sebagai seorang penasihat yang berhubungan dengan moral
• Menjaga laporan dan memberikan keadilan
• Mengaitkan dengan kondisi lingkungan ketika mencari penyebab dari pertemuannya
• Mengizinkan pihak yang di audit, sepanjang proses penyusunan laporan untuk mengungkapkan pendapat
• Sopan dengan seluruh tingkatan staf pihak yang diaudit dan menyambut manajemen pihak yang diaudit dengan rasa hormat
• Melakukan pertemuan dan wawancara di kantor pihak yang diaudit
• Mempertimbangkan kemungkinan tekanan yang muncul dalam diri pihak yang diaudit

Tiga jenis pokok dari banyaknya oposisi :
• Suatu indikasi yang menunjukkan kurang pentingnya audit
• Pihak yang diaudit bertindak dalam suatu gaya konfrontasional, misalnya saja catatan-catatan tidak tersedia
• Pihak yang diaudit menolak untuk mengambil berbagai tindakan selama atau setelah audit, dan operasi terus dijalankan seperti sebelumnya

Pelaksanaan Audit Partisipatif
Pada dasarnya, auditor merupakan usaha kerjasama antar auditor dan puhak yang diaudit. Elemen-elemen keperilakuan terebut meliputi :
 Pada awal audit, tanyakan pada pihak yang diaudit bidang mana yang akan diaudit
 Bangun suatu pendekatan kerjasama dengan staf pihak yang diaudit dalam menilai :
o Pemrograman audit
o Pelaksanaan audit
 Peroleh persetujuan dan rekomendasi untuk tindakan koreksi
 Dapatkan persetujuan atas sisi laporan
 Memasukkan informasi nyata pada laporan audit

Penggunaan pengetahuan keperilakuan dalam audit
Para penulis percaya bahwa auditor internal sangat memahami organisasi mereka sebagai akibat dari kedekatan mereka dengan para karyawan organisasi, yang memungkinkan mereka untuk mengevaluasi buti-bukti secara verbal dan visual yang berhubungan dengan sikap dan perilaku secara lebih efektif. Secara umum penanganan keperilakuan organisasi adalah akibat dari berbagai hal berikut :
1. Kondisi, pada umumnya kualitas dari struktur pengendalian internal
2. Motivasi atau kebutuhan dari karyawan kantor untuk membentuk etika dan kejujuran atau sebaliknya
3. Sikap atau dasar karateristik pribadi dari seluruh tingkatan karyawan
Selain masalah perilaku pihak yang diaudit, auditor internal juga perlu memahami budaya organisasi. Porter et al. (1985) dikatakan bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku auditor. Untuk budaya organisasi, unsur-unsurnya tercermin antara lain dalam :
1. Komitmen karyawan
2. Kualitas pelatihan dan pengembnagan staf
3. Identitas perusahaan seperti kebijakan
4. Pembuatan keputusan
5. Fokus manajemen.
Oleh karena itu suatu audit tidak akan menjadi kontradiktif ketika laporan-laporan audit dapat diterima dan diimplementasikan
Konsep Keperilakuan dari Psiologi dan Psikologi Sosial – Part 1
1. SIKAP
Sikap adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan untuk memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang.
Komponen Sikap
Sikap disusun oleh komponen teori, emosional, dan perilaku. Komponen teori terdiri atas gagasan, persepsi, dan kepercayaan seseorang mengenai penolakan sikap. Komponen emosional atau afektif mengacu pada perasaan seseorang yang mengarah pada objek sikap. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana satu kekuatan bereaksi terhadap objek/sikap. Ketiga komponen sikap:
Pengertian (cognition),
pengaruh (affect), dan
perilaku (behavior).
Susunan sikap yang dipandang berdasarkan ketiga komponen tersebut membantu untuk memahami kerumitan sikap dan hubungan potensial antara sikap dan perilaku.
Fungsi Sikap
Sikap memiliki empat fungsi utama: pemahaman,kebutuhan akan kepuasan, defensif ego, dan ungkapan nilai. Pemahaman atau pengetahuan berfungsi untuk membantu seseorang dalam memberikan maksud atau memahami situasi atau peristiwa baru. Sikap juga melayani suatu hal yang bermanfaat atau fungsi kebutuhan yang memuaskan. Sikap juga melayani fungsi defensif ego dengan melakukan pengembangan guna melindungi manusia dari pengetahuan yang berlandaskan kebenaran mengenai dasar manusia itu sendiri atau dunianya. Sikap juga melayani fungsi nilai ekspresi.
Sikap dan Konsistensi
Orang-orang mengusahakan konsistensi antara sikap-sikapnya serta antara sikap dan perilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha untuk menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan menyelaraskan sikap dengan perilaku mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan konsisten.


Formasi Sikap dan Perubahan
Formasi sikap mengacu pada pengembangan suatu sikap yang mengarah pada suatu objek yang tidak ada sebelumnya. Perubahan sikap mengacu pada substitusi sikap baru untuk seseorang yang telah ditangani sebelumnya. Sikap dibentuk berdasarkan karakter faktor psikologis, pribadi dan sosial. Hal pokok yang paling fundamental mengenai cara sikap dibentuk sepenuhnya berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi terhadap suatu objek, yaitu pengalaman yang menyenangka maupun tidak, traumatis, frekuensi kejadian, dan pengembangan sikap tertentu yang mengarah pada gambaran hidup baru.
NILAI
Nilai secara mendasar dinyatakan sebagai suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas dan lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan dengan suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanaan.
Arti Penting Nilai
Dalam mempelajari perilaku dalam organisasi, nilai dinyatakan penting karena nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap serta motivasi dan karena nilai memengaruhi sikap manusia.seseorang memasuki organisasi dengan gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya.
Nilai dan Dilema Etika
Permasalahan profesi akuntansi sekarang ini banyak dipengaruhi masalah kemerosotan standar etika dan krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para akuntan untuk lebih berbenah diri, memperkuat kedisiplinan mengatur dirinya dengan benar, serta menjalin hubungan yang lebih baik dengan para klien atau masyarakat luas. Misal: skandal Enron yang melibatkan Arthur Anderson, serta skndal Worldcom, Merck, dan Xerox, profesi akuntan menjadi gempar.
Ihksan menambahkan cara yang lebih baik dan ideal dalan mengatasi dilema ini adalah dengan mempertimbangkan kecukupan dari kesempatan yang ada selanjutnya memberikan reaksi terhadap apa yng menjadi kekawatiran di dalamnya.
RISET EMPIRIS SIKAP
Teori Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap dapat membantu untuk memprediksikan pendekatan yang paling efektif. Sikap, mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan dan keadaan.

Teori Pertimbangan Sosial
Teori pertimbangan sosial ini merupakan suatu hasil perubahan mengenai bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek dan bukannya hasil perubahan dalam memercayai suatu objek. Teori ini menjelaskan bahwa manusia dapat menciptakan perubahan dalam sikap individu jika mau memahami struktur yang menyangkut sikap orang laindan membuat pendekatan setidaknya untuk dapat mengubah ancaman.
Konsistensi dan Teori Perselisihan
Teori konsistensi menjaga hubungan antara sikap dan perilaku dalam ketidakstabilan, walaupun tidak ada tekanan teori dalam sistem. Teori perselisihan adalah suatu variasi dari teori konsistensi.
Teori Disonansi Kognitif
Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori Disonansi Kognitif. Teori ini menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku. Disonansi dalam hal ini berarti adanya suatu inkonsistensi. Festinger mengatakan bahwa hasrat untuk mengurangi disonansi akan ditentukan oleh pentingnya unsur-unsur yang menciptakan disonansi itu, derajat pengaruh yang diyakini dimiliki oleh individu terhadap unsur-unsur itu, dan ganjaran yang mungkin terlibat dalam disonansi. Teori ini dapat membantu kecenderungan untuk mengambil bagian dalam perubahan sikap dan perilaku.

2. Motivasi

Teori motivasi

Teori ini memiliki pengaruh terhadap kedua jenis perilaku. Asumsi terpenting dari bentuk teori Harzberg adalah faktor yang mempnyai pengaruh positif dalam motivasi dan menjadi bahan perbedaan yang menyenangkan dari seluruh pengaruh negatif.

Faktor-faktor ini meliputi:
kebijakan perusahaan
kondisi pekerjaan
hbungan perseorangan
keamanan kerja dan gaji.

Faktor motivasi meliputi:
prestasi
pengakuan
tantangan pekerjan
promosi
tanggung jawab
Semua ini bertujuan untuk menungkatkan kepuasan kerja dan kepuasan motivasi.
Selain itu, Haezberg juga menjelaskan bahwa hasil riset yang dilakukannya terhadap 200 responden yang terdiri atas akuntan dan insinyur menunjukkan bahwa terdapat dua hal yang terkait dengan kepuasan dan motivasi, ke dua faktor tersebut yaitu :

1. sejumlah kondisi kerja ekstrinsik, kondisi ini disebut dengan faktor ketidak puasan atau faktor higiene karena kondisi atau faktor-faktor tersebut minimal dibutuhkan untuk menjaga agar ketidak puasan tidak terjadi
2. sejumlah kondisi kerja instrinsik

TEORI KEBUTUHAN DAN KEPUASAN

Teori ini menjelaskan bahwa masing-masing individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat mempengaruhi perilaku mereka Teori kebutuhan ini pada praktisnya merupakan bagian-bagian dari teori kebutuhan psikologis yang akan didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan lain jika tidak dijumpai. Secara psikologis, kebutuhan merupakan syarat dasar untuk memenuhi kebutuhan fisik, seperti makan, minum, perlindungan, dan sebagainya, yang disebut dengan kebutuhan dsar utama (primary basic need).

Terdapat 5 hierarki kebutuhan manusia yang telah dijabarkan oleh maslow yaitu:
1. Kebutuhan fisiologis
2. kebutuhan akan keamanan
3. kebutuhan social
4. kebutuhan akan penghargaan
5. kebutuhan akan aktualisasi diri

TEORI HARAPAN

Teori harapan disebut juga teori valensi atau teori instrumentalis. Ide asra dari teori ini adalah bahwa motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan dieroleh seseorang sebagai akibat dari tindakannya. Variabel-variabel kunci dalam teori harapan adalah :

Usaha (effort)
Hasil (income)
Harapan (expectancy)

Instrumen-instrumen yang berkaitan dengan hubungan antara hasil tingkat kedua, hubungan antara hasil tingkat pertama dan hasil tingkat kedua, hubungan antara prestasi dan imbalan atas pencapaian prestasi, serta valensi yang berkaitan dengan kadar kekuatan dan keinginan seseorang terhadap hasil tertentu.





Teori prestasi

Teori ini dugunakan untuk menjawab permasalahan yang berhubungan dengan teori kebutuhan dan kepuasan yang memiliki suatu faktor hierarki yang memotivasi perilaku. Yaitu terdapat 3 faktor :

1. prestasi
2. kekuatan
3. afiliasi
yang didalamnya terdapat banyak kekakuan.

Menurut riset yang dilakukan oleh Mclellend memberikan hasil bahwa terdapat tiga karakteristik dari orang yang memilki kebutuhan prestasi yang tinggi dan dalam riset tersebut Mclellend menemikan bahwa uang tidak begitu penting peanannya dalam meningkatkan prestasi kerja bagi mereka yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi. Orang yang memilki kebutuhan orestasi yang rendah tidak akan berprestasi baik dengan maupun tanpa insentif keuangan.

Teori keadilan

Dalam teori keadilan, kunci ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang individu adalh jika orang tersebut membadingkannya dengan lingkungan lainnya. Teori keadilan secara umum merupakan bentuk dasar dari konsep hubungan pertukaran sosial.

Ketidak adilan dibagi menjadi dua bentuk dan keduanya diakibatkan dari peran motivasi yang merugikan satu sma lain. Teori ini menggambarkan kenyataan bahwa pembayaran-pembayaran relatif tidak mutlak menjadi perhitungan yang mempunyai pengaruh kuat.

Teori ERG

Teori ERG (existence, relatedness, growth) menganggap bahwa kebutuhan manusia memiliki 3 hierarki kebutuhan yaitu :

1. kebutuhan akan eksistensi
2. kebutuhan akan keterikatan
3. kebutuhan akan pertumbuhan

teori ERG mengandung suatu dimensi frustasi-regresi. Frustasi (halangan)dapat mendorong ke suatu kemunduran yang lebih rendah.

Teori ERG lebih konsisten dengan pengetahuan kita mengenai perbedaan individual di antara orang-orang. Secara keseluruhan teori ERG menyatakan suatu versi yang lebih valid dibandingkan dengan hierarki kebutuhan.
Teori Motivasi dan Aplikasinya
Terdapat keyakinan bahwa perilaku manusia ditimbulkan oleh adanya motivasi. Dengan demikian, ada sesuatu yang mendorong (memotivasi) seseorang untuk berbuat sesuatu.
Teori Motivasi Awal
Tiga teori spesifik dirumuskan selama kurun waktu tahu 1950-an. Ketiga teori ini adalah teori hierarki kebutuhan,teori X dan Y, dan teori motivasi higiene. Teori-teori ini bersifat awal karena: 1) teori-teori ini mewakili suatu dasar dari mana teori-teori kontemporer berkembang, dan 2) para manajer mempraktikkan penggunaan teori dan istilah-istilah ini untuk menjelaskan motivasi karyawan secara teratur.

RISET EMPIRIS DAN MOTIVASI

Konstruk kepuasan kerja yang digunakan mengacu pada teori motivasi dari maslow yang dikembangkan ke dalam kepuasan kerja oleh porter berdasarkan kategori sekuriti, self actualization, social, autonomy dan esteem, serta tambahan kategori non specific need yaitu compensation.

Ivancevinch dan atrawser menambahkan riset tersebut dengan membandingkannya pada akuntan lain. Mereka mengoperasikan akuntan publik dengan akuntan pada posisi manajer dari berbagai industri dan subjek yang diteliti.

Metode

Subjek merupakan akuntan publik dengan pembagian hierarki level puncak dan menengah pada KAP besar. Pada studi pertama, data sepenuhnya berasal dari akuntan publik yang berada di KAP pada studi kedua, data akuntan manajer untuk studi kedua diambil dari hasil studi porter (1962).

Studi Mitchell dan Moudgill

Sama halnya dengan studi strawser dan koleganya yang melakukan identifikasi terhadap hierarki kebutuhan tetapi mereka melengkapinya dengan studi asisiasi. Instrumen pengukuran tersusun atas24 item sebagai hasil pengembangan dan diskusi panel 3 kelompok ahli dengan anggota masing-masing 3 orang per kelompok.

Studi harrel dan stahl

Harrel dan stahl memandang bahwa meskipun literatur menyarankan perlunya mempertimbnagkan oientasi terhadap lingkungan kerja, tidak ada riset yang secara tegas mengkaji hubungan antar need for affiliation dan need for power dengan kepuasan kerja.
Dalam perkembangan hipotesisnya, harrel dan stahl menggunakan faktor ”kemampuan individu dalam mengatasi lingkungan” sebagai proksi bagi needs for power.

Hipotesis

Harrel dan stahl memandang bahwa individu yang menunjukkan kemampuan untuk megatasi lingkungan organisasi cenderung untuk tetap berada lebih lama dalam organisasi. Individu tersebut sangat mungkin untuk mengalami kepuasan kerja yang tinggi. Karenanya, power needs akuntan profesional memiliki hubungan positif dengan tingkat kepuasan kerja.

Dalam kaitannya dengan kepuasan kerja, 2 hipotesis yamg diajukan :

H1: need for affiliaction partner atau manajer berhubungan negatif dengan kepuasan kerja
H2: need for power partner atau manajer berhubungan positif dengan kepuasan kerja.

Minggu, 25 April 2010

ETIKA BISNIS

PERILAKU ETIS pada PROFESI AKUNTAN :
Apa yang etis ?
Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan atau moralitas dari perilaku manusia. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai baik atu buruk Oleh karena itu,perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis Apabila moral merupakan sesuatu yang mendorong orang untuk melakukan kebaikan etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya.Memang harus diakui kepentingan utama bisnis adalah menghasilkan keuntungan maksimal untuk para shareholders-nya.
beberapa perilaku etis pada profesi akuntansi, yaitu :
Perilaku yang bermanfaat : seseorang yg mau memberikan pertimbangan yg terbaik u kepentingan org byk pada beberapa pilihan yg telah dprioritaskan.
Perilaku deontologis : seseorang yg memberikan pertimbangan & memilihnya pada segi kewajaran sesuai dgn konsekwensi pada setiap perilaku.
Perilaku egois : seseorang yg hanya memberikan yg terbaik u dirinya & kepentigannya pribadi, tanpa mempedulikan prioritas keadilan.
Mengapa etika profesi dalam profesi akuntan terasa sangat penting saat ini? Karena untuk membentuk suatu profesi akuntan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen. Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika profesi akuntan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena :
Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
Akan dapat meningkatkan motivasi pekerja.
Akan melindungi prinsip kebebasan ber-niaga
Akan meningkatkan keunggulan bersaing.
Tindakan yang tidak etis, bagi profesi akuntan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif,misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai profesi akuntan. Sedangkan profesi akuntan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika pada umumnya akuntan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila akuntantidak mentolerir tindakan yany tidak etis misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier. akuntan yang berkualitas adalah aset yang paling. berharga bagi perusahaan oleh karena itu semaksimal mungkin harus tetap dipertahankan
10 Prinsip di dalam menerapkan Etika Bisnis dan Profesi yang positif:
Etika Profesi itu dibangun berdasarkan etika pribadi: Tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran.
Etika Profesi itu berdasarkan pada fairness. Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil? Apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama? Jika ya, maka etika bisnis telah diterapkan.
Etika Profesi itu membutuhkan integritas. Integritas merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen.
Etika Profesi itu membutuhkan kejujuran. Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyika cacat produk. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya.
Etika Profesi itu harus dapat dipercayai. Jika perusahaan Anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis Anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder Anda.
Etika Profesi itu membutuhkan perencanaan bisnis. Sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Etika bisnis tidak hidup di dalam ruang hampa. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis.
Etika Profesi itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal dll. Singkatnya, ruang lingkup etika bisnis itu universal.
Etika Profesi itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh. Etika adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika.
Etika Profesi itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Etika Profesi itu dimulai dari pimpinan. Ada pepatah, “Pembusukan ikan dimulai dari kepalanya.” Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika profesi merupakan sebuah harga yang tidak dapat ditawar lagi. Seorang konsumen yang tidak puas, rata-rata akan mengeluh kepada 16 orang di sekitarnya. Dalam zaman informasi seperti ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan massif. Memperlakukan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum secara etis, adil dan jujur adalah satu-satunya cara supaya kita dapat bertahan di dalam dunia bisnis sekarang

Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sangsi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Repotnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu bila ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada yang bersangkutan.
PERILAKU ETIS pada PROFESI AKUNTAN :
Teori – teori etika
Beberapa permasalahan fakta dapat menjelaskan sifat dari teori-teori yang etis.Teori – teori etis pada persaingan saat ini menuntut untuk menyediakan sebuah prinsip dasar yang dapat digunakan dalam penyelesaian masalah.
Teori etika, kemudian, menentukan suatu prinsip yang menyediakan penolakan/pembenaran dalam pemberian alasan untuk mengikuti setiap perilaku.
TEORI - TEORI ETIKA
beberapa perilaku etis pada profesi akuntansi, yaitu :
Perilaku yang bermanfaat : seseorang yg mau memberikan pertimbangan yg terbaik u kepentingan org byk pada beberapa pilihan yg telah dprioritaskan.
Perilaku deontologis : seseorang yg memberikan pertimbangan & memilihnya pada segi kewajaran sesuai dgn konsekwensi pada setiap perilaku.
Perilaku egois : seseorang yg hanya memberikan yg terbaik u dirinya & kepentigannya pribadi, tanpa mempedulikan prioritas keadilan.

Egois

Pada dasarnya setiap orang mempunyai perilaku egois, sesorang yang mempunyai sifat egois yaitu selalu bertindak untuk dirinya sendiri dan menarik perhatian kepada banyak orang.
Tetapi kenyataanya pula setiap orang mengatakan bahwa perilaku egois merupakan perilaku yang tidak etis.
Sebenarnya perilaku egois termasuk perilaku etis ataukah tidak?
Bagaimana mungkin egoisme merupakan suatu perilaku etis? Mayoritas seseorang pasti akan membantah bahwa sebenarnya egoisme bukan perilaku etis. Dan akan membuktikan kebenarannya.
Ketika seseorang berasumsi bahwa semua manusia berperilaku egois, itu mempengaruhi pandangan mereka dari apa yang bisa diterima dan bukan bisa diterima dalam hidup, sebab percuma untuk menentang sifat keegoisan seseorang , sama halnya dengan berharap untuk melempar dengan terbang.
Ahli ekonomi menganggap bahwa sebenarnya egoisme merupakan perilaku dalam suatu bisnis yang tidak etis dan bisnis adalah suatu aktivitas di sistem ekonomi kita/kami merancang kemudahan di sekitar egoisme, orang-orang sering mengaku etika bisnis sebagai suatu oxymoron, suatu/sebuah pertentangan di terminologi.
Dari perspektif tersebut bukan mustahil,jika untuk mengirakan bisnis sebagai hal yang etis. Dimaksud Etis jika bisnis yang dilakukan berarti untuk mengorbankan kepentingan diri seseorang akan bisnis yang tidak baik, kecuali jika dipengaruhi oleh ekonomi, mengajar dan mempromosikan kepentingan diri.

UTILITARIANISME :

perilaku yg benar dmn pd proporsi ketika mereka cenderung mempromosikan kebahagiaan terbesar u kepentingan masykt. Utilitariansm berbeda dari egoisme karena adanya konsekwensi yg bermanfaat u menilai perilaku yg tdk hy u bbrp org tp meliputi konsekwensi u semua orang terkait dengan setiap perilaku. Para penganut utilitarianisme setuju dengan sensibilitas dibandingkan egoisme, dan mencerminkan apa yang kita lakukan dan juga sering ketika kita memberi alasan untuk membenarkan suatu tindakan atau mempraktekkan. Melakukan sesuatu untuk membuat diri kita bahagia adalah perilaku yang bisa diterima kecuali jika dalam pelaksanaannya, kita membuat orang lain sedih. Suatu yang hakiki apabila sesuatu yang diinginkan tersebut yaitu sesuatu yang diinginkan sendiri, sedangkan sesuatu yang disebabkan oleh factor ekstern akan mendorong kearah perolehan sebagai penolong. Uang adalah suatu contoh dari sesuatu yang disebabkan oleh faktor ekstern.

KANT DAN DEONTOLOGY
Menurut Kant, manusia terlalu mempunyai kecenderungan yg mengejar berbgai hal keinginan mereka sprit :
skecenderungan psikologis untuk berbagai hal dan kecenderungan u mengejar tujuan.
Tetapi mereka mempunyai dua kemampuan lain pertama adalah mampu memilih jalan menuju keberhasilan tujuan, kedua adalah kebebasan u menyisihkan tujuan dari kecenderungan dan memainkan peranan suatu alasan yang lebih tinggi.
Mereka mempunyai kecenderungan yang psikologis untuk berbagai hal dan kecenderungan-kecenderungan untuk mengejar tujuan.
Tetapi mereka mempunyai dua kemampuan lain yang tidak dimiliki seperti kemanpuan yang dimilki binatang, pertama adalah mampu memilih jalan menuju keberhasilan tujuan, dan yang kedua adalah kebebasan untuk menyisihkan tujuan dari kecenderungan-kecenderungan dan memainkan peranan suatu alasan yang lebih tinggi.
Mampu memilih alat alternatif untuk suatu tujuan, tetapi bukan dengan sungguh-sungguh. Berbeda dari binatang-binatang lainnya. Sebuah berang-berang mempunyai suatu kecenderungan untuk makanan dan berteduh, namun memperlengkapi secara alami dengan bakatnya untuk mengunyah, menyalak dan membangun induk untuk memenuhi kecenderungan yang terjadi. Manusia-Manusia, sungguhpun mereka mempunyai suatu kecenderungan untuk makan dan berteduh, makna yang berbeda untuk menuju keberhasilan bahwa ; mereka dapat membangun sengkuap-sengkuap, menggali gua-gua, membangun rumah, mencari ikan, menanam tanaman panenan, dll. Mereka mempunyai aneka pilihan tentang bagaimana cara memenuhi kecenderungan-kecenderungan mereka. Yang kedua perbedaan antara manusia-manusia dan binatang yakni manusia-manusia dapat bertindak melawan terhadap kecenderungan-kecenderungan mereka demi tugas,

ETIKA DEONTOLOGI
Ketika kita membuat dasar-dasar keputusan yg berkwalitas yg menentukan kebaikan atau keburukan adalah apakah tujuan dalam memenuhi keputusan-keputusan.
Hal yang bijaksana melakukan untuk berjalan sepanjang langkah-langkah Arti dari peribahasa tersebut sesuai dengan bab yang kita bicarakan yaitu tentang keuntungan-keuntungan etis di dunia bisnis. Jika kita katakan kita harus etis karena itu memenuhi apa yang kita inginkan, kemudian kita berkata itu adalah perilaku yang bijaksana untuk etika.
Rumusan yang pertama untuk category sangat mendesak adalah:
Bertindak sedemikian sehingga dapat mengibaratkan tindakan mu untuk menjadi sebuah hukum yang universal. Kebutuhan Ini menjelaskan. Suatu/sebuah pengibaratan adalah memberikan alasan untuk bertindak.
Contoh : Mengira anda meminjam beberapa uang dari seorang teman. Ketika datang waktu untuk membayar kembali anda tidak mempunyai uang. Anda kemudian memutuskan bukan untuk membayar kembali, walaupun teman anda perlu uang itu. Sebab anda tidak ingin meminjam dari sebuah bank, dan anda tahu bahwa teman anda tidak akan memaksa anda. Hal seperti itulah yang memberikan alasan kepada anda untuk tidak membayar uang pinjaman tersebut.adalah, yang nantinya akan, merepotkan anda untuk membayar kembali uang pinjaman tersebut.
Bertindak sehingga ketika tidak pernah untuk melakukan hal lain yang tidak masuk akal. Berdasar pada pandangan, semua orang adalah sama dan hendaknya diperlakukan dengan menghormati dan martabat. Mereka hendaknya menghormati dan tak seorangpun hendaknya menggunakan sebagai alat untuk menyempurnakan konsekwensi-konsekwensi bermanfaat bagi pemakai. Ini adalah deontologikal memenuhi penganut permasalahan utilitarian dalam makna yang gelap. Penganut permasalahan utilitarian tidak dapat dipertimbangkan untuk digunakan seseorang atau memanfaatkan seseorang untuk membuat masyarakat lebih baik.


deontologikal : pandangan semua orang sama dan hendaknya diperlakukan dengan menghormati dan martabat dan tak seorangpun hendaknya menggunakan sebagai alat untuk menyempurnakan konsekwensi2 bermanfaat bagi pemakai

ETIKA KEBAIKAN
Setelah menguji bermanfaat dan deontological perspektif, kita harus memutar perhatian untuk satu lagi pendekatan untuk etika.Yaitu etika dari kebaikan karakter. Etika tersebut menyiratkan pertanyaan bukan dari perlu melakukannya banyak pertanyaan. Seperti apa macam kegemaran akan kesenian seseorang? Perilaku apa yang baik bagi pelaku bisnis, atau perbuatan apa yang baik untuk kepentingan banyak orang ?
Akuntan mempunyai tujuan untuk menjawab ketika sesungguhnya mungkin dan akan sempurna bagi para akuntan jika mereka memenuhi tujuan. Tetapi, karena mereka adalah lebih dari seorang akuntan, maka mereka mempunyai tujuan lain yang memerlukan sebagian sama dan beberapa berbeda, dan barangkali berlawanan, kebaikan. Yang mana dari kegemaran akan kesenian ini para akuntan diserukan untuk mengembangkan atau menggunakan menjadi suatu pertanyaan yang penting
KODE ETIK AKUNTAN
Kode Etik Ikatan Akuntan diciptakan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung-jawab profesionalnya. Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi :
Kredibilitas. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.
Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai jasa Akuntan sebagai profesional di bidang akuntansi.
Kualitas Jasa. Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan diberikan dengan standar kinerja tertinggi.
Kepercayaan. Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika profesional yang melandasi pemberian jasa oleh akuntan.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:
1. Prinsip Etika
2. Aturan Etika
3. Interpretasi Aturan Etika.
Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan. Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya. Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya.
Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya. Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PRINSIP ETlKA PROFESI IKATAN AKUNTAN INDONESIA
1. Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia bersifat sukarela. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga disiplin diri di atas dan melebihi yang disyaratkan oleh hukum clan peraturan.
2. Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan pengakuan profesi akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung-jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi.

Prinsip Pertama - Tanggung Jawab Profesi

Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sarna dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

Prinsip Kedua - Kepentingan Publik

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

1. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung-jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peranan yang penting di masyarakat, di mana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepacla obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung-jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.
2. Profesi akuntan dapat tetap berada pada posisi yang penting ini hanya dengan terus menerus memberikan jasa yang unik ini pada tingkat yang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat dipegang teguh. Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi dan sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut.
3. Dalam mememuhi tanggung-jawab profesionalnya, anggota mungkin menghadapi tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam mengatasi benturan ini, anggota harus bertindak dengan penuh integritar, dengan suatu keyakinan bahwa apabila anggota memenuhi kewajibannya kepada publik, maka kepentingan penerima jasa terlayani dengan sebaik-baiknya.
4. Mereka yang memperoleh pelayanan dari anggota mengharapkan anggota untuk memenuhi tanggungjawabnya dengan integritas, obyektivitas, keseksamaan profesional, dan kepentingan untuk melayani publik. Anggota diharapkan untuk memberikan jasa berkualitas, mengenakan imbalan jasa yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa, semuanya dilakukan dengan tingkat profesionalisme yang konsisten dengan Prinsip Etika Profesi ini.
5. Semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
6. Tanggung-jawab seorang akuntan tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan klien individual atau pemberi kerja. Dalam melaksanakan tugasnya seorang akuntan harus mengikuti standar profesi yang dititik-beratkan pada kepentingan publik, misalnya:

Auditor independen membantu memelihara integritas dan efisiensi dari laporan keuangan yang disajikan kepada lembaga keuangan untuk mendukung pemberian pinjaman dan kepada pemegang saham untuk memperoleh modal;
Eksekutif keuangan bekerja di berbagai bidang akuntansi manajemen dalam organisasi dan memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya organisasi;
Auditor intern memberikan keyakinan ten tang sistem pengendalian internal yang baik untuk meningkatkan keandalan informasi keuangan dari pemberi kerja kepada pihak luar.
Ahli pajak membantu membangun kepercayaan dan efisiensi serta penerapan yang adil dari sistem pajak; dan
Konsultan manajemen mempunyai tanggung-jawab terhadap kepentingan umum dalam membantu pembuatan keputusan manajemen yang baik.

Prinsip Ketiga – Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

1. Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya.
2. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
3. Integritas diukur dalam bentuk apa yang benar dan adil. Dalam hal tidak terdapat aturan, standar, panduan khusus atau dalam menghadapi pendapat yang bertentangan, anggota harus menguji keputusan atau perbuatannya dengan bertanya apakah anggota telah melakukan apa yang seorang berintegritas akan lakukan dan apakah anggota telah menjaga integritas dirinya. Integritas mengharuskan anggota untuk menaati baik bentuk maupun jiwa standar teknis dan etika.
4. Integritas juga mengharuskan anggota untuk mengikuti prinsip obyektivitas dan kehati-hatian profesional.

Prinsip Keempat – Obyektivitas

Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya,

1. Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain.
2. Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktik publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri, pendidikan dan pemerintahan. Mereka juga mendidik dan melatih orang-orang yang ingin masuk ke dalam profesi. Apapun jasa atau kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.
3. Dalam menghadapi situasi dan praktik yang secara spesifik berhubungan dengan aturan etika sehubungan dengan obyektivitas, pertimbangan yang cukup harus diberikan terhadap faktor-faktor berikut:

a. Adakalanya anggota dihadapkan kepada situasi yang memungkinkan mereka menerima tekanan-tekanan yang diberikan kepadanya. Tekanan ini dapat mengganggu obyektivitasnya.
b. Adalah tidak praktis untuk menyatakan dan menggambarkan semua situasi di mana tekanan-tekanan ini mungkin terjadi. Ukuran kewajaran (reasonableness) harus digunakan dalam menentukan standar untuk mengindentifikasi hubungan yang mungkin atau kelihatan dapat merusak obyektivitas anggota.
c. Hubungan-hubungan yang memungkinkan prasangka, bias atau pengaruh lainnya untuk melanggar obyektivitas harus dihindari.
d. Anggota memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa orang-orang yang terilbat dalam pemberian jasa profesional mematuhi prinsip obyektivitas.
e. Anggota tidak boleh menerima atau menawarkan hadiah atau entertainment yang dipercaya dapat menimbulkan pengaruh yang tidak pantas terhadap pertimbangan profesional mereka atau terhadap orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Anggota harus menghindari situasi-situasi yang dapat membuat posisi profesional mereka ternoda.

Prinsip Kelima - Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

1. Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan kompetensi dan ketekunan. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, derni kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung-jawab profesi kepada publik.

2. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seyogyanya tidak menggambarkan dirinya mernilki keahlian atau pengalaman yang tidak mereka punyai. Dalam semua penugasan dan dalam semua tanggung-jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan kompetensi yang akan meyakinkan bahwa kualitas jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti disyaratkan oleh Prinsip Etika. Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi 2 (dua) fase yang terpisah:


a. Pencapaian Kompetensi Profesional.
Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subyek-subyek yang relevan, dan pengalaman kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota.

b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui kornitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk di antaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing dan peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan.
Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.

3. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap anggota bertanggung-jawab untuk menentukan kompetensi masing-masing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan pertimbangan yang diperlukan memadai untuk tanggung-jawab yang harus dipenuhinya.

4. Anggota harus tekun dalam memenuhi tanggung-jawabnya kepada penerima jasa dan publik. Ketekunan mengandung arti pemenuhan tanggung-jawab untuk memberikan jasa dengan segera dan berhati-hati, sempurna dan mematuhi standar teknis dan etika yang berlaku.


5. Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk merencanakan dan mengawasi secara seksama setiap kegiatan profesional yang menjadi tanggung-jawabnya.

Prinsip Keenam – Kerahasiaan

Setiap anggota harus, menghormati leerahasiaan informas iyang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
1. Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antara anggota dan klien atau pemberi kerja berakhir.
2. Kerahasiaan harus dijaga oleh anggota kecuali jika persetujuan khusus telah diberikan atau terdapat kewajiban legal atau profesional untuk mengungkapkan informasi.
3. Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staf di bawah pengawasannya dan orang-orang yang diminta nasihat dan bantuannya menghormati prinsip kerahasiaan.
4. Kerahasiaan tidaklah semata-mata masalah pengungkapan informasi. Kerahasiaan juga mengharuskan anggota yang memperoleh informasi selama melakukan jasa profesional tidak menggunakan atau terlihat menggunakan informasi terse but untuk keuntungan pribadi atau keuntungan pihak ketiga.
5. Anggota yang mempunyai akses terhadap informasi rahasia ten tang penerima jasa tidak boleh mengungkapkannya ke publik. Karena itu, anggota tidak boleh membuat pengungkapan yang tidak disetujui (unauthorized disclosure) kepada orang lain. Hal ini tidak berlaku untuk pengungkapan informasi dengan tujuan memenuhi tanggung-jawab anggota berdasarkan standar profesional.
6. Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan dan bahwa terdapat panduan mengenai sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.

Prinsip Ketujuh - Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi hams dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung-jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

Prinsip Kedelapan - Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
Standar teknis dan standar profesional yang hams ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.


ATURAN ETIKA

1. Integritas, obyektivitas, Independensi
Aturan etika ini memberikan pedoman bagi anggota untuk mempertahankan sikap mental yang independen dalam menjalankan tugas profesionalnya. Selain itu anggota juga harus mempertahankan integritas dan obyektifitasnya dengan antara lain menghindari benturan kepentingan dalam menjalankan tugasnya.
2. standar umum dan prinsip akuntasi
Aturan ini mengharuskan anggota untuk mematuhi berbagai standar dan interpretasinya yang ditetapkan oleh IAI, sehingga dalam hal ini disebutkan kepatuhan atas standar umum, kepatuhan terhadap standar dan prinsip-prinsip akuntansi.
3. Tanggung jawab pada klien
Dalam bagian ini diatur tentang informasi klien yang rahasia dan fee profesional (besaran fee dan fee kontinjen)
4. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
Dalam hal ini anggota harus memperhatikan tanggung jawab kepada rekan seprofesi, komunikasi antar akuntan publik dan perikatan atestasi.
5. Tanggungjawab dan praktik lain
Aturan ini memberikan pedoman yang menyangkut : (a) penghindaran atas perbuatan dan perkataan yang mendiskreditkan profesi, (b) iklan, promosi, dan kegiatan pemasaran lainnya, (c) komisi dan fee referral, serta (d) bentuk organisasi dan KAP.

Prinsip Kode Etik Akuntansi
Para akuntan mempunyai suatu tanggung jawab untuk menyajikan atau menopang dalam mempresentasikan kebanyakan dengan sesuai kenyataannya dan gambaran keuangan akurat yang mungkin menyangkut organisasi yang mereka adalah melukiskan, atau, sebagai auditor, suatu tanggung jawab untuk mengevaluasi para akuntan lain membayangkan dan menjadi bukti keadaan yang sebenarnya dan ketelitian mereka. Sejak salah satu dari kewajiban yang etis yang paling jelas adalah dalam keadaan sama, kelakuan pekerjaan seseorang sejak tindakan diterimanya adalah suatu pekerjaan memerlukan suatu janji ke lakuan pekerjaan itu, dan janji harus dijaga, menyediakan atau menegaskan gambaran keuangan akurat untuk organisasi adalah suatu pertanggungjawaban akuntansi dasar. Profesi akuntansi telah mengembangkan berbagai kode etika yang menetapkan standard untuk para akuntan jalan/cara hendaknya bertindak dan, paling terpenting, dipandang dari sudut peristiwa seperti kegagalan enron yang mana memerlukan lebih dari sekedar mempertahankan surat dari hukum.
Ada enam kode jalan yang bermanfaat :
1. Suatu kode dapat memotivasi melalui/sampai penggunaan tekanan panutan, dengan menunda suatu yang dikenali satuan harapan tingkah laku yang harus dipertimbangkan di dalam pengambilan keputusan.
2. Suatu kode dapat menyediakan pemandu permanen lebih stabil untuk bagaimanapun juga dibanding melakukan kepribadian manusia atau keputusan khusus untuk suatu maksud berkesinambungan.
3. Kode dapat menyediakan bimbingan, terutama di dalam situasi rancu.
4. Kode tidak hanya dapat memandu perilaku karyawan, mereka dapat juga mengendalikan kuasa pemberi kerja yang otokratis.
5. Kode dapat membantu menetapkan tanggung jawab sosial bisnis dirinya sendiri.
6. Kode dengan jelas demi kepentingan bisnis dirinya sendiri, karena jika bisnis tidak menjaga ketertiban diri mereka secara etis, yang lain akan melakukannya untuknya.

Yang diberi kegunaan kode, kita mengusulkan untuk memperhatikan kode etika akuntansi yang spesifik untuk menguji apa yang mereka katakan adalah perilaku sesuai untuk para akuntan. Ada dua kode utama untuk profesi akuntansi di Amerika Serikat- the code of professional conduct of the american institute of certified public accountants, yang diadopsi dalam format sekarang di tahun 1973 dan dengan mantap yang ditinjau kembali di tahun 1988, and standards of ethical conduct for practitioners of management accounting and financial management, mengadopsi di bulan april 1997.

KODE AICPA
Kode AICPA adalah terdiri atas dua bagian perlakuan prinsip dan yang kedua perlakuan aturan itu. Kode AICPA mulai dengan detil lingkup dan tujuan dari kode menetapkan tiga daerah pemilihan untuk siapa para akuntan mempunyai tanggapan terhadap publik, klien, dan para rekan kerja. Keheningan, sesungguhnya orang banyak/masyarakat akuntan yang adalah auditing mempunyai suatu tanggung jawab utama kepada orang banyak/masyarakat, akuntan mempunyai tanggapan ke unsur lain.

PRINSIP
Prinsip dari code......express pengenalan profesi tentang tanggungjawabnya kepada orang banyak/masyarakat, ke klien, dan ke para rekan kerja.
ada enam prinsip :
1. Di dalam menyelesaikan tanggungjawab mereka sebagai para profesional, anggota perlu latihan pertimbangan moral dan profesional sensitip dalam semua aktivitas mereka.
2. Anggota perlu menerima kewajiban untuk bertindak dengan cara taht akan melayani orang banyak/masyarakat menarik perhatian, menghormati orang banyak/masyarakat percaya, dan mempertunjukkan kesanggupan untuk profesionalisme.
3. Untuk memelihara dan meluaskan kepercayaan publik, anggota perlu melaksanakan semua tanggungjawab profesional dengan pengertian integritas yang paling tinggi.
4. Suatu anggota perlu memelihara obyektifitas dan bebas konflik kepentingan di dalam memecat profesional tanggung-jawab.
5. Suatu anggota perlu mengamati profesi yang teknis dan standard etis, bekerja keras secara terus menerus untuk meningkatkan comprence dan mutu sevices, dan membebaskan/memecat tanggung jawab profesional sejauh kemampuan anggota.
6. Suatu anggota di dalam praktek publik perlu mengamati prinsip dari kode profesional melakukan di dalam menentukan alam dan lingkup sevices untukmenjadi disajikan.

Prinsip I. Tanggung Jawab
Di dalam carraying ke luar tanggung-jawab mereka sebagai para profesional, anggota perlu latihan pertimbangan moral dan profesional sensitip dalam semua aktivitas mereka.

Prinsip II. Menarik Dalam Melayani Masyarakat
Anggota perlu menerima kewajiban untuk bertindak dengan cara yang akan melayani orang banyak/masyarakat menarik perhatian, menghormati orang banyak/masyarakat percaya, dan mempertunjukkan kesanggupan untuk profesionalisme.

Prinsip III. Kejujuran
Untuk memelihara dan meluaskan kepercayaan publik, anggota perlu melaksanakan semua tanggungjawab profesional dengan pengertian integritas yang paling tinggi.

Prinsip IV. Obyektivitas Dan Kebebasan
Suatu anggota perlu memelihara obyektifitas dan bebas konflik kepentingan di dalam pemecatan tanggungjawab profesional. Suatu anggota di dalam praktek publik harus mandiri sesungguhnya dan penampilan ketika auditing yang menyediakan dan jasa opini lain.

Prinsip V. Kepedulian
Suatu anggota perlu mengamati profesi yang teknis dan standard etis, bekerja keras secara terus menerus untuk meningkatkan kemampuan/ wewenang dan mutu jasa, dan membebaskan/memecat tanggung jawab profesional sejauh kemampuan anggota.

Prinsip VI. Alami dan Lingkup Jasa
Prinsip akhir dari kode negara: suatu anggota di dalam praktek publik perlu mengamati prinsip dari kode profesional melakukan di dalam menentukan alami dan lingkup jasa untuk disajikan.
Kode Etik Aturan Akuntansi
Berikut ucapan/kabar dari prinsip menyangkut kode etika, kode AICPA kembangkan suatu bagian atas aturan:" anggaran rumah tangga dari institut akuntan public terdaftar pada Amerika memerlukan anggota itu bertahan pada ketentuan-ketentuan kode profesional. Bagian aturan dari kode dipecah ke dalam lima bagian:
1. Kemerdekaan, obyektifitas dan integritas
2. Ukuran umum, prinsip-prinsip akuntansi
3. Tanggungjawab ke klien
4. Tanggungjawab ke para rekan kerja
5. Tanggungjawab lain dan praktek
Dalam banyak kasus, aturan diikuti oleh penafsiran menyangkut aturan yang mana menunjuk kemampuan menerima dari jenis spesifik aktivitas. di dalam bab ini kita akan menyebut satu persatu ketentuan-ketentuan kode ( seseorang yang mengharapkan untuk menguji keseluruhan kode dapat memperolehnya dengan menghubungi the AICPA at www.aicpa.org).
Bagian 100
Aturan kemerdekaan ( aturan 101): aturan yang mengatur kemerdekaan membaca: suatu anggota di dalam praktek publik akan mandiri di dalam pencapaian jasa profesional ketika diperlukan oleh standard yang diumumkan resmi oleh badan yang ditunjuk oleh dewan. Kemerdekaan akan dianggap lemah jika, sebagai contoh, suatu anggota mempunyai transaksi berikut , minat, atau hubungan:
A. sepanjang periode suatu perikatan profesional atau pada ketika dalam pernyataan adalah suatu pendapat, suatu anggota atau suatu perusahaan anggota
1. Mempunyai atau merasa terikat dengan memperoleh manapun langsung atau material yang tidak langsung bunga keuangan di dalam klien perusahaan.
2. Adalah suatu wali tentang segala pengurus atau pelaksana atau kepercayaan tentang segala tanah jika tanah atau kepercayaan seperti itu mempunyai atau merasa terikat dengan memperoleh manapun langsung atau material yang tidak langsung bunga keuangan di dalam perusahaan
3. Sambungan yang mempunyai, investasi bisnis lekat dipegang dengan perusahaan atau dengan manapun pegawai, direktur, atau pemegang saham prinsip daripadanya itu adalah material dalam hubungan dengan kekayaan bersih anggota atau kepada kekayaan bersih menyangkut perusahaan anggota
4. Pinjaman yang mempunyai ke atau dari perusahaan klien atau manapun direktur pegawai, atau pemegang saham, prinsip menyangkut perusahaan kecuali ketika secara khusus diijinkan di dalam penafsiran 101-5.
B. Sepanjang periode yang tutup oleh laporan keuangan, sepanjang periode dari perikatan profesional, atau pada ketika dalam pernyataan adalah suatu pendapat, suatu anggota atau suatu perusahaan anggota
1. Hubungkan dengan perusahaan sebagai penyelenggara, di bawah penulis atau pemungutan suara wali, sebagai direktur, pegawai, atau karyawan, atau di manapun kapasitas setara dengan itu suatu anggota manajemen.
2. Adalah suatu wali untuk manapun pensiun/rumah penginapan atau pembagian keuntungan kepercayaan menyangkut perusahaan.
Obyektifitas dan integritas ( aturan 102): di dalam pencapaian tentang segala jasa profesional , suatu anggota akan memelihara integritas dan obyektifitas, akan bebas konflik kepentingan, dan haruslah tidak dengan sadar salah menggambarkan bawahan;subordinat atau fakta pertimbangannya ke orang lain. Aturan102, kemudian, meminta empat hal-hal di dalam melakukan/menyelenggarakan profesional melayani
1. Pemeliharaan obyektifitas dan integritas
2. Menjadi membebaskan diri dari; bebas dari konflik kepentingan
3. Tidak dengan sadar salah menggambarkan fakta
4. Bukan kata penghubung pertimbangan seseorang ke orang lain
Konflik kepentingan diuraikan di dalam kode sebagai situasi di manahubungan tertentu merusak obyektifitas anggota. Suatu penting unsur penafsiran ini bahwa itu pergi di luar semakin exsistance suatu konflik kepentingan. Penafsiran sepertinya setuju dengan titik Levitt'S. Bagaimanapun, perhatian penafsiran yang di dalam kasus dari jasa menjadi bukti, persetujuan dan penyingkapan tidak bisa menghapuskan perusakan/pelemahan kemerdekaan.
Yang nyata melawan konflik riil tidak berdebat dengan kedudukan, kode terus untuk menawarkan beberapa contoh situasi yang perlu menyebabkan suatu anggota untuk mempertimbangkan ya atau tidaknya klien, pemberi kerja, atau pesta sesuai lain bisa memandang hubungan sebagai merusak obyektifitas anggota.
- Suatu anggota telah diminta untuk melaksanakan ligitation jasa untuk penggugat dalam hubungan dengan suatu penuntutan perkara bidang againts suatu klien menyangkut perusahaan anggota.
- Suatu anggota telah menyajikan pajak atau perencanaan keuangan pribadi ( PFP) jasa untuk suatu sepasang dinikahi yang sedang mengalami suatu perceraian, dan anggota telah diminta untuk menyediakan jasa untuk kedua belah pihak sepanjang cara bekerja perceraian.
- Dalam hubungan dengan suatu PFP perikatan, suatu rencana anggota untuk menyatakan bahwa klien menanam modal dalam suatu bisnis di mana anggota mempunyai suatu bunga keuangan.
- Suatu anggota menyediakan pajak atau PFP jasa untuk beberapa anggota suatu keluarga yang mungkin punya menentang bunga.
- Suatu anggota mempunyai suatu bunga keuangan penting, adalah suatu anggota manajemen, atau sanggup pengaruh di dalam suatu perusahaan yang adalah suatu pesaing.
- Suatu anggota melayani pada suatu kota besar dewan pendekatan pajak, yang mana mempertimbangkan berbagai hal yang menyertakan beberapa anggota mengenai pajak klien.
- Suatu anggota telah didekati untuk menyediakan jasa dalam hubungan dengan pembelian milik tetap dari suatu klien menyangkut perusahaan anggota
- Suatu anggota menunjuk suatu PFP atau klien pajak bagi suatu broker asuransi atau penyedia jasa lain, yang mana menunjuk klien kepada anggota di bawah suatu exlusive pengaturan untuk melakukannya
- Suatu anggota merekomendasikan atau menunjuk suatu klien bagi suatu kantor jasa di mana mitra atau anggota di dalam perusahaan anggota menjaga material bunga keuangang yang utama suatu klien di mana anggota melaksanakan jasa konsultasi.
Penyajian Keliru : Aspek/pengarah aturan yang ketiga 102 akan sengaja melarang, penyajian keliru pengetahuan fakta. Ini sederhananya suatu pendekatan ke kejujuran pada pihak seorang akuntan. penyajian keliru adalah berbaring, dan berbaring, ketika kita gergaji, adalah suatu proses seseorang penggunaan untuk berhasil - kita sendiri .
Pengabdian Selaku Pertimbangan Bawahan: Aspek/pengarah aturan yang akhir 102 menjadi pengasingan lagi kata penghubung pertimbangan seseorang ke yang lain. 102, di dalam larangan suatu anggota dari dengan sadar misrepresentating kata penghubung atau fakta pertimbangannya ketika melakukan/menyelenggarakan jasa profesional, menetapkan melainkan dengan jelas satu set langkah-langkah yang harus diikuti untuk memastikan bahwa tidak ada pengabdian selaku bawahan pertimbangan.
1. Anggota perlu mempertimbangkan apakah masukan atau kegagalan untuk merekam suatu transaksi di dalam arsip, atau laporan keuangan presentasi atau penghilangan atau alami penyingkapan di dalam laporan keuangan, seperti diusulkan oleh penyelia, menghadirkan penggunaan dari suatu alternatif bisa diterima dan tidak secara material salah menggambarkan fakta.
2. Jika anggota menyimpulkan bahwa laporan keuangan atau arsip bisa secara material diutarakan salah, anggota perlu membuat perhatian nya mengenal kepada untuk tingkat yang lebih tinggi yang sesuai manajemen di dalam organisasi
3. Jika, setelah mendiskusikan perhatian nya dengan para orang yang sesuai di dalam organisasi, anggota menyimpulkan tindakan yang sesuai itu tidaklah diambil, ia atau dia perlu mempertimbangkan hubungan berkelanjutan nya dengan pemberi kerja
4. Anggota perlu terus menerus adalah kenal kewajiban nya di bawah penafsiran 102-3
Bagian 200
201: dalam posisi ini, kita bergerak ke bagian 200 [menyangkut] kode dan menguji aturan [yang] mengatur standards-rule umum 201. kita mengutip dari aturan.
A. Kemampuan/ wewenang Profesional. Lakukanlah hanya profesional itu melayani anggota atau kaleng perusahaan anggota yang layak harapkan untukmenjadi lengkap dengan kemampuan/ wewenang profesional
B. Tiba kepedulian profesional. Latihlah tiba kepedulian profesional di dalam pencapaian jasa profesional
C. Pengawasan dan Perencanaan. Yang cukup merencanakan dan mensupervisi penapaian jasa profesional
D. Cukup Relevan data. Memperoleh Cukup relevan data untuk mampu suatu basis layak untuk pujian/rekomendasi atau kesimpulan dalam hubungan dengan manapun jasa profesional melakukan
Aturan 202-Compliance dengan standard: suatu anggota yang melaksanakan auditing, tinjauan ulang, kumpulan, manajemen yang berkonsultasi, mengenakan pajak, atau jasa profesional lain akan mematuhi standadrs yang diumumkan resmi oleh badan yang ditunjuk oleh dewan.
Aturan yang yang 203-Prinsip Akuntansi: aturan Yang akhir berhadapan dengan prinsip-prinsip akunting standard adalah aturan 203, yang mana mengurus/memerintah opini dari penggunaan tentang prinsip-prinsip akunting berlaku umum.
Bagian 300
301- klien rahasia Informasi: ini adalah agak secara langsung suatu anggota di dalam praktek publik haruslah tidak menyingkapkan manapun informasi klien rahasia tanpa persetujuan spesifik dari klien
302- ketidak-tentuan Pembayaran: aturan 302 sukses dengan pembayaran ketidak-tentuan, yang mana adalah suatu isu yang agak kompleks. itu melarang anggota dari diterimanya ketidak-tentuan pembayaran atas audit atau tinjauan ulang laporan keuangan, atau kumpulan statemen untuk digunakan dengan sepertiga pihak, yang mana tidak menyingkapkan suatu ketiadaan kemerdekaan.
Bagian 400
Bagian berikutnya dari kode, yang mana meliputi aturan di dalam 400 rangkaian, dipersempahkan kepada seorang para akuntan tanggung-jawab ke para rekan kerja. ada pasti mengeluarkan para akuntan muka itu tentang apa yang akan dilakukan dengan menghormati ke para akuntan lain yang melakukan tindakan tak pantas atau tidak sah di dalam pengejaran pekerjaan mereka.

Kamis, 08 April 2010

Konsep Keperilakuan dari Psiologi dan Psikologi Sosial – Part 1

1. SIKAP
Sikap adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan untuk memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang.
Komponen Sikap
Sikap disusun oleh komponen teori, emosional, dan perilaku. Komponen teori terdiri atas gagasan, persepsi, dan kepercayaan seseorang mengenai penolakan sikap. Komponen emosional atau afektif mengacu pada perasaan seseorang yang mengarah pada objek sikap. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana satu kekuatan bereaksi terhadap objek/sikap. Ketiga komponen sikap:
Pengertian (cognition),
pengaruh (affect), dan
perilaku (behavior).
Susunan sikap yang dipandang berdasarkan ketiga komponen tersebut membantu untuk memahami kerumitan sikap dan hubungan potensial antara sikap dan perilaku.
Fungsi Sikap
Sikap memiliki empat fungsi utama: pemahaman,kebutuhan akan kepuasan, defensif ego, dan ungkapan nilai. Pemahaman atau pengetahuan berfungsi untuk membantu seseorang dalam memberikan maksud atau memahami situasi atau peristiwa baru. Sikap juga melayani suatu hal yang bermanfaat atau fungsi kebutuhan yang memuaskan. Sikap juga melayani fungsi defensif ego dengan melakukan pengembangan guna melindungi manusia dari pengetahuan yang berlandaskan kebenaran mengenai dasar manusia itu sendiri atau dunianya. Sikap juga melayani fungsi nilai ekspresi.
Sikap dan Konsistensi
Orang-orang mengusahakan konsistensi antara sikap-sikapnya serta antara sikap dan perilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha untuk menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan menyelaraskan sikap dengan perilaku mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan konsisten.


Formasi Sikap dan Perubahan
Formasi sikap mengacu pada pengembangan suatu sikap yang mengarah pada suatu objek yang tidak ada sebelumnya. Perubahan sikap mengacu pada substitusi sikap baru untuk seseorang yang telah ditangani sebelumnya. Sikap dibentuk berdasarkan karakter faktor psikologis, pribadi dan sosial. Hal pokok yang paling fundamental mengenai cara sikap dibentuk sepenuhnya berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi terhadap suatu objek, yaitu pengalaman yang menyenangka maupun tidak, traumatis, frekuensi kejadian, dan pengembangan sikap tertentu yang mengarah pada gambaran hidup baru.
NILAI
Nilai secara mendasar dinyatakan sebagai suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas dan lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan dengan suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanaan.
Arti Penting Nilai
Dalam mempelajari perilaku dalam organisasi, nilai dinyatakan penting karena nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap serta motivasi dan karena nilai memengaruhi sikap manusia.seseorang memasuki organisasi dengan gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya.
Nilai dan Dilema Etika
Permasalahan profesi akuntansi sekarang ini banyak dipengaruhi masalah kemerosotan standar etika dan krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para akuntan untuk lebih berbenah diri, memperkuat kedisiplinan mengatur dirinya dengan benar, serta menjalin hubungan yang lebih baik dengan para klien atau masyarakat luas. Misal: skandal Enron yang melibatkan Arthur Anderson, serta skndal Worldcom, Merck, dan Xerox, profesi akuntan menjadi gempar.
Ihksan menambahkan cara yang lebih baik dan ideal dalan mengatasi dilema ini adalah dengan mempertimbangkan kecukupan dari kesempatan yang ada selanjutnya memberikan reaksi terhadap apa yng menjadi kekawatiran di dalamnya.
RISET EMPIRIS SIKAP
Teori Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap dapat membantu untuk memprediksikan pendekatan yang paling efektif. Sikap, mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan dan keadaan.

Teori Pertimbangan Sosial
Teori pertimbangan sosial ini merupakan suatu hasil perubahan mengenai bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek dan bukannya hasil perubahan dalam memercayai suatu objek. Teori ini menjelaskan bahwa manusia dapat menciptakan perubahan dalam sikap individu jika mau memahami struktur yang menyangkut sikap orang laindan membuat pendekatan setidaknya untuk dapat mengubah ancaman.
Konsistensi dan Teori Perselisihan
Teori konsistensi menjaga hubungan antara sikap dan perilaku dalam ketidakstabilan, walaupun tidak ada tekanan teori dalam sistem. Teori perselisihan adalah suatu variasi dari teori konsistensi.
Teori Disonansi Kognitif
Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori Disonansi Kognitif. Teori ini menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku. Disonansi dalam hal ini berarti adanya suatu inkonsistensi. Festinger mengatakan bahwa hasrat untuk mengurangi disonansi akan ditentukan oleh pentingnya unsur-unsur yang menciptakan disonansi itu, derajat pengaruh yang diyakini dimiliki oleh individu terhadap unsur-unsur itu, dan ganjaran yang mungkin terlibat dalam disonansi. Teori ini dapat membantu kecenderungan untuk mengambil bagian dalam perubahan sikap dan perilaku.

2. Motivasi

Teori motivasi

Teori ini memiliki pengaruh terhadap kedua jenis perilaku. Asumsi terpenting dari bentuk teori Harzberg adalah faktor yang mempnyai pengaruh positif dalam motivasi dan menjadi bahan perbedaan yang menyenangkan dari seluruh pengaruh negatif.

Faktor-faktor ini meliputi:
kebijakan perusahaan
kondisi pekerjaan
hbungan perseorangan
keamanan kerja dan gaji.

Faktor motivasi meliputi:
prestasi
pengakuan
tantangan pekerjan
promosi
tanggung jawab
Semua ini bertujuan untuk menungkatkan kepuasan kerja dan kepuasan motivasi.
Selain itu, Haezberg juga menjelaskan bahwa hasil riset yang dilakukannya terhadap 200 responden yang terdiri atas akuntan dan insinyur menunjukkan bahwa terdapat dua hal yang terkait dengan kepuasan dan motivasi, ke dua faktor tersebut yaitu :

1. sejumlah kondisi kerja ekstrinsik, kondisi ini disebut dengan faktor ketidak puasan atau faktor higiene karena kondisi atau faktor-faktor tersebut minimal dibutuhkan untuk menjaga agar ketidak puasan tidak terjadi
2. sejumlah kondisi kerja instrinsik

TEORI KEBUTUHAN DAN KEPUASAN

Teori ini menjelaskan bahwa masing-masing individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat mempengaruhi perilaku mereka Teori kebutuhan ini pada praktisnya merupakan bagian-bagian dari teori kebutuhan psikologis yang akan didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan lain jika tidak dijumpai. Secara psikologis, kebutuhan merupakan syarat dasar untuk memenuhi kebutuhan fisik, seperti makan, minum, perlindungan, dan sebagainya, yang disebut dengan kebutuhan dsar utama (primary basic need).

Terdapat 5 hierarki kebutuhan manusia yang telah dijabarkan oleh maslow yaitu:
1. Kebutuhan fisiologis
2. kebutuhan akan keamanan
3. kebutuhan social
4. kebutuhan akan penghargaan
5. kebutuhan akan aktualisasi diri

TEORI HARAPAN

Teori harapan disebut juga teori valensi atau teori instrumentalis. Ide asra dari teori ini adalah bahwa motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan dieroleh seseorang sebagai akibat dari tindakannya. Variabel-variabel kunci dalam teori harapan adalah :

Usaha (effort)
Hasil (income)
Harapan (expectancy)

Instrumen-instrumen yang berkaitan dengan hubungan antara hasil tingkat kedua, hubungan antara hasil tingkat pertama dan hasil tingkat kedua, hubungan antara prestasi dan imbalan atas pencapaian prestasi, serta valensi yang berkaitan dengan kadar kekuatan dan keinginan seseorang terhadap hasil tertentu.





Teori prestasi

Teori ini dugunakan untuk menjawab permasalahan yang berhubungan dengan teori kebutuhan dan kepuasan yang memiliki suatu faktor hierarki yang memotivasi perilaku. Yaitu terdapat 3 faktor :

1. prestasi
2. kekuatan
3. afiliasi
yang didalamnya terdapat banyak kekakuan.

Menurut riset yang dilakukan oleh Mclellend memberikan hasil bahwa terdapat tiga karakteristik dari orang yang memilki kebutuhan prestasi yang tinggi dan dalam riset tersebut Mclellend menemikan bahwa uang tidak begitu penting peanannya dalam meningkatkan prestasi kerja bagi mereka yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi. Orang yang memilki kebutuhan orestasi yang rendah tidak akan berprestasi baik dengan maupun tanpa insentif keuangan.

Teori keadilan

Dalam teori keadilan, kunci ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang individu adalh jika orang tersebut membadingkannya dengan lingkungan lainnya. Teori keadilan secara umum merupakan bentuk dasar dari konsep hubungan pertukaran sosial.

Ketidak adilan dibagi menjadi dua bentuk dan keduanya diakibatkan dari peran motivasi yang merugikan satu sma lain. Teori ini menggambarkan kenyataan bahwa pembayaran-pembayaran relatif tidak mutlak menjadi perhitungan yang mempunyai pengaruh kuat.

Teori ERG

Teori ERG (existence, relatedness, growth) menganggap bahwa kebutuhan manusia memiliki 3 hierarki kebutuhan yaitu :

1. kebutuhan akan eksistensi
2. kebutuhan akan keterikatan
3. kebutuhan akan pertumbuhan

teori ERG mengandung suatu dimensi frustasi-regresi. Frustasi (halangan)dapat mendorong ke suatu kemunduran yang lebih rendah.

Teori ERG lebih konsisten dengan pengetahuan kita mengenai perbedaan individual di antara orang-orang. Secara keseluruhan teori ERG menyatakan suatu versi yang lebih valid dibandingkan dengan hierarki kebutuhan.
Teori Motivasi dan Aplikasinya
Terdapat keyakinan bahwa perilaku manusia ditimbulkan oleh adanya motivasi. Dengan demikian, ada sesuatu yang mendorong (memotivasi) seseorang untuk berbuat sesuatu.
Teori Motivasi Awal
Tiga teori spesifik dirumuskan selama kurun waktu tahu 1950-an. Ketiga teori ini adalah teori hierarki kebutuhan,teori X dan Y, dan teori motivasi higiene. Teori-teori ini bersifat awal karena: 1) teori-teori ini mewakili suatu dasar dari mana teori-teori kontemporer berkembang, dan 2) para manajer mempraktikkan penggunaan teori dan istilah-istilah ini untuk menjelaskan motivasi karyawan secara teratur.

RISET EMPIRIS DAN MOTIVASI

Konstruk kepuasan kerja yang digunakan mengacu pada teori motivasi dari maslow yang dikembangkan ke dalam kepuasan kerja oleh porter berdasarkan kategori sekuriti, self actualization, social, autonomy dan esteem, serta tambahan kategori non specific need yaitu compensation.

Ivancevinch dan atrawser menambahkan riset tersebut dengan membandingkannya pada akuntan lain. Mereka mengoperasikan akuntan publik dengan akuntan pada posisi manajer dari berbagai industri dan subjek yang diteliti.

Metode

Subjek merupakan akuntan publik dengan pembagian hierarki level puncak dan menengah pada KAP besar. Pada studi pertama, data sepenuhnya berasal dari akuntan publik yang berada di KAP pada studi kedua, data akuntan manajer untuk studi kedua diambil dari hasil studi porter (1962).

Studi Mitchell dan Moudgill

Sama halnya dengan studi strawser dan koleganya yang melakukan identifikasi terhadap hierarki kebutuhan tetapi mereka melengkapinya dengan studi asisiasi. Instrumen pengukuran tersusun atas24 item sebagai hasil pengembangan dan diskusi panel 3 kelompok ahli dengan anggota masing-masing 3 orang per kelompok.

Studi harrel dan stahl

Harrel dan stahl memandang bahwa meskipun literatur menyarankan perlunya mempertimbnagkan oientasi terhadap lingkungan kerja, tidak ada riset yang secara tegas mengkaji hubungan antar need for affiliation dan need for power dengan kepuasan kerja.
Dalam perkembangan hipotesisnya, harrel dan stahl menggunakan faktor ”kemampuan individu dalam mengatasi lingkungan” sebagai proksi bagi needs for power.

Hipotesis

Harrel dan stahl memandang bahwa individu yang menunjukkan kemampuan untuk megatasi lingkungan organisasi cenderung untuk tetap berada lebih lama dalam organisasi. Individu tersebut sangat mungkin untuk mengalami kepuasan kerja yang tinggi. Karenanya, power needs akuntan profesional memiliki hubungan positif dengan tingkat kepuasan kerja.

Dalam kaitannya dengan kepuasan kerja, 2 hipotesis yamg diajukan :

H1: need for affiliaction partner atau manajer berhubungan negatif dengan kepuasan kerja
H2: need for power partner atau manajer berhubungan positif dengan kepuasan kerja.

KOMITMEN ORGANISASIONAL DAN PROFESIONAL

1. KOMITMEN ORGANISASIONAL
1.2 DEFINISI
adalah konsep komitmen organisasional didasarkan pada premis bahwa individual membuat suatu keterikatan terhadap organisasi. Secara historis, komitmen oranisasional merupakan perspektif yang bersifat keperilakuan dimana komitmen diartikan sebagai perilaku yang konsisten dengan aktifitas. Aliran atudinal yang berorientasi efektif dan berakhir dari pemikiran kanter yang menyatakan bahwa komitmen merupakan suatu kemauan dari actor social untuk memberikan enerji dan loyalitas kepada organisasi, serta sebagai keterikatan efektif individual terhadap kelompok, komitmen dipandang bukan merupakan prilaku tetapi merupakan suatu sikap.
Ada tiga factor spikologis, diantaranya adalah:
a. Keinginan yang kuat untuk menjadi anggota organisasi tertentu.
b. Keinginan untuk berusaha sekuat tenaga demi organisasi
c. Kepercayaan yang pasti dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan organisasi.
Ketiga perspektif tersebut memandang bahwa komitmen organisasional bersifat unidimensi. Dalam perkembangannya, perspektif utitudinal memandang bahwa komitmen organisasional bersifat multimensi dan tersusun atas:
• Affective commitment
• Continuance commitment
• Normative commitment

1.2 INSTRUMEN PENGUKURAN
Instrumen pengukuran komitmen organisasi sengat beragam, mulai dari perspektif keperilakuan, atitudinal, sampaiberbagi ngukuran menurut pwrspektif multidimensi. Bagian ini hanya menguraikan beberapa instrument popular yang sering digunakan dalam pengukuran komsep komitmen organisasi.
Ada beberapa perspektif didalam instrument pengukuran, antara lain:
o Perspektif keperilakuan
o Perspektif atitudinal
o Perspektif multidimensi

2. KOMITMEN PROFESIONAL
2.1 DEFINISI
Komitmen professional didefinisikan sebagai kekuatan relative dari indentifikasi individual dengan, keterlibatan dalam, suatu profesi dan termasuk keyakinan dan penerimaan tujuan-tujuan dan nilai-nilai profesi, kmauan untuk berupaya sekuat tenaga demi organisasi, dan keinginan menjaga keanggotaan dari suatu profesi.

2.2 INSTRUMEN PENGUKURAN
Sebagai hasil apatasi dari instrument komitmen organisasional yang dikemukakan oleh porter dengan mengganti kata “organisasional” pada komutmen organisasi dengan kata “profesional”. Instrument ini merupakan instrument paling popular dan mungklin hanya satu-satunya instrument yang secara khusus mengukur komitmen professional.

3. RISET EMPIRIS KOMITMEN ORGANISASIONAL VS KOMITMEN PROFESIONAL
Pertanyaan awal dan mendasar pada instrument pengukuran kedua konsep ini adalah: apakah kedua jenis instrument tersebut mngukur konsep yang sama? Dengan kata lain apakah kedua jenis instrument tersebut sama atau berbeda? Pertanyaan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa:
1. Secara konspentual, hanya berbeda kata professional dan organisasional: dan
2. Instrument komitmen organisasional.
Beberapa hasil studi tersebut diuraikan sebagai berikut.

 Studi Aranya dan Koleganya
 Studi Brierley
 Studi Bline et al
 Studi Morrow dan Wirth

4. RISET EMPIRIS EKSISTENSI MULTIMENSI KOMITMEN ORGANISASIONAL
Dalam seting non-akuntansi, meyer dan koleganya mendemonstasikan keberadaan model dua dan tiga dimensi komitmen organisasio. Meskipun demikian, beberapa kritik muncul bahwa dimensi-simensi komitmen organisasional versi meyer dan koleganya mengandung duplikasi. Selai duplikasi pada normative commitmen keberadaannya dalam literature kurang mendapat dukungan, studi terhadap normative commitmen digolongkan kedalam studi tentang effective commitmen. Studi yang mengaju eksistensi dalam seting akuntansi cukup langka. Para peneliti akuntansi nampaknya secra priori menerima dang menggunakan konsep komitmen, baik unidimensi maupun multidimensi.

STUDI KETCHAND DAN STRAWSET
Secara tradisional, komitmen organisasional dipandang sebagai konsep yang unidimensi. Temuan temuan lanjutan menunjukkan bahwa komitmen organisasional sekurang-kurangnya terdiri atas dua dimensi, yaitu dimensi affective commitment dan dimensi continuance commitment. Studi lanjutan dari McGee dan ford (1987) menunjukkan bahwa continuance commitment tersusun atas dua fenomena berbeda, yaitu high sacrifice commitment dan low alternative commitment.

Temuan-temuan
• Validitas konfergen
• Validitas diskriminan
• Hubungan dengan konsep lain


STUDI SETIAWAN DAN GHOZILA
Setiawan dan ghozali mereplikasi studi ketchand dan strawser (1998)Namun melakukan modifikasi pada dimensi-dimensi komitmen organisasional. Kedua peneliti tersebut mengembangkan multidimensi komitmen organisasi meyer et al. (1993) yang membagi komitmen ke dalam dimensi-dimensi affective commitment, continuance commitment dan normative commitment.
Temuan-temuan
o Model dasar
Peneliti tidak menetapkan berapa jumlah factor yang diperlukan

o Model dua factor
analisis dua factor mengindikasikan bahwa item continuance tergolong pada seluruh item affective commitment secara eksklusif berada dalam satu kelompok

o Model tiga factor
Metode tiga factor juga menegaskan keberadaan model tiga dimensi. Ssebagian besar item mengelompok kedalam dimensi-dimensi affective commitment, continuance commitment, normative commitment.

o Korelasi antar dimensi
Terdapat korelasi positif antara affective commitment dan normative ommitmentnal

o Hubungan dengan turnover intention
Untuk menguji validitas dimensi – dimensi komitmen organisasi, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi apakah dimensi dimensi tersebut memiliki pengaruh terhadap turnover

5. RISET EMPIRIS KORELASI DAN KORELASIONAL
Bagian ini menempatkan komitmen organisasional atau professional sebagai konsep yang memiliki hubungan dengan konsep lainnya namun, kajian tetap menempatkan focus pada konsep komitmen. Dalam hal ini, para peneliti secara a priori menerima keberadaan konsep komitmen
5.1 Aranya ET AL
Mengkaji komitmen profesinal akuntan pada berbagai hirarki organisasi. Model yang diajukan Aranya yakni mengasumsikan bahwa komitmen profesional dipengarui olek komitmen organisasional, konflik profesional organisasional Dan kepuasan terhadap ganjaran atau kompensasi keuangan dan level organisasi sebagai moderator

5.2 Studi Dean ET AL
Riset Dean et al, ditunjukan untuk menginvestigasi pengaruh ORS terhadap sikap intensi dan perilaku akuntan profesioanal. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa jika organisasi dapat mengelola pengaruh ORS terhadap pegawai secara efektif, organisasi dapat meningkatkan kemampuan untuk mempertahankan pegawai dan mendorong kinerja pegawai

5.3 Studi Ferris
Studi ferris beranjak dari inkonsistensi hasil hasil riset yang menempatkan konsep komitmen sebagai determinan kinerja pegawai. Pada satu sisi, hubungnan antara konsep itu pada dasrnya tergantung pada kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas. Pada sisi lain komitmen organisasional juga memiliki dua determinan penting yaitu karakteristik personal dan karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan.

5.4 Studi Stallworth
studi mengikuti ketchand dan strawser ( 1998 ) yang menginvestigasikan kegunaan konsep multidimensioal komitmen organisasional dalam lingkungan akuntan publik. Studi ini dirancang untuk memeberikan kontribusi terhadap literatur komitmen organisasional dengan memasukan anteseden dan konsekwensi pada masing masing dimensi komitmen.

Konsep Keperilakuan dari Psiologi dan Psikologi Sosial – Part II

PERSEPSI
Persepi adalah bagaimana orang-orang melihat atau menginterpretasikan peristiwa, objek, serta manusia. Orang-orang bertindak atas dasar persepsi mereka dengan mengabaikan apakah persepsi itu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Definisi persepsi yang formal adalah proses dengan mana seseorang memilih, berusaha, dan menginterpretasikan rangsangan ke dalam suatu gambaran yang terpadu dan penuh arti.
Para manajer dan akuntan perilaku harus mengembangkan persepsi yang akurat dari orang-orang dengan siapa mereka berhadapan. Perbedaannya adalah bahwa mereka merasa menjadi kunci kelompok dalam menghasilkan suatu keberhasilan atau kegagalan operasi.

Rangsangan Fisik vs Kecenderungan Individu
Orang-orang merasakan dunia ini dengan cara yang berbeda karena persepsi bergantung pada rangsangan fisik dan kecenderungan individu tersebut. Rangsangan fisik adalah input yang berhubungan dengan perasaan, seperti penglihatan dan sentuhan. Kecenderungan individu meliputi alasan, kebutuhan, sikap, pelajaran dari masa lalu, dan harapan.
Empat factor lain yang berhubungan dengan kecenderungan individu adalah keakraban, perasaan, arti penting, dan emosi. Akhirnya, status emosional seseorang dapat memengaruhi persepsi. Persepsi dapat berbeda tergantung pada apakah orang tersebut merasakan kenikmatan dan keselamatan setiap hari atau justru merasa bahwa hari-hari yang tidak baik, apakah orang tersebut merasa tertekan atau gembira, dan seterusnya.

Pilihan, Organisasi, dan Penafsiran Rangsangan
Persepsi sebagaimana tersebut di atas, adalah proses dalam pemilihan, pengorganisasian, dan penginterpretasian rangsangan. Manusia hanya mampu merasakan sesuatu yang kecil dan membagi semua rangsangann tersebut kearah yang diarahkan olehnya. Dengan demikian, manusia bisa merasa bimbang atau tidak bimbang dalam memilih apa yang di persepsikan.

Apa yang dipilih untuk merasakan sesuatu secara khas tergantung pada rangsangan yang dialami, harapan, dan alasan dari individu yang bersangkutan. Sifat dasar rangsangan meliputi hal-hal, seperti faktor atribut fisik dan desain, serta bertentangan dengan rangsangan lainnya.

Persepsi telah disimpangkan dengan cara menerima stereotip, memercayai informasi dari sumber yang diterima, bersandar pada kesan pertama, kemudian melompat ke kesimpulan. Persepsi dapat juga disimpangkan dari suatu kesalahan logis di mana kesan awal tentang seseorang dibentuk hanya berdasarkan pada pengetahuan atas satu karakteristik.

Keterkaitan Persepsi bagi Para Akuntan
Para akuntan perilaku dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap banyak aktivitas organisasi. Misalnya saja, dalam evaluasi kinerja, cara penilaian atas seseorang mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi si penyelia. Kesalahan atau bias penilaian mungkin diakibatkan oleh sandiawara yang mencoba untuk menakut-nakuti, sehingga karyawan merasa tidak puas dan pada akhirnya meninggalkan perusahaan. Oleh karena itu, para penyelia perlu mengenali perasaan mereka terhadap para bawahan.

Risiko selalu ada dalam mengambil keputusan bisnis. Para manajer dalam membuat keputusan dipengaruhi oleh risiko yang mereka rasakan dan tingkat toleransi mereka terhadap risiko.

Kesalahan persepsi dapat juga mendorong kearah ketergantungan hubungan antar pribadi karyawan. Ketika interaksi dilihat sebagai sesuatu yang menegangkan, seorang penyelia perlu menentukan penyebab terjadinya peristiwa bisnis yang dipandang secara berbeda oleh orang-orang yang berbeda.

Pelajaran
Pola teladan berpikir dan bertindak bahwa orang-orang membawa dengan nya kepada lingkungan pekerjaan, persepsi, dan motivasi. Pelajaran adalah proses dengan mana perilaku baru diperoleh. Itu terjadi ketika hasil motivasi, pengalaman, dan pengulangan sebagai jawaban atas stimuli tertentu atau situasi.

Kombinasi motivasi ini pengalaman, dan pengulangan terjadi dua yang formal: pengaruh keadaan klasik dan operant pengaruh keadaan.

Pengaruh keadaan klasik
Pavlov mengamati bahwa anjing akan mengeluarkan air liur tidak hanya ketika makanan telah ditempatkan mulut mereka, tetapi juga ketika mereka mengamati makanan. Makanan adalah suatu stimulus tidak dikondisikan yang menyebabkan suatu perilaku refleks untuk terjadi. Perilaku tidak dikondisikan tidaklah terpelajar.

Operant Pengaruh Keadaan
Di dalam pengaruh keadaan klasik adalah suatu stimulus netral diikuti oleh suatu penghargaan, yang menghasilkan suatu tanggapan. Setelah pengulangan banyak orang, stimulus yang netral oleh diri akan mengakibatkan tanggapan yang sama.

Pelajaran prinsip telah diberlakukan bagi banyak orang sasaran hasil organisasi. Umpan balik dan penguatan positif, dalam wujud pengenalan, bonus, dan lain penghargaan, telah digunakan untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi perputaran dan ketidakhadiran, dan karyawan buatan lebih peka akan kebutuhan pelanggan hukuman, atau sanksi negative telah digunakan kea rah akhir serupa.

Tingkah laku accountans dan para manajer perlu menguji kebijakan perusahaan dan memeriksa prosedur untuk menentukan apakah penghargaan dan hukuman dengan baik digunakan untuk mendorong perilaku diinginkan.


Kepribadian
Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologis yang bagian dalam yang menentukan dan mencerminkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap lingkungannya. Kepribadian cenderung untuk menjadi konsisten dan kronis. Suatu individu malu akan mungkin penguasaan orang akan mungkin tinggal penguasaan untuk periode waktu lama.

Konsep kepribadian dan pengetahuan tentang komponennya adalah penting sebab mereka memungkinkan kita untuk meramalkan perilaku. Aplikasi teori kepribadian yang utama didalam organisasi adalah didalam meramalkan perilaku. Kekuatan tes-tes kepribadian mungkin menentukan siapa yang akan bersifat paling efektif stressful pekerjaan.


Ringkasan
Didalam bab ini yang kita uji sebagian dari area yang utama didalam psikologi dan psikologi sosial dan membahas konsep utama yang mencakup sikap dan perubahan sikap, motivasi, persepsi, pelajaran, dan kepribadian. Kita kemudian menerapkan sistem teoritis ke akuntansi tingkah laku dan kepada pertimbangan tingkah laku didalam organisasi.